KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Ikhlas dalam Zakat dan Shadaqah

Ikhlas dalam zakat dan shadaqah adalah memurnikan niat dan tujuan dalam mengeluarkan rezeki yang diberikan Allah pada seorang hamba, semata-mata untuk menaati perintah dan mencari keridhaan Allah SWT. Jadi hamba yang ikhlas dalam berzakat dan shadaqah, sedikitpun tidak ada niat dan tujuan lain selain keridhaan Allah.

Zakat sendiri menurut bahasa berarti kesuburan, keberkahan, dan pensucian. Zakat adalah perintah Allah pada kaum muslimin dengan mengeluarkan harta dari pemiliknya pada orang yang berhak, untuk membersihkan seluruh hartanya, sesuai firmannya :

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.“ (QS. AL-Baqarah : 43)

“Ambillah shadaqah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan do’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui.“ (QS. AT-Taubah : 103)

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena disatu pihak ia merupakan bentuk pelaksanaan amal manusia sebagai makhluk sosial, dan di lain pihak mendorong dinamika manusia untuk berusaha mendapatkan karunia Allah di muka Bumi. Zakat dan shadaqah adalah satu prinsip hidup seorang muslimin yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, agar menjadi hamba Allah yang dermawan, sesuai sabda beliau :

“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.“ (Hadist)

Artinya hidup memberi itu lebih baik dari pada meminta. Berderma dari sebagian harta yang Allah karuniakan kepada hamba adalah perilaku mulia yang sangat di sukai Allah SWT. Allah akan memberi pertolongan, rahmat dan kemenangan bagi hamba-hambanya yang mengeluarkan zakat dan shadaqahnya dengan penuh keikhlasan, dan hal tersebut tercermin dari niat yang bersih dari-Nya dan bersih dari rasa terpaksa.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya, dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena-Nya kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah, dan hari kemudian, maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu di timpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“ (QS. AL-Baqarah : 264)

Sungguh sia-sia orang yang bersedekah dan berzakat dengan tujuan riya’. Mengeluarkan harta untuk menyombongkan diri, mencari pujian manusia, mencari popularitas, ingin disebut dermawan. Sungguh merugi manusia yang tidak ikhlas dalam berzakat dan bershadaqah. Karena amalnya bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu di timpa hujan lebat, maka menjadi bersihlah batu tersebut dari tanah. Tanah di atas batu itu perumpamaan amal, dan batu yang kembali licin akibat hujan itu ibarat amal hamba yang beramal disertai riya’, sungguh sia-sia dan tak ada gunanya. Dan Allah, tidak menyukai orang-orang yang riya serta menyombongkan diri, sesuai firmannya :

“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (36) (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan (37) dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena-Nya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya (38).“ (QS.AN-Nisaa’: 36-38)

Zakat adalah sarana untuk membersihkan harta dan mensucikan diri. Tetapi bila itu dilakukan dengan tujuan-tujuan selain Allah, apalagi digunakan sebagai sarana untuk menyombongkan diri dihadapan Allah. Maka sia-sialah amalnya, lebih dari itu, Allah akan menghukum mereka yang sombong dan membanggakan diri, dengan siksaan yang menghinakan.

Shadaqah adalah amal yang sangat dimuliakan, apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan. Dapat menimbulkan kasih sayang dan rasa setia kawan terhadap kaum muslim, memperkecil jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Dan kaum muslim, diperintahkan oleh Rosullullah untuk bershadaqah dalam keadaan apapun sesuai sabdanya:

“Atas tiap-tiap mukmin, shadaqah.”Para sahabat bertanya.”Bagaimana keadaan orang-orang yang tidak mempunyai harta?” Nabi menjawab.” Dia bekerja, lalu memberi manfaat kepada dirinya dan bersadaqah.” Para sahabat bertanya pula, ”jika ia tidak dapat bekerja sebagai yang di maksudkan?” Nabi menjawab, “ia memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.” Para sahabat bertanya lagi, “ Jika ia tidak dapat demikian?.” Nabi menjawab,”Hendaklah ia mengerjakan yang makruf, menahan dari kejahatan, karena yang demikian itu sadaqah baginya.” ( H.R Bukhari )

Shadaqah tak harus berbentuk harta saja, bagi kaum muslimin yang diuji Allah dalam kesempitan, shadaqah tetap bisa dilakukan dengan mengerjakan yang makruf, dan menahan diri dari berbuat kejahatan. Dan sangatlah penting memurnikan amal dengan memfokuskan niat dan tujuannya hanya untuk Allah saja, tanpa pamrih, niatan-niatan yang terselubung.

Ibnu ATHA ILLAH, menjelaskan dalam Al-Hikam:

“Jangan menuntut imbalan atas suatu amal yang pelakunya bukan dirimu sendiri. Cukuplah balasan Allah bagimu jika dia menerima amal itu.” ”Bila engkau menuntut imbalan atas suatu amal, pasti engkau pun akan dituntut untuk tulus dalam melakukannya. Dan bagi yang merasa belum sempurna, cukuplah bila ia telah selamat dari tuntutan.”

Keikhlasan beramal sejati, terkait dengan tauhid. Yakni keyakinan bahwa semua aspek kehidupan dan wujud berasal dari-Nya (Allah). Maka, balasan tertinggi amal perbuatan kita adalah, kesadaran kita terhadap sang sumber, dan kehadiran Allah dalam setiap amal perbuatan seorang hamba. Artinya ketika hamba Allah menzakatkan atau menshadaqahkan sebagai rezekinya untuk mereka yang berhak, hakikatnya ia hanyalah perantara pemberi pada saudara-saudaranya yang membutuhkan (fakir miskin). Rezeki yang ia keluarkan, hanyalah amanah dan titipan Allah padanya, agar ia terhindar dari penyakit tamak (rakus) dan kikir atas segala karunia yang Allah berikan kepadanya. Dan mereka-mereka yang bershadaqah dengan ikhlas, jangan takut kalau hartanya akan habis. Sebab Allah berjanji dalam firmannya, apabila hamba Allah menanamkan satu kebaikan, maka Allah akan membalas kebaikan hambanya itu sepuluh kali lipatnya.

Tampak Seperti Wujudmu

Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.

"Oh kasih yang agung.
Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.
Segala yang tampak oleh mataku.
Tampak seperti wujud-Mu."

Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"

Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten, "Tampak seperti wujudmu."

Al Waahid (Maha Tunggal)

Allah Maha Tunggal, tidak terdiri atas bagian-bagian. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dia berbeda dari apa pun di dunia ini. Dia tidak bersosialisasi atau bergabung dengan manusia (menyendiri). Allah adalah penguasa tunggal, tidak ada yang dapat menandingi-Nya. Jika bersama Allah, kita tidak akan butuh siapa pun. Namun, meskipun kita bersama orang banyak atau siapa pun, pasti kita tetap membutuhkan Allah. Itulah Allah Al Waahid.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. [Q.S. Al Baqarah: 163]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Waahid:

1. Menjauhkan diri dari kebiasaan bermuka dua karena hal tersebut adalah syirik yang terselubung.
2. Tidak mempersekutukan sesuatu atau seorang pun selain Allah karena hanya Dia yang wajib kita sembah.
3. Selalu mengagungkan-Nya dengan memperbanyak zikir.

Kesimpulan:

Allah adalah penguasa tunggal dan tiada sesuatu pun yang dapat menyaingi kekuasaan-Nya atau pun sekedar menyamai-Nya. Allah adalah Dzat yang unik dan berbeda dengan zat apa pun.

Kuda Birdlaun

Nauf dari golongan Hawariyyin ingin menjumpai Raja Faris untuk berdakwah, tetapi bagaimana caranya. Itulah perkara pelik yang dihadapinya dalam mengajak raja itu untuk beriman kepada Allah.

Nauf tak kurang akal, ia nekad menghadap sang raja. Cara apapun akan ditempuh demi dakwah agamanya. Ketika dia memasuki pintu gerbang kerajaan ia melihat anak-anak kecil bermain dadu. Yang berhasil memenangkan permainan berhak memperoleh 40 dirham uang.

Meski nauf tergolong orang tua, dia ikut nimbrung bermain dadu dengan anak-anak itu. Tentu saja ia unggul dalam permainan itu. Bahkan ia berhasil mengalahkan anak seorang menteri. Karena merasa terpikat dengan permainan Nauf, anak menteri itu mengajak Nauf ke rumahnya.

“Mintalah izin dulu kepada Ayahmu, boleh tidak aku datang ke rumahmu?”, kata Nauf. Setelah pulang menemui ayahnya yang menteri itu, anak kecil berkata, “Ayahku telah mengizinkan anda datang ke rumahku. Ayolah berangkat bersamaku”, ajaknya.

Kesempatan baik itu tidak disiasiakan, dituruti ajakan anak kecil itu menghadap sang menteri. Begitu memasuki istana sang menteri, Nauf membaca kalimat “basmallah” untuk mengusir setan yang menghuni rumah sang menteri. Maklum, sang menteri dan keluarganya tak beriman kepada Allah.

Celakanya, ketika tuan rumah menyuguhkan lampadan, syaitan-syaitan itu kembali berdatangan menyantap makanan itu. Dengan bacaan basmallah, Nauf mengusir setan itu kemudian menyantap makanan yang disuguhkan sang menteri. Syaitan-syaitan tak berani datang kerumah ikut menyantap makanan karena bacaan basmallah itu.

Seizin saya

Usai menyantap makanan sang menteri yang terkesan atas keajaiban terusirnya syaitan-syaitan dari rumahnya itu menanyakan kepada tamunya.

“Aneh, syaitan-syaitan itu tak lagi berani tinggal di rumah ini setelah ada kamu. Siapakah engkau ini sebenarnya?”, tanya sang menteri keheranan.

“Hamba sanggup menceritakan tetapi ada syaratnya”, ujar Nauf.

“Syarat apa itu?”

“Tuan tak boleh menceritakan kepada orang lain tanpa seizin saya. Bisakah tuan memenuhinya?”.

“Baiklah, aku menyanggupi”, ujar menteri. Kemudian Nauf menceritakan bagaimana syaitan-syaitan itu ketakutan dan lari dari rumah itu. “Sesungguhnya nabi Isa telah mengutus aku agar mengajak rajamu serta tuan sendiri menyembah Allah masuk Islam. Masuklah tuan dan raja tuan ke dalam agama Islam dan tidak mengenyekutukan kepada-Nya. Tinggalkan kebiasaan tuan menyambah patung-patung itu karena itu Cuma perbuatan syaitan”, kata Nauf.

Atas tutur kata Nauf, sang menteri menjadi tertarik dan ingin mengerti lebih jauh.

“Coba kau tunjukkan sifat-sifat Tuhanmu itu”, pintanya

“Dia adalah Allah yang Maha Tunggal, tiada Tuhan selain Dia, Dialah yang menciptakan tuan dan memberi rizki, Dialah yang menghidupkan tuan dan mematikannya”, ujar Nauf.

“Benar juga kata Nauf ini”, gumam sang menteri dalam hati. Sejak itu, sang menteri mengikuti agama yang didakwahkan Nauf tetapi ia tak berani melakukannya secara terang-terangan. Ia memeluk agama Islam secara diam-diam hanya untuk dirinya sendiri.

Kuda mati

Suatu hari, sepulang menghadap sang raja, menteri itu sedih bermuram durja. Nauf yang menyaksikan lalu bertanya.

“Mengapa kali ini tuan bersedih?”, tanya Nauf.

“Sang raja telah kehilangan sesuatu. Kuda yang disayangi melebihi harta bendanya yang lain telah mati. Raja tak pernah mengendarai kuda selain kuda itu. Dia amat sedih ditinggal mati kuda kesayangannya”, jawab menteri itu.

“Katakan kepada raja tuan bahwa tuan mempunyai tamu. Jika raja tuan mau mengikuti apa yang kukatakan, aku sanggup menghidupkan kembali kuda kesayangannya itu”, kata Nauh

Maka menghadaplah menteri itu kepada rajanya dan menceritakan tawaran Nauf tamunya. “Jika raja mau mematuhi ucapannya, tamu saya sanggup menghidupkan kuda raja atas izin Allah”, kata menteri itu. “Baiklah, syarat apapun kusanggupi asal benar-benar bisa menghidupkan kembali kuda kesayanganku”, jawab raja. Maka diajaklah Nauf menghadap raja, dan tak lupa ketika memasuki istana raja itu Nauf membaca basmallah untuk mengusir syaitan di dalamya.

“Hai orang tua. Aku mendengar cerita dari menteriku bahwa kau sanggup menghidupkan kudaku yang telah mati. Kini segera hidupkan kuda Birdlaunku”, kata raja.

“Aku sanggup raja, asalkan tuan juga sanggup mematuhi apa yang kuminta”, kata Nauf.

“Bisa. Apapun yang kau minta akan kutaati”, kata raja meyakinkan.

“Apakah tuan mempunyai anak?”, tanya Nauf.

“Aku hanya mempunyai ayah dan istri, lain itu tidak. Jelasnya aku tak mempunyai anak seorang pun”, tegasnya.

“Panggil ayah dan istri tuan kemari”, pinta Nauf yang kemudian dituruti sang raja. Setelah ayah dan istri datang menghadap, Nauf masih meminta lagi kepada sang raja. “Panggil semua rakyatmu kemari”, pintanya lagi. Karena sudah terlanjur menyanggupi permintaan dan demi kesayangannya terhadap kudanya, raja memenuhi permintaan Nauf. Diperintahkan kepada menterinya untuk memanggil seluruh rakyatnya berkumpul di istana. Ketika semua rakyat sudah berkumpul, Nauf lalu memegang satu kaki kuda Birdlaun yang sudah mati itu sambil mengucapkan kalimah “laa ilaaha ilallah”. Atas izin Allah kuda yang telah mati itu lalu bergerak-gerak.

“Tuan Raja, tolong ayah, istri dan tuan sendiri memegangi kuda ini”, pinta Nauf. Ketiganya lalu menuruti apa yang diminta Nauf dengan masing-masing memegangi satu kaki kuda Birdlaun. “Kini ucapkanlah kalimat seperti yang kuucapkan tadi”, pinta Nauf. Secara berturut-turut mulai dari raja, ayahnya, dan istrinya mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah sambil memegangi kaki kuda itu. Atas izin Allah ketiga kaki kuda itu bergerak mengikuti satu kaki kuda lainnya yang sudah digerakkan oleh Nauf.

“Kini empat kaki kuda itu sudah bergerak, tinggal menggerakkan tubuhnya. Coba perintahkan semua rakyatmu untuk mengucapkan kalimah itu jika menghendaki tubuh kuda bergerak”, pinta Nauf. Atas perintah rajanya, semua rakyat yang berkumpul  di istana itu mengucapkan kalimah Laa ilaaha ilallah sehingga atas izin Allah pula kuda Birdlaun raja semula telah mati itu hidup kembali.

Dari peristiwa itulah Nauf menjelaskan kepada raja dan rakyatnya bahwa hanya karena izin Allah yang maha tunggal segalanya bisa terjadi. Karena itu, hendaklah raja dan kaumnya menyembah kepada Allah dan meninggalkan kebiasaan menyembah patung-patung. Sejak itu raja dan rakyatnya meninggalkan agama lamanya dan masuk agama Islam. Nauf berhasil menunaikan misi dakwahnya.

Kewajiban Mengingkari/Memberantas Kemungkaran

عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – قال : قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول - من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه و ذلك أضعف الإيمان - رواه مسلم
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”.
[Muslim no. 49]

Muslim meriwayatkan Hadits ini dari jalan Thariq bin Syihab, ia berkata : Orang yang pertama kali mendahulukan khutbah pada hari raya sebelum shalat adalah Marwan. Lalu seorang laki-laki datang kepadanya, kemudian berkata: “Shalat sebelum khutbah?”. Lalu (laki-laki tersebut) berkata: “Orang itu (Marwan) telah meninggalkan yang ada di sana (Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam)”. Abu Sa’id berkata: “Adapun dalam hal semacam ini telah ada ketentuannya. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: ‘Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman’“. Hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan semacam itu belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelum Marwan.

Jika ada yang bertanya: “Mengapa Abu Sa’id terlambat mencegah kemungkaran ini, sampai laki-laki tersebut mencegahnya?” Ada yang menjawab: “Mungkin Abu Sa’id belum hadir ketika Marwan berkhutbah sebelum shalat. Lelaki itu tidak menyetujui perbuatan tersebut, lalu Abu Sa’id datang ketika kedua orang tersebut sedang berdebat. Atau mungkin Abu Sa’id sudah hadir tetapi ia merasa takut untuk mencegahnya, karena khawatir timbul fitnah akibat pencegahannya itu, sehingga tidak dilakukan. Atau mungkin Abu Sa’id sudah berniat mencegah, tetapi lelaki itu mendahuluinya, kemudian Abu Sa’id mendukungnya”.
Wallaahu a’lam.

Pada Hadits lain yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam Bab Shalat Hari Raya, disebutkan bahwa Abu Sa’id menarik tangan Marwan ketika ia hendak naik ke atas mimbar. Ketika keduanya berhadapan, Marwan menolak peringatan Abu Sa’id sebagaimana penolakannya terhadap seorang laki-laki seperti yang dikisahkan pada Hadits di atas, atau mungkin kasus ini terjadinya berlainan waktu.

Kalimat “hendaklah ia merubahnya (mencegahnya)” dipahami sebagai perintah wajib oleh segenap kaum muslim. Dalam Al Qur’an dan Sunnah telah ditetapkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ini termasuk nasihat dan merupakan urusan agama. Adapun firman Allah :
“Jagalah diri kamu sekalian, tidaklah merugikan kamu orang yang sesat, jika kamu telah mendapat petunjuk”. (QS. Al Maidah : 105)

tidaklah bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan, karena paham yang benar menurut para ulama ahli tahqiq adalah bahwa makna ayat tersebut ialah jika kamu sekalian melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, maka kamu tidak akan menjadi rugi bila orang lain menyalahi kamu.
Hal ini semakna dengan firman Allah :
“Seseorang tidaklah menanggung dosa orang lain”. (QS. 6 : 164)

Dengan demikian, amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dibebankan kepada setiap muslim, jika ia telah menjalankannya, sedangkan orang yang diperingatkan tidak melaksanakannya, maka pemberi peringatan telah terlepas dari celaan, sebab ia hanya diperintah menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar, tidak harus sampai bisa diterima oleh yang diberi peringatan. Wallaahu a’lam.

Kemudian, amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan perbuatan wajib kifayah, sehingga jika telah ada yang menjalankannya, maka yang lain terbebas. Jika semua orang meninggalkannya, maka berdosalah semua orang yang mampu melaksanakannya, terkecuali yang ada udzur. Kemudian ada kalanya menjadi wajib ‘ain bagi seseorang. Misalnya, jika di suatu tempat yang tidak ada orang lain yang mengetahui kemungkaran itu selain dia, atau kemungkaran itu hanya bisa dicegah oleh dia sendiri, misalnya seseorang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran atau kurang dalam melaksanakan kewajibannya.

Para ulama berkata: “Tanggung jawab amar ma’ruf dan nahi mungkar itu tidaklah terlepas dari diri seseorang hanya Karena ia beranggapan bahwa peringatannya tidak akan diterima. Dalam keadaan demikian ia tetap saja wajib menjalankannya. Allah berfirman :
“Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin”. (QS. 51 : 55)

Telah disebutkan di atas bahwa setiap orang berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi tidak diwajibkan sampai peringatannya itu diterima.
Allah berfirman :
“Tiadalah kewajiban bagi seorang Rasul melainkan hanya menyampaikan peringatan”. (QS. 5 : 99)

Para ulama berkata : “Orang yang menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar tidaklah diharuskan dirinya telah sempurna melaksanakan semua yang menjadi perintah agama dan meninggalkan semua yang menjadi larangannya. Ia tetap wajib menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar sekalipun perbuatannya sendiri menyalahi hal itu. Hal ini Karena seseorang wajib melakukan dua perkara, yaitu menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Jika yang satu (amar ma’ruf nahi mungkar kepada diri sendiri) dikerjakan, tidak berarti yang satunya (amar ma’ruf nahi mungkar kepada orang lain) gugur”.

Para ulama berkata: “Tugas amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak hanya menjadi kewajiban para penguasa, tetapi tugas setiap muslim”. Yang diperintahkan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah orang mengetahui tentang apa yang dinilai sebagai hal yang ma’ruf atau mungkar. Bila berkaitan dengan hal-hal yang jelas, seperti shalat, puasa, zina, minum khamr, dan semacamnya, maka setiap muslim wajib mencegahnya karena ia sudah mengetahui hal ini. Akan tetapi, dalam perbuatan atau perkataan yang rumit dan hal-hal yang berkaitan dengan ijtihad yang golongan awam tidak banyak mengetahuinya, maka mereka tidaklah punya wewenang untuk melakukan nahi mungkar. Hal ini menjadi wewenang ulama. Dan para ulama hanya dapat mencegah kemungkaran yang sudah jelas ijma’nya. Adapun dalam hal yang masih diperselisihkan, maka dalam hal semacam ini tidak dapat dilakukan nahi mungkar, sebab setiap orang berhak memilih salah satu dari dua macam paham hasil ijtihad. Sedang pendapat setiap mujtahid itu dinilai benar sesuai keyakinannya masing-masing. Inilah pendapat yang dipilih oleh sebagian besar ulama tahqiq. Pendapat lain mengatakan bahwa yang benar itu hanya satu dan yang salah bisa banyak, tetapi mujtahid yang salah itu tidak berdosa. Sekalipun demikian, dinasihatkan supaya kita menjauhi persoalan yang diperselisihkan. Hal ini adalah satu sikap yang baik. Kita dianjurkan untuk melaksanakan nahi mungkar ini dengan santun.

Syaikh Muhyidin berkata : “Ketahuilah bahwa sejak lama amar ma’ruf nahi mungkar ini oleh sebagian besar orang telah diabaikan. Pada masa-masa ini hanyalah tinggal dalam tulisan yang amat sedikit, padahal ini merupakan hal yang amat besar peranannya bagi tegaknya urusan umat dan kekuasaan. Apabila perbuatan-perbuatan buruk merajalela, maka orang-orang shalih maupun orang-orang jahat semuanya akan tertimpa adzab. Jika orang yang shalih tidak mau menahan tangan orang yang zhalim, maka nyaris adzab Allah akan menimpa mereka semua. Allah berfirman:
“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul-Nya khawatir tertimpa fitnah atau adzab yang pedih”. (QS. 24 : 63)

Oleh karena itu, sepatutnya para pencari akhirat dan orang yang berusaha mendapatkan keridhaan Allah memperhatikan masalah ini. Hal ini karena kemanfaatannya amat besar, apalagi sebagian besar orang sudah tidak peduli, dan orang yanng melakukan pencegahan kemungkaran tidak lagi ditakuti, karena martabatnya yang rendah. Allah berfirman:
“Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya”. (QS. 22 :40)

Oleh karena itu, ketahuilah bahwa pahala itu diberikan sesuai dengan usahanya dan tidak boleh meninggalkan nahi mungkar ini hanya karena ikatan persahabatan atau kecintaan, sebab sahabat yang jujur ialah orang yang membantu saudaranya untuk memajukan kepentingan akhiratnya, sekalipun hal itu dapat menimbulkan kerugian dalam urusan dunianya. Adapun orang yang menjadi musuh ialah orang yang berusaha merugikan usaha untuk kepentingan akhiratnya atau menguranginya sekalipun sikapnya seperti dapat membawa keuntungan duniawinya.

Bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar seyogyanya dilakukan dengan sikap santun agar dapat lebih mendekatkan kepada tujuan. Imam Syafi’i berkata: “Orang yang menasihati saudaranya dengan cara tertutup, maka orang itu telah benar-benar menasihatinya dan berbuat baik kepadanya. Akan tetapi orang yang menasihatinya secara terbuka, maka sesungguhnya ia telah menistakannya dan merendahkannya”.

Hal yang sering diabaikan orang dalam hal ini, yaitu ketika mereka melihat seseorang menjual barang atau hewan yang mengandung cacat tetapi ia tidak mau menjelaskannya, ternyata mereka tidak mau menegur dan memberitahukan kepada pembeli atas cacat yang ada pada barang itu. Orang-orang semacam itu bertanggung jawab terhadap kemungkaran tersebut, karena agama itu adalah nasihat (kejujuran), maka barang siapa tidak mau berlaku jujur atau memberi nasihat, berarti ia telah berlaku curang.

Kalimat “hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya”, maksudnya hendaklah ia mengingkari perbuatan itu dalam hatinya. Hal semacam itu tidaklah dikatakan telah merubah atau melenyapkan, tetapi itulah yang sanggup ia kerjakan. Dan kalimat “demikian itu adalah selemah-lemah iman” maksudnya ialah –Wallaahu a’lam– paling sedikit hasilnya (pengaruhnya).

Orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar tidaklah punya hak untuk mencari-cari, mengontrol, memata-matai, dan menyebarkan prasangka, tetapi jika ia menyaksikan orang lain berbuat mungkar, hendaklah ia mencegahnya. Al Mawardi berkata: “Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar tidaklah punya hak untuk menyebarkan praduga atau memata-matai, kecuali memberitahukan kepada orang yang bisa dipercaya”. Bila ada seseorang yang membawa orang lain ke tempat sunyi untuk dibunuh, atau membawa seorang perempuan ke tempat sunyi untuk dizinai, maka dalam keadaan semacam ini, bolehlah ia memata-matai, mengawasi dan mengintai karena khawatir terdahului oleh kejadiannya.

Disebutkan bahwa kalimat “demikian itu adalah selemah-lemah iman” maksudnya ialah hasilnya (pengaruhnya) sangat sedikit. Tersebut dalam riwayat lain:
“Selain dari itu tidak lagi ada iman sekalipun sebesar biji sawi”.

Artinya selain dari tiga macam sikap tersebut tidak lagi ada sikap lain yang ada nilainya dari segi keimanan. Iman yang dimaksud dalam Hadits ini adalah dengan makna islam.

Hadits ini menyatakan bahwa orang yang takut pembunuhan atau pemukulan, ia terbebas dari melakukan pencegahan kemungkaran. Inilah pendapat para ulama ahli tahqiq zaman salaf maupun khalaf. Sebagian dari golongan yang ekstrim berpendapat bahwa sekalipun seseorang takut, tidaklah ia terbebas dari kewajiban mencegah kemungkaran.

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan

Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, "Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus."

Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu:

1. Gelar  Taqwa

Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.

"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS al-Baqarah: 183) Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

a. Jalan keluar dari semua masalah. Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini. "...Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath Thalaaq: 2) "...Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaaq: 4)

b. Dicukupi kebutuhannya dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...."(QS. Ath Thalaaq: 3)

c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati. Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan. "Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. al-A'raaf: 35)

2. Bulan pengampunan

Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni."

3. Pahalanya dilipatgandakan

Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya." (HR. Bukhari Muslim)

Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup

"Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu."(HR Muslim)

Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi.

Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

5. Ibadah istimewa

Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, "Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR Bukhari Muslim)

Menurut Quraish Shihab, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur'an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.

Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

6. Dicintai Allah

Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, "Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya." (HR Bukhari)

7. Do'a dikabulkan

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo'a apabila dia berdo'a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku." (QS. al-Baqarah: 186)

Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo'a tapi sebenarnya tidak berdo'a. Yaitu do'anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? "maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku."

Benar, berdo'a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, "Tiga do'a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do'anya orang teraniaya. Allah mengangkat do'anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. 'Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang." (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do'a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo'a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan do'anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa'nya?

Jadi do'a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do'a.

8. Turunnya Lailatul Qodar

Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur'an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.

Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, "Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang."

Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur'an menyatakan, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan / kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan, "Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, 'Ambil barang itu!' Ada bisikan lain berkata, 'Jangan ambil, itu bukan milikmu!' Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat." Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan

Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum).

Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenerasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan

Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah... rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya' Allah, menjadikan hidup lebih bermakna.

"Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya." (HR. Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyaan

"Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup." (HR. Bukhari)

12. Minum air telaganya Rasulullah saw

"Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain.

Mereka (para sahabat) berkata, 'Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.' Beliau berkata, 'Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu. Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telaga dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

13. Berkumpul dengan sanak keluarga

Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman.

Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, "Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!" (HR. Bukhari)

14. Qaulan tsaqiilaa

Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur'an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya' dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih.

Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur'an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur'an memang sumber pengetahuan dan ilham.

Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

15. Hartanya tersucikan

Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya.

Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.

Sumber: Puslitbang Daarut Tauhiid

Al-Malik (Maha Menguasai / Maha Memiliki)

Al Malik, semua hal dalam genggaman-Nya

Dalam riwayat Muslim diceritakan, ketika meninggalnya putera Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, Ummu Sulaim tidak langsung memberi tahu suaminya yang baru pulang dari bepergian. Ketika suaminya datang, ia segera menghidangkan makanan, kemudian diajaknya bergurau, hingga terjadilah hubungan intim.

Kemudian setelah Abu Thalhah merasa puas barulah ia berkata, ”Hai Abu Thalhah bagaimana pendapatmu kalau seseorang meminjamkan sesuatu kepada satu keluarga, tiba-tiba diminta kembali pinjamannya itu, apakah boleh keluarga yang dipinjami menolak?” Abu Thalhah menjawab, ”Tidak boleh.” Berkata Ummu Sulaim, ”Relakan puteramu kepada Allah.” Maka marahlah Abu Thalhah sambil berkata, ”Mengapa kau sembunyikan berita itu hingga saya berlumuran begini baru kau beri tahu?”

Setelah itu Abu Thalhah memberitahukan kepada Rasulullah SAW segala kejadian malam itu. Rasulullah SAW berdoa, ”Semoga Allah memberkahi kamu berdua dalam harimu itu.” Kemudian mengandunglah Ummu Sulaim dari hubungan intim malam itu. Di kemudian hari, anaknya itu menikah dan dikaruniai sembilan orang anak yang semuanya hafal Alquran.

Dijelaskan oleh salah satu pengajar Ma’had Abu Bakar Ash Shidiq, Sukoharjo, Ustad Shoheh Al Hasan Lc, kisah di atas merupakan pelajaran bagi seorang muslim agar senantiasa rida atas segala keputusan Allah SWT. ”Jika manusia rida akan keputusan-Nya, Allah SWT pun rida terhadap manusia itu. Hal ini sebagaimana keridaan Allah SWT kepada para sahabat nabi,” ujarnya seraya mengutip salah satu firman Allah SWT, ”Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar,” (QS Al Maidah: 119).

Keridaan seorang muslim atas segala keputusan Allah SWT, terangnya, merupakan bukti pengakuannya akan sifat Allah Al Malik, raja di atas raja yang bersifat mutlak. Jika dirunut dari akar katanya, malik berasal dari kata malaka, yammiku yang berarti memiliki dan menguasai.

”Dengan demikian Al Malik artinya bahwa Allah SWT itu Maha Menguasai dan Maha Memiliki. Dia yang memulai, Dia pula yang meniadakan, Dia yang menghidupkan, Dia pula yang mematikan, hanya Allah SWT yang berkuasa memberikan siksa dan pahala. Sedangkan lainnya adalah obyek. Allah SWT yang menciptakan manusia, Dia pula yang akan mematikan manusia,” urainya.

Karena Allah SWT yang memiliki segalanya, ujar Shoheh, Dia pula yang berhak mengatur segalanya. Sehingga ketika seorang muslim kehilangan anaknya karena telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dia tidak boleh memprotes Allah SWT, karena anak adalah milik-Nya. ”Hanya Allah SWT yang berhak memutuskan suatu hal, tak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi keputusan-Nya,” jelasnya.

Jika Allah SWT adalah pemilik segalanya, lanjutnya, ia yang berhak melarang dan memerintahkan sesuatu, dan pada saatnya nanti Dia akan memberikan kemuliaan kepada orang yang berhak. Hal ini telah ditegaskan dalam firman-Nya, ”Katakanlah, ’Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS Ali Imran: 26).

Dalam ayat lainnya secara tegas Allah SWT berfirman, ”Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan,” (QS Al Hasyr: 23).

Sifat asmaul husna Al Malik, menurut Shoheh, mengandung pelajaran agar seorang manusia tidak sombong atas semua yang ia miliki, karena pada hakikatnya semua adalah milik Allah SWT. ”Demikian halnya ketika manusia diuji dengan kesulitan, manusia harus rida dan tidak gelisah, yakinlah bahwa semua hal ada dalam genggaman-Nya. Jika kita rida, Insya Allah akan diberikan balasan yang lebih baik,” terangnya.

Intinya, tegas Shoheh, manusia harus selalu bersyukur atas semua hal yang ia peroleh dan bersabar ketika menerima ujian. ”Salah satu wujud syukur yakni menggunakan apa yang telah dikaruniakan Allah SWT, untuk berjuang di jalan-Nya. Jika diberikan harta melimpah, gunakan harta itu untuk menolong agama Allah SWT dan membantu kaum duafa,” ungkapnya.

Sumber: http://keyza19.multiply.com/journal/item/19/Telaah_Asmaul_Husna_Al_Malik

Al Maajid (Maha Mulia)

Nama Allah Al Maajid ini menunjukkan Dzat Allah berada di segala puncak kemuliaan, kebesaran, keindahan, keagungan, ketinggian, dan kesempurnaan. Segala kemuliaan hanya milik Allah. Dialah sesembahan yang hanya satu, tidak ada yang dapat menandingi kemuliaan-Nya.

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Mereka (para malaikat) berkata, "Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih." [Q.S. Hud: 73]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Maajid:

1. Tidak memperlakukan orang lain dengan buruk.
2. Berusaha menjadi seseorang yang baik hati, suka berderma, penuh dengan kemuliaan, dan berakhlak mulia.
3. Tidak menegur dengan cara keras kepada orang lain yang berbuat keliru.
4. Berlomba-lomba dalam mencari kemuliaan demi Allah semata.

Kesimpulan:

Dzat Allah Maha Mulia. Segala perbuatan Allah mulia, indah dan sempurna. Segala kemuliaan hanya milik Allah dan kemuliaan berasal dari Allah.

Ingin Masuk Surga Sendiri

Inilah contoh seorang yang egois, ingin masuk surga sendiri tanpa memikirkan orang lain. Abu Yasid Al Busthami adalah seorang yang dikenal rajin bermunajat kepada Allah karena ingin masuk surga. Hatinya suka cita, pikirannya seolah-olah melayang sampai ke arasy Tuhan. Hati kecilnya berbisik, inilah tempat Rasulullah, semoga aku kelak menjadi tetangganya di surga.

Ketika dia sadar dalam khayalannya, terdengar suara menyeru. “Ada seorang hamba yang kelak menjadi tetanggamu di surga. Ia tinggal di negeri ini”, kata suara itu.

Terdorong ingin mencari sahabatnya yang kelak menjadi tetangganya di surga, Abu Yasid pergi mencari hamba yang disebutkan itu. Ia berjalan kaki sejauh 100 farsah hingga sampai ke sebuah negeri tempat hamba yang disebutkan itu.

Ketika ia akan menjumpai hamba itu, seorang lelaki menasehatinya. “Mengapa engkau mencari orang yang fasiq dan peminum arak itu. Padahal dari tanda-tanda di dahimu kau adalah seorang yang shaleh”, ujarnya.

Mendengar nasihat itu, hati Yasid jadi termangu. “Jika demikian, suara yang menyuruhku saat aku bermunajat itu adalah suara syaitan. Mengapa aku harus menurutinya”, bisiknya di dalam hati. Tetapi ketika dia akan melangkahkan kaki untuk kembali, hatinya termangu lagi. “Aku datang jauh-jauh kemari untuk menemui hamba itu, padahal aku belum berjumpa. Aku tak akan pulang sebelum bertemu dia”, bisiknya dalam hati.

“Di mana tempat hamba itu”, tanya Yasid.

“Dia sekarang sedang mabuk-mabukan di tempat ini”, ujar lelaki itu. Maka melangkahlah kaki Yasid menemui hamba yang disebutkan itu. Benar juga, di tempat itu ia melihat 40 lelaki sedang mabuk-mabukan minum khamr sementara hamba yang dicarinya itu tampak duduk-duduk di tengah mereka.

Ini bagianmu

Begitu melihat kenyataan yang kontras dari apa yang disangka sebelumnya, Abu Yasid Al Busthami cepat membalikkan kaki pulang meninggalkan mereka. Ia merasa kesal dan berputus asa, tetapi hamba itu cepat-cepat memanggilnya.

“Hai Abu Yasid mengapa engkau tak jadi masuk rumah ini. Tidakkah engkau jauh-jauh datang kemari hanya karena ingin menjumpaiku. Katanya engkau mencari seorang tetanggamu di surga kelak?”, ujar lelaki itu.

Mendengar ucapan hamba itu, hati Abu Yasid menjadi masygul. Ia tak habis pikir bagaimana hamba itu mengetahui maksud kedatangannya padahal ia belum menyampaikan isi hatinya.

“Engkau begitu cepat meninggalkan rumah ini tanpa mengucapkan salam, tanpa perjumpaan dan memberi nasehat”, kata hamba itu lagi yang menambah hati Yasid terpukul.

Dalam keadaan hati yang galau Abu Yasid tak bisa mengucapkan kata-kata di hadapan hamba itu. Mulutnya terkunci, tetapi ada pergulatan di dalam hatinya.

“Sudahlah Abu Yasid. Kau tak perlu banyak berfikir dan merasa heran. Yang menyuruhmu datang kemari telah memberitahukan kepadaku atas kedatanganmu. Ayo masuklah ke rumahku, duduklah barang sesaat”, ajak hamba itu. Dengan sedikit ragu Abu Yasid pun menurutinya masuk ke rumah dan duduk di antara mereka yang mabuk-mabukkan itu.

“Apa sih yang terjadi di rumah ini. Dan apa pula perananmu di sini”, tanya Abu Yasid.

“Hai Abu Yasid. Masuk surga jangan egois cuma ingin enaknya sendiri. Itu bukan sifat utama dan mulia dari seorang lelaki seperti engkau. Dulu ada 80 orang fasiq yang suka mabuk-mabukan seperti yang kau lihat ini. Kemudian aku berusaha membiarkan mereka agar bisa menjadi teman dan tetanggaku kelak di surga. Yang 40 sudah berhasil berhenti dari kefasiqan, kini tersisa 40 orang ini. Inilah tugasmu untuk membinanya untuk bertaubat agar bisa menjadi tetanggamu kelak di surga.

Bagai disambar petir hati Abu Yasid mendengar ucapan hamba itu. Hatinya luluh dan merasa terpanggil mengikuti jejak hamba itu. Dia bertekad harus bisa menyadarkan 40 orang fasiq itu sebagai tetangga kelak di surga.

Kepada 40 orang yang tengah mabuk-mabukan itu, si hamba itu mengenalkan bahwa orang yang datang itu adalah Abu Yasid Al Busthami. Dialah sahabat mereka yang akan mengajak bersama-sama menjadi penghuni surga. Dengan dakwah dan pembinaan khusus akhirnya 40 orang itu sadar dan bertaubat. Mereka itulah tetangga Abu Yasid di surga kelak.

Uzlah


“Tidak ada yang bisa memberikan manfaat kepada hati seperti yang diberikan oleh uzlah, yang digunakan untuk memasuki medan pemikiran atau perenungan.”

Jikalau hati sudah berkarat oleh dosa dan maksiat maka tidak ada cara lain untuk menjernihkannya, kecuali dengan uzlah yaitu menyendiri untuk beribadah kepada Allah s.w.t. Semakin ia bergaul dengan masyarakat, semakin besar kesempatannya untuk berbuat maksiat. Dan, semakin banyak maksiat yang dilakukannya, semakin hitam pula hatinya. Jikalau hati sudah hitam maka hidayah-Nya akan semakin jauh. Rasa keimanannya akan semakin menipis. Jikalau suatu hari ia meninggalkan shalat fardhu maka ia akan merasa biasa-biasa saja. Ia tidak merasa berdosa, tidak merasa ada sesuatu yang hilang dan belum dilaksanakan.

Perenungan yang dilakukan ketika uzlah akan bermanfaat untuk menghilangkan bekas-bekas hitam dan karat yang menempel di hati. Bekas itu tidak boleh dibiarkan bergitu saja, karena jikalau tidak dihilangkan maka pemiliknya akan kehilangan kenikmatan Islam. Akhirnya, ia akan mudah dituntun setan untuk meninggalkan agama yang hanif ini.

Iman itu berada di dalam hati, yang tidak boleh dikotori agar keimanan tetap bersih dan kokoh.

Al Waajid (Maha Menemukan)

Allah tidak membutuhkan sesuatu. Dia sangat sempurna. Dia menemukan siapa di antara hamba-Nya yang tidak berdaya. Dengan ilmu dan kekayaan-Nya, Allah mengambil langkah tepat untuk menolong hamba-Nya.

وَمَا وَجَدْنَا لأكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sebaliknya, yang Kami dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang benar-benar fasik. [Q.S. Al A'raf: 102]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Waajid:

1. Selalu yakin akan menemukan yang lebih baik ketika kehilangan sesuatu.
2. Segera mengambil langkah jika ada sesuatu yang harus segera diselesaikan.
3. Selalu yakin bahwa Allah menemukan kita di mana pun kita berada.
4. Tidak menyesali segala sesuatu yang terlepas dari tangan kita karena mungkin memang tidak diperuntukkan bagi kita.

Kesimpulan:

Allah selalu menemukan hamba-Nya di mana pun hamba-Nya berada dan dalam keadaan apa pun. Dia akan memberi sesuai dengan apa yang ia perbuat atau butuhkan.

Perisai Batu Wuquf

Seorang lelaki sedang melakukan ibadah wuquf di Padang Arafah. Di tangannya menggenggam tujuh batu sebagai kesaksian terhadap Allah dan Rasulnya.

Menjelang tidur lelaki itu mengucapkan kalimat syahadah, “Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”.

Dalam tidurnya ia bermimpi seakan hari kiamat telah datang. Dia dihisab dan dijatuhi hukuman masuk neraka.

Dalam mimpinya itu ia digiring malaikat masuk neraka. Malaikat bagian adzab sudah berusaha melempar lelaki itu ke neraka namun tak kuasa karena di tangan lelaki itu terdapat sebuah batu ketika melakukan wuquf.

Kemudian malaikat menggiringnya ke pintu neraka lain, lagi-lagi malaikat tak mampu melempar lelaki itu ke neraka. Batu yang digenggam di tangannya itu menjadi penghalang lelaki itu masuk neraka. Begitu seterusnya sampai tujuh pintu neraka tetap tertutup untuk lelaki itu.

Diceritakan dalam mimpinya itu, malaikat lalu menggiringnya ke bawah arasy. Malaikat melapor kepada Allah, “Ya Allah, kami tak berdaya melemparkan hamba-Mu yang satu ini ke neraka. Tentunya Engkau lebih tahu akan urusan hamba-Mu ini”, kata Malaikat.

Maka bersabdalah Allah kepada lelaki itu, “Hai hamba-Ku, batu-batu yang kau gunakan untuk besaksi dengan kalimat syahadat sewaktu engkau menjalankan ibadah wuquf itulah yang menolongmu. Ia tak menyia-nyiakan hakmu, bagaimana aku akan menyia-nyiakan hakmu? Aku juga menyaksikan syahadat itu. Malaikat, bawalah hamba ini ke dalam surga”, kata Allah.

Ketika malaikat membawa lelaki itu ke surga, pintunya sedang tertutup. Kemudian datanglah persaksian “Laa ilaaha illallah”, maka terbukalah pintu surga itu dan masuklah lelaki itu ke dalam surga.

Ikhlas dalam Puasa

Ikhlas dalam puasa adalah memurnikan niat dan tujuan dalam menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Puasa hamba yang ikhlas bukan sekedar menahan hawa nafsu, seperti makan, minum, dan bersetubuh. Tetapi ia juga harus menjaga penglihatannya, pendengarannya, penciumannya, pengecapnya dan perasaannya untuk tujuan lain selain kepada Allah SWT. Mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari seorang hamba menjaga ucapan, tindakan, dan perbuatannya hanya untuk Allah semata.

Dalam bahasa puasa (shiam) berarti menahan diri. Dalam syariat Islam, puasa berarti menahan diri dari segala yang membatalkannya (makan, minum, dan bersetubuh), mulai dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari yang dilaksanakan untuk mendapatkan ridho Allah. Sesuai firmannya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagai mana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah;183)

Puasa adalah bentuk pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya. Hamba yang puasa adalah hamba yang memenjara dan mengendalikan hawa nafsunya, mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, di waktu-waktu yang telah ditentukan Allah. Puasa adalah ibadah yang dapat mendisiplin ruhaniah seorang hamba. Rahasia keberhasilannya tergantung pada diri sendiri, karena puasa bukanlah semata-mata amalannya orang banyak. Yang dapat menilai kesempurnaan puasa seorang hamba, hanya dirinya sendiri dan Allah SWT. Karena itu, puasa sesungguhnya adalah amalan batin antara hamba dan Penciptanya.

Hamba Allah yang ikhlas dalam puasanya, akan mencapai derajat ketaqwaan di mata Allah, karena berhasil dan tidaknya ibadah puasa seseorang adalah pengekangan hawa nafsu duniawi, yang mendidik seorang insan untuk berbuat baik dan mulia, lalu menjauhi maksiat dan kemungkaran. Ibadah puasa yang tidak disertai keikhlasan dalam mencari keridhoan Allah, akan menjadi sia-sia dan tak ada nilainya di mata Allah. Sesuai sabda Nabi, “Betapa banyak orang berpuasa, hasilnya hanya lapar dan dahaga.“ (H.R. Bukhari)

Puasa itu untuk Allah, bukan untuk diet, atau sekedar menahan lapar dan dahaga. Tetapi menahan nafsu yang membatalkan dan mengurangi pahala puasa, seperti pandangan mata yang membawa maksiat, pendengaran yang hanya memfitnah orang lain, menyentuh wanita yang bukan mukhrimnya, berbohong, menipu, menghasut, menghujat, melecehkan, memarahi, hingga menghina orang lain. Puasa bukan untuk mencari kesaktian, penguasaan ilmu kebatinan tertentu, hingga ingin disebut sholeh. Apapun tujuan puasa selain Allah, akan sia-sia amalnya di mata Allah.

Puasa dengan ikhlas, adalah ciri-ciri hamba Allah yang bertaqwa. Dan semulia-mulianya manusia di antara manusia lain, adalah manusia-manusia yang bertaqwa.

Sesuai firmannya :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah, adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.“ (QS. AL-Hujurat : 13)

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa, karena kemenangan mereka. Mereka tiada disentuh oleh azab neraka dan tidak pula mereka berduka cita.“ (QS. AZ-Zumar : 61)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan membuat baginya jalan keluar (dari setiap masalah), serta memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.“ (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Keikhlasan hamba Allah dalam melaksanakan puasa, akan membuka jalannya mencapai derajat ketaqwaan. Seorang hamba yang bertaqwa kepada Allah, akan Allah angkat derajatnya, dan dijauhinya ia dari azab neraka, mereka juga tidak akan berduka cita. Orang-orang yang bertaqwa, akan selalu dimudahkan Allah dari segala ujian dan kesulitan hidup yang menimpanya. Segala keperluannya akan dicukupi, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.

Peranan ibadah puasa dalam membentuk pribadi-pribadi yang bertaqwa, amat sangat subtansial. Puasa adalah latihan-latihan untuk meningkatkan rasa syukur atas nikmat dan rahmat yang di karuniakan Allah kepadanya. Penderitaan dan pengorbanan berpuasa, akan menjadi pembersih diri dari dosa-dosa yang pernah dilakukan. Dan yang paling penting dalam kehidupan sosial, berpuasa dapat menumbuhkan rasa simpati dan solidaritas pada kelompok sosial masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan. Ikhlas dalam melaksanakan puasa, akan mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam kedekatan seorang hamba pada Allah SWT. Memperkuat keimanannya, buah dari kesabaran dalam mengendalikan diri dari perbuatan hawa nafsu.

Sesuai sabda Rasulullah SAW :

“Puasa adalah separuh kesabaran, dan sabar itu separuh iman.” (HR. Baihaqi)

Puasa yang ikhlas akan memperkuat kesabaran hamba Allah, dan kesabaran akan memperkuat keimanan sang hamba. Keimanan seorang hamba akan membawanya pada derajat ketaqwaan, yang akan memuliakannya disisi Allah. Merekalah orang-orang yang memperoleh kemenangan, dan sedikitpun mereka tiada disentuh oleh panasnya azab api neraka.

Sumber: Keajaiban Ikhlas - Muhammad Gatot Aryo Al-Huseini

40 Juta untuk Orangtua Berhaji

 وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtua.” (Q.S. Al Ankabuut: 8)

Siang itu saat i’tikaf di sebuah masjid di daerah Jendral Sudirman, Jakarta, datang seorang pria bernama Mucthar (bukan nama sebenarnya). Pria ini adalah orang berada, dari paras dan pakaian yang dikenakannya saya dapat menyimpulkan itu.

Setelah shalat Zhuhur, kami berbincang-bincang. Kami mencoba merenungi karunia apa yang pernah Allah s.w.t. limpahkan selama hidup.

Satu per satu orang mengutarakan karunia Allah yang ia rasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang shalih bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.

Satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah s.w.t. sangat sayang kepada setiap hamba-Nya. Namun, sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah s.w.t.

Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan.

“Tidak semua orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta,” menurutnya. “Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang,” lanjutnya. “saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp. 40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong, dan memang saat itu kami belum memiliki rumah. Kemudian saya usul kepada Istri, bahwa kedua orangtua kami belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta, kiranya berkenankah dia mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?” Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.

Selanjutnya, Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan, akhirnya sang istri menuruti usulnya. Proses ini tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, sehingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji kedua orangtua mereka.

“Namun saya bilang kepada istri, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orangtua. Pastilah Allah akan membayar kebaikan ini! Apalagi sesampainya di sana, orangtua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Saya jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!” Jelas Muchtar kepada istrinya.

Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp. 7 juta. Ditambah biaya bimbingan dan biaya hidup selama di tanah suci, maka kira-kira uang Rp. 40 juta itu cukup.

Muchtar dan istrinya kemudian mendaftar dan membayar biaya haji bagi kedua orangtua mereka.

***

Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan, ia bisa kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orangtua yang begitu berjasa atas kehidupan kita? Bukankah Allah akan ridha bila orangtua meridhai kita?

Hanya tiga bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu, orangtua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan ilahi.

“Saya gak sangka Pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp. 360 juta! Saya kaget dan teramat bersyukur kepada Allah s.w.t. Yang Maha Pemurah. Sesampainya di rumah, saya ceritakan hal tersebut kepada istri, dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah s.w.t. menepati janji-Nya,” jelas Muchtar.

Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya, sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orangtua. Allah memberi rumah yang lebih besar dari keinginan semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, oleh karena itu, perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orangtua!

Al Qayyuum (Maha Berdiri Sendiri)

Allah mampu hidup sendiri dan Dia Maha Mengatur dan memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya. Dia yang mengurus makhluk tanpa membutuhkan bantuan siapa pun. Allah mengatur segala yang ada di alam ini. Adanya malaikat yang melaksanakan perintah Allah bukan karena Allah membutuhkan bantuan. Akan tetapi, hal itu menunjukkan kekuasaan Allah atas malaikat dan semua makhluk. Sudah sepantasnya semua makhluk tunduk terhadap perintah-Nya.

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). [Q.S. Ali Imran: 2]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Qayyuum:

1. Memenuhi kebutuhan pribadi secara mandiri. Misalnya makan, mandi, tidur dan mempersiapkan bekal sekolah.
2. Berusaha sekuat tenaga dalam beribadah maupun bekerja sehingga tidak bergantung kepada orang lain.
3. Menyayangi dan merawat makhluk ciptaan Allah, hewan dan tumbuhan, dengan baik.
4. Tidak menggantungkan kepada selain Allah dalam memenuhi kebutuhan.

Kesimpulan:

Allah tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Bahkan, manusialah yang butuh Allah supaya dipenuhi kebutuhannya. Dia kekal abadi tanpa bantuan siapa pun. Allah ada dan wujud dengan sendirinya.