KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Ajaran Bederma

Suatu saat Dzun Nun Al-Mishri merenung di hutan, diikuti seorang murid setianya. Mereka mendapati seekor burung yang tiada bisa terbang karena sayapnya patah. Burung itu hanya bisa menggelepar-gelepar di tanah. Selang beberapa saat kemudian, datang burung yang lain membawakan makanan baginya. Burung yang patah sayapnya pun, tanpa perlu repot-repot mencari makanan, dapat makan kenyang berkat jasa kawannya.

Menyaksikan kejadian langka itu, si murid termenung dan berpikir keras untuk menggali pelajaran yang dapat dipetik. "Ternyata, tanpa harus berusaha mencari makanan sekalipun, kita dapat bertahan hidup berkat jasa orang lain. Alangkah rahmatnya Allah s.w.t. kepada setiap makhluk-Nya," simpulnya.

Sebagai waliyullah, Dzun Nun Al-Mishri bisa merasakan apa yang direnungkan oleh muridnya. Dia pun berkata padanya, "Seharusnya kamu tidak berpikir menjadi burung yang patah sayap itu. Tetapi, berpikirlah menjadi burung yang memberi makan, yang dapat menolong saudaranya."

Ucapan Dzun Nun Al-Mishri ini mengingatkan kita pada sabda Nabi s.a.w., "Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah (al-yadd al-'ulya khair min al-yadd al-sufla)" (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim ditambahkan, yang maksud tangan di atas (al-yadd al-'ulya) adalah pemberi sedekah (al-munfiqah) dan tangan di bawah (al-yadd al-sufla) adalah peminta atau penerima (al-saa'ilah).

Itulah ajaran Islam. Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjadi penderma dan penolong bagi yang membutuhkan. Ini tercermin misalnya dari ajaran zakat (QS Al-Baqarah [2]: 43, 83, dan 110; Al-Ahzaab [33]: 33; Al-Mujaadilah [58]: 13; dan lain-lain). Bahkan, zakat dijajarkan sebagai pilar rukun Islam. Ini menunjukkan, menolong orang yang membutuhkan mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.

Menarik lagi, seperti janji Allah s.w.t. dalam QS Saba' [34]: 39, kendati kita banyak bederma, itu tidak akan mengurangi harta kita. Allah s.w.t. akan mengganti dan malah menambahnya. Allah s.w.t. berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah s.w.t. akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baiknya pemberi rezeki."

Tetapi, di sisi lain, Allah s.w.t. juga menantang kita untuk mendermakan barang-barang yang paling kita cintai. Allah s.w.t. berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah s.w.t. mengetahuinya" (QS Ali 'Imraan [3]: 92).

Inilah tantangan yang berat bagi kita. Karena, mendermakan barang yang kita cintai membutuhkan kesadaran beragama yang baik dan pengorbanan yang tulus. Itulah tantangan dan ujian bagi orang beriman. Tinggal kita yang harus membuktikan bahwa kita termasuk orang yang berhak meraih gelar al-birr, melalui berbagai derma.

Harga Kebenaran

Seperti biasanya, Nasrudin memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."

Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?"

"Kalau engkau perhatikan," sahut Nasrudin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."

Ujian Allah


Tidak ada satu pun di muka bumi ini yang diciptakan sia-sia, tetapi dengan maksud tertentu. Pemahaman ini bergantung pada kecerdasan manusia sendiri. Bagi yang beriman, kecerdasan dan kebijaksanaannya meningkat; mereka dapat memahami alasan ini semakin baik dari waktu ke waktu.

Salah satu ajaran terpenting adalah bahwa kita selalu diuji sepanjang hidup kita. Allah menguji keikhlasan dan keimanan kita dalam kejadian-kejadian yang berbeda. Dia juga memberikan karunia untuk menguji apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah sebaliknya. Dia menciptakan berbagai kesulitan bagi kita untuk mengetahui apakah kita bersabar atau tidak, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (al-Anbiyaa: 35)

Kita juga diuji dengan berbagai cara. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an pada ayat,

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 155)

Kehidupan kita secara terencana merupakan materi untuk diuji. Mulanya, kita diuji melalui fisik kita. Al-Qur`an menyatakan, "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat."(al-Insaan: 2) Karena itu, setiap yang kita dengar dan lihat sebenarnya merupakan bagian dari ujian tersebut. Dalam segala situasi, kita akan diuji untuk melihat apakah kita berperilaku sesuai dengan Al-Qur`an ataukah dengan keinginan kita sendiri yang sia-sia.

Allah menguji ketabahan orang-orang beriman dengan berbagai kesulitan. Salah satunya adalah tekanan dari orang-orang ingkar. Semua tindakan buruk, seperti hinaan, ejekan, kekerasan, dan bahkan siksaan serta pembunuhan, hanyalah ujian untuk orang-orang beriman.

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (Ali Imran: 186)

Hal yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa semua kehilangan dan kecelakaan ini diciptakan Allah sebagai ujian khusus. Bagi mereka yang tidak paham, hal ini akan menjadikannya fasik. Al-Qur`an meriwayatkan kisah Yahudi,

"Dan tanyakanlah kepada bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik." (al-A'raaf: 163)

Hanya orang yang memiliki kecerdasanlah yang dapat menyadari ujian ini dan dapat berhasil dalam ujian dengan menggunakan kecerdasannya tersebut. Karena itu, seorang yang beriman jangan sampai lupa bahwa ia sedang diuji sepanjang hidupnya. Ujian ini tidak akan berlalu atau surga tidak dapat diraih hanya dengan mengatakan "saya beriman".

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (al-'Ankabuut: 2-3)

Dalam ayat lain dijelaskan,

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 142)

Al Wakiil (Maha Mengurus)

Hanya Allah yang pantas menyelesaikan segala persoalan kita. Allah mengurus segala urusan makhluk-Nya. Allah dapat melaksanakan segala hal tanpa ada yang bisa menghalangi. Misalnya, kamu menduduki jabatan tertentu dan mengutus seseorang untuk mewakilimu dalam suatu urusan. Tentunya kamu ingin urusan tersebut berhasil, bukan? Nah, hanya Allah yang dapat meluluskan permohonan dan permintaan kita. Dialah sebaik-baik yang mengurusi segala urusan.

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia; Dialah pemelihara sesuatu. [Q.S. Al An'am: 102]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Wakiil:

1. Melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan diniatkan untuk mencari ridha Allah.
2. Mengerjakan amanat sebaik-baiknya dan menjadi orang yang dipercaya.
3. Menghindari kemalasan karena Allah tidak menyukai orang yang malas.
4. Memasrahkan semua urusan (tawakal) kepada Allah setelah berusaha dan berdoa.

Kesimpulan:

Allah adalah Al Wakiil, Maha Mewakili atau Maha Mengurusi. Kita harus mewakilkan segala urusan hanya kepada Allah karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menghalangi jika kita mewakilkan segala urusan kepada Allah.

Refleksi Pesta Demokrasi

Putuskan Kasih Sayang

Seorang lelaki dikenal sangat giat beribadah. Sayangnya ia suka membuat orang putus asa terhadap kasih sayang Allah. Hal itu ia lakukan sampai menemukan ajalnya.

Dalam riwayat itu dikatakan, setelah lelaki itu mati lalu menuntut kepada Tuhan dari kekhusukan ibadah ibadahnya selama di dunia. “Tuhanku, apakah bagianku disisi-Mu?”

“Neraka”, jawab Allah

“Tuhan, lalu dimana balasan dari kerajinan ibadahku?”, tanya lelaki itu keheranan.

“Bagaimana bisa. Di dunia selalu engkau membuat orang berputus asa terhadap kasih sayang-Ku, maka hari ini Aku juga membuat engkau putus asa terhadap kasih sayang-Ku”, jawab Allah.

Sumber: 50 Kisah Nyata oleh Ahmad Najieh

Al Haqq (Maha Benar)

Allah pasti ada. Dia tidak mengalami perubahan dan tidak binasa. Oleh karena itu, hanya Dia yang berhak disembah. Allah Maha Benar karena segala yang bersumber dari-Nya pasti benar.

Kebenaran yang hakiki hanya milik Allah. Dia benar dalam segala hal. Berbeda dengan manusia yang sering berbuat tidak benar. Kadang kita merasa diri kita benar, tetapi sebenarnya salah. Sebaliknya, kita mengira teman kita salah, tetapi ternyata benar. Manusia memang memiliki keterbatasan. Jadi, jangan merasa diri kitalah yang paling benar.

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya maka tidak ada setelah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)? [Q.S. Yunus: 32]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Haqq:

1. Berucap dan bertindak dengan benar.
2. Menggunakan akal dan mata untuk memahami ayat-ayat Allah karena yang bersumber dari-Nya pasti benar.
3. Selalu mengingat Allah karena Dia Maha Benar.
4. Selalu membela yang benar.

Kesimpulan:

Kebenaran Allah meliputi segala hal, baik Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun wujud-Nya. Kebenaran Allah adalah hakiki dan mutlak.

Ikhlas dan Syukur


“(32.) Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (33.) Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (34.) Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 32-34)

Syukur adalah upaya mengingat seorang hamba, atas segala nikmat dan karunia yang di berikan Allah kepada diirinya. Begitu banyak nikmat dan karunia yang di berikan Allah kepada manusia mulai dari udara yang ia hirup, makanan yang ia makan, suara yang ia dengar, pandangan Alam Dunia dengan segala warna dan bentuk-bentuk yang ia lihat, hingga sentuhan menyejukkan, dan membahagiakan yang ia rasakan melalui interaksinya dengan sesama manusia, hewan-hewan, dan Alam Raya ini. Semua nikmat Allah itu tak dapat tergantikan, bahkan tak sedikit pujian yang harus seorang hamba panjat kapada sang Penciptanya, kalau sedikit saja mau merenungkan .

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

Rasa syukur hamba Allah yang ikhlas adalah  pemurnian niat dan tujuan hamba tersebut atas segala nikmat dan karunia Allah yang di anugrahkan kepadanya. Agar Dia selalu di ingat dan di puji, sebagai bentuk terima kasih seorang hamba, yang di implementasikan dalam bentuk ketaatan dan ketaqwaan pada Allah SWT. Seandainya manusia, menghitung-hitung nikmat Allah yang di berikan kepadanya, sungguh tak akan terhitung jumlahnya. Sungguh terlalu banyak nikmat dan  karunia yang Allah berikan pada seorang hamba, tetapi ia tidak menyadarinya. Terlalu banyak nikmat Allah yang diberikan pada hambanya, bahkan terkadang hal tersebut membuat ia lalai, menjauh dari Allah, sombong, bahkan terlalu cinta dan tergila-gila pada ciptan-ciptaan Allah ( Harta Benda, Wanita dan Kekuasaan).

Jika Allah telah menghendaki nikmat dan karunianya pada seorang hamba, jangan karunia tersebut membuat ia memalingkan diri dari Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Manusia yang tidak bersyukur, cenderung melupakan Allah jika ia di limpahi harta. Kenikmatan dan harta yang ia peroleh melalui usahanya, membuat manusia berpaling dari kepatuhan, dan ketaatannya kepada Allah. Hamba-hamba Allah yang sombong dan kufur, sesungguhnya mereka telah mengingkari nikmat Allah. Manusia tersebut adalah hamba-hamba yang dzalim, dan adzab Allah sangat pedih hamba-hamba tersebut!.

Akan tetapi hamba Allah yang  ikhlas dan bersyukur, dirinya senantiasa patuh dan tunduk atas segala perintah Allah. Ia sama sekali tidak terpesona dan terbudaki oleh  kekayaan yang Allah karuniakan kepadanya. Kesungguhan syukurnya itu, akan menambahkan karunia dan nikmat Allah kepada hamba tersebut, dan sedikitpun Allah tidak mengurangi nikmatnya.

Ia jadikan harta bendanya yang di karuniakan kepadanya sebagai alat untuk mencapai keridhoan Allah,  sebab ia adalah Hamba Allah. Dan kekayaannya adalah Hamba Manusia. Bukan sebaliknya, harta benda malah di jadikan Tuhannya manusia. Nikmat dan karunia Allah, adalah bukti kasih sayang Allah bagi hamba-hambanya di Dunia. Dan sebagai Hamba Allah, sudah sepantasnya lah  ia membalas dengan rasa syukur yang tak terhingga. Adakah pencipta lain selain Allah yang punya kekuatan memberikan rezeki pada manusia. “???”

Seperti keterangan firmannya:

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka  mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?.” (QS. Faathir : 3)

Hamba Allah yang ikhlas tidak akan terjebak oleh pentuhanan kepada ciptaan-ciptaan Allah. Karena segala sesuatu selain Allah itu tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat,  keuntungan atau kerugian, kebaikan atau kejahatan, memuliakan atau menghinakan, meninggikan atau merendahkan, mengkayakan atau memiskinkan, menggerakan atau mendiamkan. Karena segala sesuatu selain Allah yang di anggap Tuhan, sesungguhnya hanyalah ciptaan-ciptaan Allah, dan berada di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya Allah.

Segala sesuatu di Bumi ini tidak abadi dan akan punah, segala nya telah di tentukan oleh Allah. Apa yang telah di dahulukan, tidak dapat di akhirkan. Jika Allah hendak menimpakan bahaya kepada seorang hamba, maka tidak ada yang dapat mengelak bahaya tersebut selain Allah. Bagitupun sebaliknya bila Allah menghendaki karunia rezeki kepada seorang hamba, maka tidak ada yang dapat menghalangi karunia rezeki tersebut datang kepadanya, selain Allah.

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)

Jika hamba Allah ingin nikmat dan karunianya di tambahkan oleh Allah, maka bersyukurlah sebab dengan bersyukur, rezeki seorang hamba akan di tambahkan sesuai janjinya  dalam QS Ibrahim ayat 7. dan bagi hamba Allah yang mengingkari nikmat-nikmat Allah, sesungguhnya Allah Maha kaya dan Kekuasaannya meliputi segala sesuatu. Allah akan mencabut nikmat dan karunia bagi hamba-hamba yang kufur nikmat, dan tak ada kebahagiaan hidup bagi hamba tersebut. Apabila ia tidak bertobat, sesungguhnya azab Allah amat sangat pedih.

Di Zaman Nabi Musa AS, ada kisah menarik seputar persoalan syukur diantara umatnya yang Kaya dan yang Miskin. Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak, dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya, pakaiannya compang-camping, dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT doa ku ini, agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya?.” Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, "Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT." Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!".
 
Akhirnya si miskin itu pulang  tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini, agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.”

Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”

Mendengar jawaban Nabiulllah, si Kaya pun menjawab.

“Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja, dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya,” jawab si Kaya itu.

Akhirnya si Kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian yang terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaian pun yang melekat  di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT, akibatnya penderitaannya semakin berat.

Kisah tadi menjelaskan secara gamblang, bahwa Allah menganugrahi nikmat dan karunianya yang berlipat ganda pada hamba-hambanya yang bersyukur. Sedangkan bagi hamba-hamba Allah yang meragukan, bahkan mengingkari nikmatnya, maka Allah akan cabut nikmat yang ia berikan pada hamba tersebut, dan ia timpakan penderitaan hamba tersebut, lebih berat dari penderitaan yang biasa ia terima.

Karena itu, janganlah seorang hamba Allah muram, mengeluh, kecewa, tidak puas, tak terima, hingga menghujat, mengkritisi, dan menyalahkan Allah. Karena dirinya tidak puas dan kecewa atas anugrah nikmat, karunia kesenangan, dan kemewahan yang ia terima. Dan hamba tersebut bersikap seperti itu, lantaran ia menginginkan suatu yang lebih banyak dari rezeki yang telah ia dapatkan. Hamba tersebut secara langsung telah menutup mata atas limpahan nikmat yang di berikan Allah kepadanya, dengan tidak sopan menuduh bahwa Allah SWT bersikap tidak adil padanya.

Sungguh, sikap hamba tersebut tidak akan membuat Allah melimpahkan kekayaan padanya. Justru Allah akan murka dengan sikap hambanya tersebut, dan akan memutuskan nikmat juga keberkahan rezeki darinya. Walaupun ia hidup di gedung-gedung mewah, dengan istri-istri yang cantik, anak-anak yang manis rupawan, hingga nikmatnya makanan yang lezat, tapi itu semua bisa jadi bencana untuk hamba tersebut bila ia kufur nikmat.

Harta, istri, anak hingga makanan yang lezat tidak akan membawa kenikmatan dan keberkahan dalam hidupnya. Justru semua itu malah membawa kesengsaraannya dan penderitaan baginya, hingga ia hidup di dalam dilema kebahagiaan, dan itu membuat hidupnya semakin sulit, dan mengalami penderitaan hidup yang lebih berat dari kondisi saat ia belum mengeluh, kecewa, hingga menghujat segala nikmat Allah yang di berikan pada dirinya sebelumnya.

Bagi hamba Allah yang ikhlas, walaupun hidupnya dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, lalu hatinya merasa iri ketika melihat keadaan hidup orang lain lebih baik. Perasaan kecewa itu hendaknya jangan membuat hamba tersebut mengeluh, dan menghujat takdir, walaupun kekecewaan hatinya seperti di sayat-sayat pisau. Harusnya dengan keikhlasannya, ia bisa memelihara hatinya untuk tetap bersyukur dan memperkuat rasa syukurnya, dengan keridhoan dan ketaatannya kepada Allah. Karena hal tersebut adalah ujian bagi hamba Allah yang bersyukur, agar rasa syukurnya teruji, hingga ia mencapai titik kemurnian yang tulus dalam syukurnya, semata-mata bersyukur untuk mencari keridhoan Allah saja, tanpa pamrih.

Jadi, banyak sekali bencana dan musibah dalam kehidupan manusia, sesungguhya bukan berasal  dari murkanya Allah. Tapi di sebabkan hati dan tindakan yang  salah seorang hamba, di saat Allah menguji dirinya. Karena, sikap, dan tindakan yang salah dalam menghadapi ujian, justru malah membawa dirinya pada kesulitan hidup yang lebih berat lagi bagi manusia tersebut, dan hal itu menyebabkan musibah dan bencana dalam hidupnya semakin banyak, dan bertubi-tubi menimpa manusia-manusia yang ingkar.

 “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)
 
Segala kenikmatan hidup di Dunia ini berasal dari Allah, Dialah satu-satunya yang berhak memberi kenikmatan pada hamba, sekaligus mencabutnya kembali apabila di kehendaki. Dan apabila seorang hamba di cabut nikmat-nikmatnya oleh Allah, maka hanya Allah pula lah yang dapat menganugrahkan kembali nikmat-nikmat tersebut. Dan hanya kepada Allah sajalah hamba tersebut minta pertolongan, agar nikmat-nikmatnya kembali ia anugrahkan  kepada hamba-hambanya. Karena hanya Allah lah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Tau, Maha Bijaksana, Maha Kaya, dan Maha Segala-galanya. Lantas kenapa seorang hamba tersebut harus mengeluh, kecewa, tak puas hati, hingga menghujat kepada-Nya.
 
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman : 20)

Hamba Allah yang ikhlas, akan senantiasa bersyukur di setiap keadaan. Baik saat senang maupun sedih, saat lapang muapun sempit, saat kaya maupun miskin. Sebab dalam kondisi apapun yang di kehendaki Allah pada seorang hamba, di sana pasti terdapat kasih sayang-Nya yang tak terhingga.

Sesuai Sabda Rosullullah:

“Kasih Allah terhadap hamba-hambanya, melebihi kasih Ibu kepada anaknya.” (Hadist)

Syukur adalah sarana sorang hamba untuk memelihara dan mengikat karunia-Nya. Hati yang  bersyukur akan memperkuat dan memantapkan kebaikan yang telah ada, dan akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Ibnu Athaillah menjelaskan hakikat bersyukur dalam Al-Hikam:

“Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya (karunia). Dan siapa mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya (karunia).”

Hamba Allah yang tidak bersyukur  atas segala karunia yang di berikannya padanya, berarti ia tengah mengharapkan karunia Allah tersebut di cabut darinya. Sebaliknya hamba Allah yang bersyukur, artinya ia telah mengikat kuat karunianya, dan Allah akan menambahkan nikmat tersebut lebih banyak lagi. Sungguh beruntung, karunia yang Allah berikan pada hamba-hamabanya yang bersyukur. Nikmatnya tak akan pernah terputus, hingga Allah tak henti-hentinya menganugrahkan rahmat kepadanya!!!.

Bersyukur terhadap keadaan apapun yang di berikan Allah, adalah cara yang tepat agar hamba Allah senanatiasa hidup di dalam rahmat Allah. Ada sebuah kisah menarik yang mengajarkan hamba Allah untuk senantiasa hidup di dalam rahmat Allah. Ada sebuah kisah menarik yang mengajarkan syukur seorang kerbau, kelelawar dan cacing dalam mengsikapi penciptaan mereka.

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang  telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau. Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "Hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau?".

Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri".

Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar. Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "Hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar?".

"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.

Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing?". Si cacing menjawab,"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".

Kisah di atas memberikan hikmah. Pertama, kondisi apapun yang di kehemdaki Allah pada setiap hamba, senantiasa harus di terima dengan rasa syukur dan ikhlas. Supaya Allah SWT menembahkan lebih banyak lagi nikmat dan karunia-Nya. Kedua, bahkan cacing pun bersyukur dengan keberadaannya yang tinggal di tanah dan berjalan dengan perut. Dari pada ia harus hidup sebagai manusia yang tidak beriman dan beramal soleh. Sering berbuat dzalim, sombong, serta merusak. Karena hamba tersebut setelah mati, Allah akan menyiksanya selama-lamanya. Karena itu, beruntunglah bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan bersyukur.

Kepemimpinan Spiritual

Merayu Tuhan

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ketiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas dengan argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

***

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Illahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Asy Syahiid (Maha Menyaksikan)

Tahukah kalian, Allah sekarang sedang menyaksikan kita? Cara duduk kita, cara bicara kita, cara kita mendengarkan nasihat, atau apa saja disaksikan Allah. Allah sangat dekat dengan kita, lebih dekat dibanding urat leher kita sendiri. Allah tahu apa yang tampak dan yang tersembunyi di dalam hati. Segala yang dilakukan manusia selalu disaksikan oleh Allah, baik perbuatan besar maupun kecil.

Yang membedakan asma Asy Syahiid dengan Al 'Aliim (Maha Mengetahui) adalah bahwa Al 'Aliim meliputi hal yang gaib dan nyata. Sedangkan, Asy Syahiid meliputi hal yang nyata saja.

قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Katakanlah (Muhammad), "Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." [Q.S. Saba': 47]

Akhlak Kita Terhadap sifat Asy Syahiid:

1. Berhati-hati dalam berbicara dan bertingkah laku.
2. Mengucap basmallah setiap akan melakukan sesuatu.
3. Selalu menepati janji.
4. Menjadi saksi yang benar dan tidak mudah dipengaruhi.

Kesimpulan:

Allah Maha Menyaksikan seluruh perbuatan makhluk-Nya. Oleh karena itu, Allah mempunyai Asmaul Husna Asy Syahiid.

Burung Bersabar

Dikisahkan pada zaman Nabi Sulaiman AS, hidup seekor burung yang bersuara merdu dan memiliki bulu yang indah. Tertarik dengan suara dan keindahan bulunya, seorang lelaki membeli burung tersebut dengan harga seribu dinar. Beberapa burung lain hinggap di atas sarang burung itu dan berkicau sebentar sebelum terbang. Setelah kedatangan burung-burung itu, burung dengan suara indah malah terdiam. Tak terdengar lagi kicaunya yang merdu.

Pemilik burung itu lantas mengadukan masalahnya kepada Nabi Sulaiman. Beliau bertanya kepada burung itu. ''Pemilikmu punya hak darimu. Dia telah membelimu dengan harga sangat mahal. Lantas mengapa engkau membisu?''

Burung itu menjawab, ''Wahai Nabi Allah, aku berkicau karena sedih dan rindu dengan pasanganku. Aku ingin lepas dari sangkar. Kemudian datang teman-temanku yang memintaku bersabar. Temanku itu bilang, keras kepala hanya akan mendatangkan kesusahan. Lagi pula lelaki itu membeli aku hanya karena cintanya pada suaraku. Maka aku memilih diam.'' Mendengar penjelasan si burung, Nabi Sulaiman membebaskan burung itu setelah membayar kepada pemiliknya.

[dikutip dari Hikayat Sufi]

Raih Jabatan, Hindari Kesyirikan

Shalat Lail Menghapus Dosa

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قلت يا رسول الله أخبرني عن عمل يدخلني الجنة و يباعدني عن النار ؟ قال - لقد جئت تسأل عن عظيم وإنه ليسير على من يسره الله تعالى عليه : تعبد الله لا تشرك به شيئاً وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت , ثم قال : ألا أدلك على أبواب الخير ؟ الصوم جُنة والصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار , وصلاة الرجل في جوف الليل ثم تلا - تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون*فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونََ - ]السجدة16-17]... ثم قال ألا أخبرك برأس الأمر وعموده وذروة سنامه ؟ - قلت : بلى , يا رسول الله قال " رأسٍ الإسلام , وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد " ثم قال : ألا أخبرك بملاك ذلك كله ؟ " فقلت ك بلى يا رسول الله , فأخذ بلساني وقال - كف عليك هذا - فقلت : يا نبي الله , و إنا لمؤاخذون بما نتكلم ؟ فقال- ثكلتك أمك , وهل يكب الناس في النار على وجوههم - أو قال - على مناخرهم إلا حصائد ألسنتهم ؟! - رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح
Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu 'anhu, ia berkata : Aku berkata : “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah”. Kemudian beliau bersabda : “Inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam”. Kemudian beliau membaca ayat : “Tatajaafa junuubuhum ‘an madhaaji’… hingga …ya’maluun“. Kemudian beliau bersabda: “Maukah bila aku beritahukan kepadamu pokok amal tiang-tiangnya dan puncak-puncaknya?” Aku menjawab : “Ya, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda : “Pokok amal adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”. Kemudian beliau bersabda : “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?” (HR. Tirmidzi, ia berkata : “Hadits ini hasan shahih)
[Tirmidzi no. 2616]

Sabda beliau “engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala”, maksudnya bagi orang yang diberi taufiq oleh Allah kemudian diberi petunjuk untuk beribadah kepada-Nya dengan menjalankan agama secara benar, yaitu menyembah kepada Allah tanpa sedikit pun menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Kemudian sabda beliau “mengerjakan shalat”, yaitu melaksanakannya dengan cara dan keadaan paling sempurna. Kemudian beliau menyebutkan syari’at-syari’at Islam yang lain, seperti zakat, puasa dan haji.

Kemudian sabda beliau “inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai”, maksudnya adalah selain puasa Ramadhan, karena puasa yang wajib telah diterangkan sebelumnya. Jadi, maksudnya ialah banyak berpuasa sunnat. Perisai maksudnya ialah puasa itu menjadi tirai dan penjaga dirimu dari siksa neraka.

Kemudian sabda beliau “shadaqah itu menghapuskan kesalahan”. Maksud shadaqah di sini adalah zakat.

Sabda beliau “shalat seseorang di tengah malam”.

Kemudian beliau membaca ayat :
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Maka suatu jiwa tidak dapat mengetahui apa yang dirahasiakan untuk mereka, yaitu balasan yang menyejukkan mata, sebagai ganjaran dari amal yang telah mereka lakukan”.
(QS. As Sajadah 32 : 16-17)

maksudnya orang yang shalat tengah malam, dia mengorbankan kenikmatan tidurnya dan lebih mengutamakan shalat karena semata-mata mengharapkan pahala dari Tuhannya, seperti tersebut pada firman-Nya : “Maka suatu jiwa tidak dapat mengetahui apa yang dirahasiakan untuk mereka, yaitu balasan yang menyejukkan mata, sebagai ganjaran dari amal yang telah mereka lakukan”. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Allah sangat membanggakan orang-orang yang melakukan shalat malam di saat gelap dengan firman-Nya dalam sebuah Hadits Qudsi : “Lihatlah hamba-hamba-Ku ini. Mereka berdiri shalat di gelap malam saat tidak ada siapa pun melihatnya selain Aku. Aku persaksikan kepada kamu sekalian (para malaikat) sungguh Aku sediakan untuk mereka negeri kehormatan-Ku”.

Sabda beliau : “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengumpamakan perkara ini dengan unta jantan dan Islam dengan kepala unta, sedangkan hewan tidak akan hidup tanpa kepala.

Kemudian sabda beliau “tiang-tiangnya adalah shalat”. Tiang suatu bangunan adalah alat penyangga yang menegakkan bangunan tersebut, karena bangunan tidak akan dapat berdiri tegak tanpa tiang.

Sabdanya “puncaknya adalah jihad”, artinya jihad itu tidak tertandingi oleh amal-amal lainnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ia berkata bahwa ada seseorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata :
“Tunjukkan kepadaku amal yang sepadan dengan jihad”. Sabda beliau : “Tidak aku temukan”. Kemudian sabda beliau : “Adakah engkau sanggup masuk ke dalam masjid, lalu kamu melakukan shalat Lail tanpa henti dan puasa tanpa berbuka selama seorang mujahid pergi (berperang)?” Orang itu menjawab : “Siapa yang sanggup berbuat begitu!”

Sabdanya : “maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”, maksudnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggalakkan dia pertama kali untuk berjihad melawan orang kafir, kemudian dialihkan kepada jihad yang lebih besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu, menahan perkataan yang menyakitkan atau menimbulkan kerusakan karena sebagian besar manusia masuk neraka karena lidahnya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?” Penjelasannya telah ada pada Hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia berkata baik atau diam”.

Demikian juga pada Hadits lain disebutkan :
“Barang siapa memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara kedua bibirnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku jamin dia masuk surga”

Al Baa'its (Maha Membangkitkan)

Allah akan membangkitkan dan menghidupkan segala yang telah mati. Allah membangkitkan manusia dari kubur setelah hari kiamat nanti untuk menilai hasil amalan kita selama hidup di dunia. Allah juga membangkitkan makhluk dari tidur dan membangkitkan semangat dalam diri manusia.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Dan sungguh, (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. [Q.S. Al Hajj: 7]

Akhlak Kita Terhadap sifat Al Baa'its:

1. Menyadari bahwa orang yang hidup pasti akan mati.
2. Beramal sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
3. Membangkitkan semangat hidup dan membantu orang lain supaya menjadi lebih baik.
4. Membangkitkan jiwa sehingga hidup dengan aqidah yang benar, ilmu yang luas, dan semangat juang yang membara.

Kesimpulan:

Allah Maha Membangkitkan, yaitu membangkitkan dan menghidupkan lagi orang-orang yang telah mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.