KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Maalikul Mulk (Maha Memiliki Kerajaan)

Kerajaan Allah meliputi dunia (langit dan bumi) serta akhirat. Semua kehendak Allah pasti terlaksana di wilayah kerajaan-Nya. Dia mengatur kerajaan sebagaimana yang Dia kehendaki. Tak seorang pun bisa menolak ketetapan-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu, mengakhiri keberadaan sebagian makhluk, tanpa siapa pun bisa melarang. Dia juga tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ

Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki... [Q.S. Ali Imran: 26]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Maalikul Mulk:

1. Tidak boleh merusak atau mengancurkan bumi karena bumi adalah kerajaan Allah.
2. Menjadi pemimpin yang dapat mencegah kemungkaran dengan kekuasaan yang dimilikinya.
3. Menjadi pemimpin yang bisa memerintah rakyat dengan adil.
4. Selalu bersikap mengabdi kepada Allah.

Kesimpulan:

Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi (dunia) serta akhirat. Semuanya tunduk di bawah perintah Allah. Begitu juga ketika kiamat karena tidak ada yang akan mampu menolak-Nya.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 113


وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Dan orang-orang Yahudi berkata, "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata, "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (Q.S. Al Baqarah: 113)

Orang-orang Yahudi menuduh orang-orang Nasrani tidak mempunyai pegangan sedikit pun. Orang-orang Yahudi mengingkari Al-Masih, padahal mereka telah membaca Kitab Taurat yang di dalamnya terdapat berita tentang kedatangan Nabi Isa. Orang-orang Yahudi memberikan sebutan kepada Al-Masih dengan sebutan yang tidak sepantasnya.

Orang-orang Nasrani menuduh orang-orang Yahudi tidak mempunyai pegangan agama yang benar, karena orang-orang Yahudi telah mengingkari kenabian Al-Masih yang bertindak sebagai penyempurna agama mereka. Padahal mereka telah membaca Kitab, yang semestinya tidak akan terjadi tuduh-menuduh itu. Kalau demikian, mereka mengatakan sesuatu yang tidak tercantum dalam Kitab mereka, karena Taurat memuat berita gembira tentang kedatangan Al-Masih itu untuk menyempurnakan peraturan-peraturan agama yang dibawa oleh Musa a.s. bukan untuk membatalkan. Akan tetapi mengapa sampai terjadi orang-orang Nasrani membatalkan sama sekali agama orang-orang Yahudi?

Secara singkat dapat dikatakan bahwa agama mereka sebenarnya satu. Hanya saja karena ada bagian-bagian yang dibuang dari isi Kitab itu, terjadilah tuduh-menuduh itu. Dengan demikian Kitab yang mereka baca itu menjadi bukti kedustaan mereka.

Sesudah itu Allah swt. memberikan penjelasan bahwa kata-kata yang mereka ucapkan itu bukanlah persoalan baru, bahkan bangsa sebelum mereka mengatakan sesuatu tanpa didasari bukti-bukti yang kuat seperti pengikut agama wasaniah juga mengatakan pada agama lain, bahwa agama yang dianut orang itu tidak mempunyai pegangan apa-apa. Kalau manusia dapat mengetahui yang sebenarnya, tentulah tidak akan terjadi pertentangan yang bersifat prinsip. Kalau demikian maka mereka akan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani bersikap fanatik pada paham yang dikuasai hawa nafsu.

Dalam pada itu Allah swt. memberikan penegasan bahwa Allahlah yang Maha Mengetahui kebenaran dan kebatilan apa yang mereka perselisihkan itu. Allah pula yang membenarkan mana yang benar dan menempatkan orang-orang yang mencintai kebenaran itu dalam surga Naim, juga yang membatalkan mana yang batil, serta mengekalkan pencinta-pencinta dan pendukung-pendukung kebatilan itu dalam neraka Jahim.

Al Jaami' (Maha Mengumpulkan)

Allah Maha Mengumpulkan seluruh makhluk di muka bumi. Allah mengumpulkan ayah dan ibu kita dalam satu keluarga. Allah telah mengumpulkan kita dengan teman-teman kita dalam satu sekolah. Allah telah mempertemukan kita dengan orang lain dalam satu masyarakat, satu pekerjaan, satu kegemaran, satu organisasi, dan perkumpulan lainnya.

Di akhirat kelak, Allah Maha Mengumpulkan kita semua di padang mahsyar yang sangat panas dengan amal masing-masing untuk menerima pembalasan dari Allah. Kemudian Allah akan mengumpulkan kita di tempat yang abadi, yaitu di surga atau neraka. Surga adalah tempat berkumpulnya orang yang gemar beramal shaleh, sementara neraka adalah tempat berkumpulnya para pendosa.

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. [Q.S. Ali Imran: 9]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Jaami':

1. Hidup dengan sesama manusia dan makhluk Allah yang lain secara baik.
2. Memilih teman dan sahabat yang bisa membawa pada kebaikan.
3. Memperbanyak silaturrahim.
4. Tidak berbuat sombong terhadap makhluk Allah di dunia ini, tetapi saling bekerja sama untuk menggapai ridha Allah.

Kesimpulan:

Allah Maha Mengumpulkan seluruh makhluk, baik di dunia maupun di akhirat. Kita berkumpul dan bertemu karena Allah. Di akhirat kita juga akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita.

Taqdir Manusia Telah Ditetapkan

عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق " إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Dari Abu 'Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anh, dia berkata: bahwa Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata: Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga. [Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

Kalimat, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya” maksudnya yaitu Air mani yang memancar kedalam rahim, lalu Allah pertemukan dalam rahim tersebut selama 40 hari. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia menafsirkan kalimat diatas dengan menyatakan, “Nutfah yang memancar kedalam rahim bila Allah menghendaki untuk dijadikan seorang manusia, maka nutfah tersebut mengalir pada seluruh pembuluh darah perempuan sampai kepada kuku dan rambut kepalanya, kemudian tinggal selama 40 hari, lalu berubah menjadi darah yang tinggal didalam rahim. Itulah yang dimaksud dengan Allah mengumpulkannya” Setelah 40 hari Nutfah menjadi ‘Alaqah (segumpal darah)

Kalimat, “kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya” yaitu Malaikat yang mengurus rahim

Kalimat "Sesungguhnya ada seseorang diantara kamu melakukan amalan ahli surga........" secara tersurat menunjukkan bahwa orang tersebut melakukan amalan yang benar dan amal itu mendekatkan pelakunya ke surga sehingga dia hampir dapat masuk ke surga kurang satu hasta. Ia ternyata terhalang untuk memasukinya karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya di akhir masa hayatnya dengan melakukan perbuatan ahli neraka. Dengan demikian, perhitungan semua amal baik itu tergantung pada apa yang telah dilakukannya. Akan tetapi, bila ternyata pada akhirnya tertutup dengan amal buruk, maka seperti yang dikatakan pada sebuah hadits, "Segala amal perbuatan itu perhitungannya tergantung pada amal terakhirnya." Maksudnya, menurut kami hanya menyangkut orang-orang tertentu dan keadaan tertentu. Adapun hadits yang disebut oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman dari kitab shahihnya bahwa Rasulullah berkata, " Seseorang melakukan amalan ahli surga dalam pandangan manusia, tetapi sebenarnya dia adalah ahli neraka." Menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukannya semata-mata untuk mendapatkan pujian/popularitas. Yang perlu diperhatikan adalah niat pelakunya bukan perbuatan lahiriyahnya, orang yang selamat dari riya' semata-mata karena karunia dan rahmat Allah Ta'ala.

Kalimat "maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada seseorang diantara kamu melakukan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka." Maksudnya bahwa, hal semacam ini bisa saja terjadi namun sangat jarang dan bukan merupakan hal yang umum. Karena kemurahan, keluasan dan rahmat Allah kepada manusia. Yang banyak terjadi manusia yang tidak baik berubah menjadi baik dan jarang orang baik menjadi tidak baik.

Firman Allah, “Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku” menunjukkan adanya kepastian taqdir sebagaimana pendirian ahlussunnah bahwa segala kejadian berlangsung dengan ketetapan Allah dan taqdir-Nya, dalam hal keburukan dan kebaikan juga dalam hal bermanfaat dan berbahaya. Firman Allah, QS. Al-Anbiya’: 23, “Dan Dia tidak dimintai tanggung jawab atas segala tindakan-Nya tetapi mereka akan dimintai tanggung jawab” menyatakan bahwa kekuasaan Allah tidak tertandingi dan Dia melakukan apa saja yang dikehendaki dengan kekuasaan-Nya itu.

Imam Sam’ani berkata, “Cara untuk dapat memahami pengertian semacam ini adalah dengan menggabungkan apa yang tersebut dalam Al Qur’an dan Sunnah, bukan semata-mata dengan qiyas dan akal. Barang siapa yang menyimpang dari cara ini dalam memahami pengertian di atas, maka dia akan sesat dan berada dalam kebingungan, dia tidak akan memperoleh kepuasan hati dan ketentraman. Hal ini karena taqdir merupakan salah satu rahasia Allah yang tertutup untuk diketahui oleh manusia dengan akal ataupun pengetahuannya. Kita wajib mengikuti saja apa yang telah dijelaskan kepada kita tanpa boleh mempersoalkannya. Allah telah menutup makhluk dari kemampuan mengetahui taqdir, karena itu para malaikat dan para nabi sekalipun tidak ada yang mengetahuinya”.

Ada pendapat yang mengatakan, “Rahasia taqdir akan diketahui oleh makhluk ketika mereka menjadi penghuni surga, tetapi sebelumnya tidak dapat diketahui”.

Beberapa Hadits telah menetapkan larangan kepada seseorang yang tidak mau melakukan sesuatu amal dengan alasan telah ditetapkan taqdirnya. Bahkan, semua amal dan perintah yang tersebut dalam syari’at harus dikerjakan. Setiap orang akan diberi jalan yang mudah menuju kepada taqdir yang telah ditetapkan untuk dirinya. Orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang beruntung maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan yang beruntung sebaliknya orang-orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang celaka maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan celaka sebagaimana tersebut dalam Firman Allah:

“Maka Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh keberuntungan”. (QS. Al Lail :7)

“Kemudian Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh kesusahan”. (QS.Al Lail :10)

Para ulama berkata, “Al Qur’an, lembaran, dan penanya, semuanya wajib diimani begitu saja, tanpa mempersoalkan corak dan sifat dari benda-benda tersebut, karena hanya Allah yang mengetahui”.

Allah berfirman, “Manusia tidak sedikit pun mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah kehendaki”. (QS. Al Baqarah : 255)

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 110

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Baqarah: 110)

Allah s.w.t. menyuruh orang-orang Islam supaya terus-menerus menempuh jalan yang sebaik-baiknya, melakukan shalat dan mengeluarkan zakat. Orang-orang Islam diperintahkan agar terus-menerus mendirikan shalat, dan perintah ini dipautkan dengan janji Allah berupa pertolongan mendapatkan kemenangan karena dalam shalat itu terdapat hikmah yang banyak, memperkuat jalinan iman, mempertinggi cita-cita serta mempertinggi daya tahan mental karena di dalam shalat itu terdapat doa kepada Allah yang diucapkan seorang hamba Allah sebagai pernyataan kehendak yang serius, serta memperkuat jalinan hati di antara orang-orang mukmin dengan jalan melakukan shalat jemaah dan pergaulan mereka di dalam mesjid. Dengan jalan inilah iman itu dapat berkembang dan kokoh, dapat juga memelihara kebersihan jiwa yang dapat mencegah diri untuk melakukan perbuatan yang keji, serta dapat mempertinggi daya juang untuk melaksanakan kebenaran. Maka apabila orang-orang Islam menempuh cara-cara yang demikian itu, niscaya mereka akan mendapat pertolongan dari Allah.

Adapun hikmah yang terdapat dalam mengeluarkan zakat ialah mempererat hubungan antara orang-orang Islam yang kaya dengan yang miskin, sehingga dengan kuatnya hubungan itu akan tercipta kesatuan dan persatuan umat yang kokoh merupakan kesatuan yang bulat.

Sesudah itu Allah s.w.t. menegaskan bahwa shalat dan zakat itu sebagai jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh kemenangan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Allah bahwa kebaikan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang Islam niscaya akan mendapat balasan dari sisi Allah di hari pembalasan dengan seadil-adilnya. Seterusnya Allah menyuruh orang-orang Islam agar supaya berbuat baik karena Allah benar-benar Maha Mengetahui segenap amalan, baik amal yang banyak maupun amal yang sedikit, tak ada amal yang disia-siakan baik amal yang saleh maupun amal yang jelek, niscaya akan mendapat balasan yang setimpal.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 111-112

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. لَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". (Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah: 111-112)

Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, masing-masing mereka menganggap, bahwa tidak akan masuk surga terkecuali golongan mereka sendiri. Orang-orang Yahudi beranggapan, bahwa yang akan masuk surga, hanyalah orang-orang Yahudi, demikian juga orang-orang Nasrani beranggapan bahwa yang akan masuk surga hanyalah orang-orang Nasrani. Untuk menolak dan membatalkan anggapan mereka itu Allah s.w.t. memberikan penegasan, bahwa anggapan mereka itu hanyalah angan-angan yang timbul dari khayalan mereka saja.

Angan-angan mereka, meskipun disebutkan secara global, namun maknanya mencakup arti yang luas, yaitu angan-angan mereka agar terhindar dari siksa serta anggapan bahwa yang bukan golongan mereka akan terjerumus ke dalam siksa, dan tidak memperoleh nikmat sedikitpun. Itulah sebabnya maka dalam ayat itu angan-angan mereka dinyatakan dalam bentuk jamak.

Dalam pada itu Allah s.w.t. seakan-akan meminta bukti kebenaran yang menguatkan anggapan mereka masing-masing kalau mereka masing-masing dapat mengemukakan bukti-bukti yang benar maka dugaan mereka benar. Akan tetapi dari susunan ayat, tidak demikian yang terpaham. Meskipun pada arti lahir ayat terdapat tuntunan mengemukakan bukti, namun menurut maknanya menyatakan ketidakbenaran dakwaan mereka masing-masing, karena mereka masing-masing memang tidak akan dapat mengemukakan bukti.

Dalam ayat ini terdapat isyarat, bahwa sesuatu pendapat yang tidak didasarkan pada bukti-bukti yang benar tidaklah boleh diterima.

Allah s.w.t. tidak membenarkan anggapan masing-masing golongan dari Ahli Kitab serta menolak anggapan mereka yang batal itu, karena rahmat Allah s.w.t. tidak hanya dimonopoli oleh sesuatu bangsa atau sesuatu golongan, akan tetapi akan didapat oleh siapa saja yang berusaha mendapatkannya dengan ketentuan ia harus beriman dan beramal saleh.

Sebagai ketegasan, Allah s.w.t. memberikan pernyataan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan membuktikan imannya itu dengan amal yang ikhlas, maka ia akan memperoleh pahala. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal baik seorang hamba.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman semata tidak cukup untuk menjamin tercapainya kebahagiaan seseorang, akan tetapi hendaknya disertai amal saleh.

Allah s.w.t. telah menetapkan dalam Alquran bahwa apabila disebut kata-kata iman selalu diiringi oleh amal baik, seperti nampak dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik ia laki-laki maupun wanita sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walaupun hanya sedikit. (Q.S. An Nisa': 124)

Dan firman-Nya lagi:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ

Artinya:
Maka barangsiapa yang mengerjakan (barang sedikit pun) dari amalan-amalan yang saleh sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu. (Q.S. Al Anbiya': 94)

Apabila mereka itu telah berserah diri kepada Allah dan beramal, maka diri mereka itu tidak perlu merasa khawatir dan merasa sedih. Lain halnya orang-orang yang tersesat oleh sesembahan berhala dan tersesat dari petunjuk Allah. Di antara tabiat orang-orang mukmin ialah apabila mereka itu ditimpa oleh sesuatu yang tidak disenangi, mereka akan menyelidiki sebab-sebabnya dan berusaha keras untuk mengatasinya. Kalau masih juga belum teratasi, mereka menyerahkan persoalan itu kepada kekuasaan Allah. Niat mereka sedikit pun tidak kendor dan hati mereka pun menyadari bahwa untuk mengatasi semua kesulitan itu ia menyerahkan diri kepada kekuatan yang hakiki, yaitu Allah s.w.t., sedang tabiat orang-orang yang tidak beriman ialah takut menghadapi masa depan mereka dan selalu rusuh hatinya menghadapi segala sesuatu yang akan menimpa. Maka apabila mereka ditimpa malapetaka, mereka kebingungan tak tahan menghadapi kesusahan itu, dan tak dapat mencari jalan keluar.

Al Muqsith (Maha Adil)

Allah adil terhadap makhluk-Nya dalam memberikan rezeki. Keadilan Allah juga tampak dalam penetapan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Dengan sifat Al Muqsith, Allah memutuskan perkara secara adil sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya secara adil dalam semua keputusan dan ketetapan-Nya. Orang yang mengerjakan perbuatan jahat sekecil apa pun akan dibalas dengan adil oleh Allah. Orang yang berbuat baik sekecil apa pun juga akan diberi pahala kebaikan oleh Allah.

فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

...jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah) maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. [Q.S. Al Hujurat: 9]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muqsith:

1. Selalu berbuat adil, baik kepada diri sendiri maupun kepada yang lain, termasuk makhluk di sekitar kita.
2. Tidak berlaku zalim, baik kepada diri sendiri maupun kepada yang lain, termasuk makhluk di sekitar kita.
3. Beramal yang banyak supaya Allah memberikan balasan terbaik di dunia dan di akhirat.
4. Berhati-hati dalam bersikap, berkata, dan berbuat karena semua akan ada balasannya.

Kesimpulan:

Allah adil dalam segala keputusan kepada makhluk-Nya. Tidak ada makhluk yang dirugikan dengan keputusan dan ketetapan Allah.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 109

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al Baqarah: 109)

Allah swt. menjelaskan bahwa sebahagian besar Ahli Kitab selalu berangan-angan agar dapat membelokkan orang-orang Islam dari agama tauhid menjadi kafir seperti mereka, setelah mereka mengetahui dengan nyata bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. itu benar dan sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam Kitab Taurat.

Ayat ini mengandung peringatan kepada orang-orang Islam agar supaya mereka waspada terhadap tipu muslihat yang mereka lakukan itu adakalanya dengan jalan mengeruhkan ajaran Islam, dan adakalanya dengan jalan menimbul-nimbulkan keragu-raguan di kalangan umat Islam sendiri. Mereka melakukan tipu muslihat itu disebabkan karena kedengkian semata, tidak timbul dari pandangan yang bersih. Kedengkian mereka bukanlah karena keragu-raguan mereka terhadap kandungan isi Alquran atau bukan karena didorong oleh kebenaran yang terdapat dalam Kitab Taurat, akan tetapi disebabkan karena dorongan hawa nafsu, kemerosotan mental dan kedongkolan hati mereka. Itulah sebabnya maka mereka terjerumus dalam lembah kesesatan dan kebatilan.

Sesudah itu Allah swt. memberikan tuntunan pada umat Islam bagaimana caranya menghadapi tindak-tanduk mereka itu. Allah swt. menyuruh umat Islam menghadapi mereka itu dengan sopan-santun yang baik serta suka memaafkan segala kesalahan mereka, juga melarang agar jangan mencela mereka hingga tiba saatnya Allah memberikan perintah, karena Allahlah yang akan memberikan bantuan kepada umat Islam, hingga umat Islam telah dapat menentukan sikap dalam menghadapi tantangan mereka, apakah mereka itu harus diperangi atau diusir.

Peristiwa ini telah terjadi, umat Islam memerangi Bani Quraizah dan Bani Nadir dari Madinah setelah mereka merobek-robek perjanjian. Mereka memberi bantuan kepada orang-orang musyrikin, setelah mereka diberi maaf berulang kali.

Kemudian Allah swt. memberikan ketegasan atau janjinya bahwa Dia akan memberikan bantuan kepada orang-orang Islam, dengan menyatakan bahwa Dia berkuasa pula untuk memberikan kekuatan lainnya dan Dia berkuasa pula untuk memberikan ketetapan hati agar umat Islam tetap berpegang pada kebenaran sehingga mereka dapat mengalahkan orang-orang yang memusuhi umat Islam secara terang-terangan serta menyombongkan kekuatan.

Berdoa

Dijelaskan dalam sebuah ayat tentang pentingnya ibadah,

"Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu....'" (al-Furqaan: 77)

Berdo'a merupakan cara berdialog dengan Allah; juga merupakan ciri utama yang membedakan orang yang beriman dari orang musyrik. Berdo'a bisa dijadikan sebagai alat ukur keimanan seseorang kepada Tuhannya.

Kebanyakan orang berpikir bahwa tidak ada yang mengatur alam semesta ini dan segala sesuatu berinteraksi dengan sendirinya. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi tunduk kepada-Nya, tidak ada makhluk yang takdirnya tidak diatur oleh Allah dan tidak patuh kepada-Nya. Bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) mengatakan kepadanya, "… Jadilah…," lalu jadilah ia. (al-Baqarah: 117)

Orang musyrik tidak memahami kenyataan penting ini dan mereka menghabiskan seluruh hidupnya untuk menggunakan alam ini dalam mengejar impian semu. Orang beriman, dengan cara yang lain, mempelajari keagungan misteri ini dari Al-Qur`an. Mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai yang mereka inginkan adalah dengan memohon kepada Yang mengawasi mereka. Mereka mengetahui bahwa Allahlah Sang Pencipta dan Pengatur segala sesuatu,

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (al-Baqarah: 186)

Akan tetapi, haruslah dipahami bahwa Allah tidak harus mengabulkan semua yang diinginkan dari-Nya. Bagi orang-orang yang jahil, "Dan manusia mendo`a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo`a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (al-Israa`: 11) Dengan demikian, Allah menjawab semua do'a kita, namun terkadang mengabulkan, terkadang tidak bila ternyata akan menimbulkan "keburukan" yang nyata.

Cara berdo'a juga dijelaskan dalam Al-Qur`an: dengan kerendahan hati dan suara yang lembut, keihlasan, dalam hati kita berharap, namun takut pada Allah, serta dengan kesungguhan,

"Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut... berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (al-A'raaf: 55-56)

Dalam ayat lain dikatakan, "Hanya milik Allah asma`ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma`ul husna itu...." (al-A'raaf: 180)

Sebenarnya, do'a-do'a kita merupakan pengakuan atas kelemahan kita dengan menunjukkan rasa terima kasih kepada Allah. Tanpa berdo'a berarti menunjukkan kesombongan dan pembangkangan kepada Allah. Allah menyatakan,

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'" (al-Mu'min: 60)

Berdo'a pada Allah adalah ibadah dan juga rahmat yang besar. Tindak permohonan yang mudah ini merupakan kunci untuk mencapai tujuan, baik dunia maupun akhirat.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 108

أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالإيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israel meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. (Q.S. Al Baqarah: 108)

Allah swt. mencela sikap orang-orang Yahudi yang menghina orang-orang Islam, karena adanya penasakhan hukum karena perintah Allah. Dalam hal ini Allah s.w.t. menyindir mereka, apakah mereka ingin mengulang perbuatan nenek moyang mereka, yaitu mengemukakan persoalan kepada Rasul sebagaimana nenek moyang mereka menanyakan sesuatu kepada Nabi Musa a.s. ataukah mereka itu ingin meminta kepada Nabi Muhammad s.a.w. agar supaya beliau mendatangkan hukum yang lain dari hukum yang telah ditetapkan seperti halnya nenek moyang mereka itu mengajukan yang tidak semestinya kepada Nabi Musa a.s.

Firman Allah swt.:

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ

Artinya:
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesunguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." (Q.S. An Nisa': 153)

Kemudian Allah s.w.t. memberikan ancaman kepada orang-orang Yahudi, bahwa orang-orang yang tidak memegangi ayat-ayat Allah dengan alasan ingin mencari hukum yang lain yang menurut pertimbangannya lebih baik berarti ia telah mengganti imannya dengan kekafiran, lebih mencintai kesesatan daripada hidayah, serta ia telah jauh dari kebenaran. Dan barangsiapa yang melampaui hukum-hukum Allah, berarti ia telah jatuh ke dalam lembah kesesatan.

Dalam ayat ini terdapat petunjuk bagi orang-orang Islam, yaitu agar mereka mengerjakan apa yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. dan menjauhi segala larangannya. Juga terdapat larangan meminta sesuatu yang di luar ketentuan hukum yang sudah ada.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 107

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (Q.S. Al Baqarah: 107)

Allah swt. menjelaskan bahwa Dia mempunyai kerajaan langit dan bumi, dengan kata lain bahwa langit dan bumi serta seluruh isinya tunduk di bawah kekuasaan-Nya, di bawah perintah dan larangan-Nya. Oleh sebab itu Allah swt. berkuasa pula untuk menasakhkan hukum dan menetapkan hukum yang lain menurut kehendak-Nya, apabila menurut pertimbangan-Nya ada manfaat bagi seluruh manusia karena hukum yang lama sudah dipandang tidak sesuai lagi. Maka Allah swt. memberikan penegasan kepada orang-orang Islam bahwa Allahlah yang memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka. Oleh sebab itu orang-orang mukmin dilarang memperdulikan orang-orang Yahudi yang mengingkari perubahan hukum itu, bahkan menghina karena sikap orang-orang Yahudi yang demikian itu sedikit pun tidak akan memberikan mudarat kepada orang-orang mukmin.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 107

ا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (Q.S. Al Baqarah: 107)

Allah swt. menjelaskan bahwa Dia mempunyai kerajaan langit dan bumi, dengan kata lain bahwa langit dan bumi serta seluruh isinya tunduk di bawah kekuasaan-Nya, di bawah perintah dan larangan-Nya. Oleh sebab itu Allah swt. berkuasa pula untuk menasakhkan hukum dan menetapkan hukum yang lain menurut kehendak-Nya, apabila menurut pertimbangan-Nya ada manfaat bagi seluruh manusia karena hukum yang lama sudah dipandang tidak sesuai lagi. Maka Allah swt. memberikan penegasan kepada orang-orang Islam bahwa Allahlah yang memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka. Oleh sebab itu orang-orang mukmin dilarang memperdulikan orang-orang Yahudi yang mengingkari perubahan hukum itu, bahkan menghina karena sikap orang-orang Yahudi yang demikian itu sedikit pun tidak akan memberikan mudarat kepada orang-orang mukmin.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 106

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Q.S. Al Baqarah: 106)

Allah swt. menjelaskan bahwa ayat manapun juga yang dinasakhkan hukumnya, atau diganti dengan ayat yang lain atau ayat yang ditinggalkan, akan menggantinya dengan ayat yang lebih baik yang lebih sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya, atau menggantinya dengan ayat yang sama nilainya dengan hukum yang lalu.

Adapun hikmah diadakannya pergantian atau perubahan ayat ialah karena nilai kemanfaatannya berbeda-beda menurut waktu dan tempat, kemudian dihapuskan, atau diganti dengan hukum yang lebih baik, atau dengan ayat yang sama nilainya adalah karena ayat diubah atau diganti itu tidak sesuai lagi dengan kepentingan masyarakat sehingga apabila diadakan perubahan atau pergantian termasuk suatu tindakan yang bijaksana.

Bagi yang berpendapat bahwa ayat ini ialah tanda kenabian (mukjizat) yang dijadikan penguat kenabian, maka ayat ini diartikan bahwa Allah swt. tidak akan menghapuskan sesuatu tanpa kenabian salah seorang nabi, yang digunakan untuk penguat kenabiannya, atau tidak akan mengubah tanda kenabian yang terdahulu dengan tanda kenabian yang datang kemudian atau meninggalkan tanda-tanda kenabian itu, karena telah berselang beberapa abad lamanya, terkecuali Allah yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas memberikan tanda kenabian itu yang lebih baik, baik ditinjau dari segi kemantapannya maupun dari tetapnya kenabian itu, dan karena kekuasaannya yang tidak terbatas, maka hak untuk memberikan tanda kenabian kepada para nabi-Nya tidak dapat dihalang-halangi.

Penasakhan ayat adakalanya terjadi dengan ayat yang lebih ringan hukumnya seperti dihapusnya idah wanita yang ditinggal mati suaminya dari setahun menjadi 4 bulan 10 hari, atau dengan ayat yang sama hukumnya seperti perintah untuk menghadapkan muka ke Baitul Makdis pada waktu mendirikan salat diubah menjadi menghadapkan muka ke Kakbah. Atau dengan hukum yang lebih berat, seperti perang yang tadinya tidak diwajibkan pada orang Islam menjadi diwajibkan.

Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. akan tetapi juga ditujukan kepada orang-orang Islam, yang merasa sakit hatinya mendengar cemoohan orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang tipis imannya, tentu mudah dipengaruhi sehingga hatinya mudah menjadi ragu-ragu. Itulah sebabnya maka Allah swt. menegaskan bahwa Allah swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan apabila berkehendak untuk menasakhkan hukum tidak dapat dicegah karena masalah hukum itu termasuk dalam kekuasaan-Nya.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 105

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Q.S. Al Baqarah: 105)

Allah swt. menerangkan bahwa para Ahli Kitab yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Nasrani begitu pula orang-orang musyrik, tidak mau percaya kepada Nabi Muhammad karena mereka itu iri hati karena ia diberi Kitab oleh Allah swt. yang lebih baik. Mereka sedikitpun tidak mau mengakui bahwa Alqur'anul Karim itu kitab yang paling banyak mengandung kebaikan dan penuh hidayah. Dengan Alquran itulah Allah swt. menghimpun dan menyatukan umat serta melenyapkan penyakit syirik yang bersarang di hati mereka juga memberikan beberapa prinsip peraturan hidup dan penghidupan mereka.

Demikian juga halnya orang-orang musyrik, setelah mereka melihat kenyataan bahwa makin lama Alquran makin nampak kebenarannya, dan menjadi pendorong yang kuat bagi perjuangan orang-orang Islam, mereka pun berusaha sekuat tenaga untuk menguasai keadaan, dan menghancurkan perjuangan umat Islam hingga lenyap sama sekali.

Meskipun demikian mereka tidak akan dapat merealisir angan-angan mereka karena Allah swt. telah menentukan kehendaknya, memilih orang yang dikehendaki semata-mata karena rahmat-Nya belaka. Dia pulalah yang melimpahkan keutamaan bagi orang yang dipilih untuk diberi kenabian. Dia pula yang melimpahkan kebaikan dan keutamaan, sehingga seluruh hamba-Nya bersenang-senang dalam lautan kebahagiaan. Maka tidak seharusnyalah apabila ada seorang hamba Allah yang merasa dengki kepada seseorang yang telah diberi kebaikan dan keutamaan, karena saluran kebaikan dan keutamaan itu datangnya dari Allah swt. semata.

Menundukkan Hawa Nafsu

عن أبي محمد عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم - لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعاُ لما جئت به - حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح
Dari Abu Muhammad, Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan”. (Hadits hasan shahih dalam kitab Al Hujjah)

Hadits ini semakna dengan firman Allah, “Demi Tuhanmu, mereka tidak dikatakan beriman sebelum mereka berhukum kepada kamu mengenai perselisihan sesama mereka dan mereka tidak merasa berat hati atas keputusan kamu serta menerima dengan pasrah sepenuhnya”. (QS. 4 : 65)

Sebab turunnya ayat ini ialah karena Zubair bersengketa dengan seorang sahabat dari golongan Anshar dalam perkara air. Kedua orang ini datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk mendapatkan keputusan. Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Zubair, alirkanlah dan tuangkanlah air kepada tetanggamu itu”.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menganjurkan kepada Zubair untuk bersikap memudahkan dan toleransi. Akan tetapi, sahabat Anshar itu berkata, “Apakah karena dia anak bibimu?” Maka merahlah wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian sabda beliau, “Wahai Zubair, tutuplah alirannya sampai airnya naik ke atas pagar kemudian biarkanlah hingga tumpah”.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melakukan hal semacam itu untuk memberi isyarat kepada Zubair bahwa apa yang diputuskan beliau mengandung mashlahat bagi golongan Anshar. Tatkala orang Ashar memahami sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam itu, maka Zubair menyadari apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Karena kejadian itulah ayat ini turun.

Hadits yang shahih dari Nabi, beliau bersabda, “Demi diriku yang ada di dalam kekuasaan-Nya, seseorang di antara kamu tidak dikatakan beriman sebelum ia mencintai aku lebih dari cintanya kepada bapaknya, anaknya, dan semua manusia”.

Abu Zinad berkata, “Hadits ini termasuk kalimat pendek yang padat berisi, karena di dalam kalimat ini digunakan kalimat yang singkat tetapi maknanya luas. Cinta itu ada tiga macam, yaitu cinta yang didorong oleh rasa menghormati dan memuliakan seperti cinta kepada orang tua, cinta didorong oleh kasih sayang seperti mencintai anak dan cinta karena saling mengharapkan kebaikan seperti mencintai orang lain”.

Ibnu Bathal berkata, “Hadits di atas maksudnya ---Wallaahu a’lam--- adalah barang siapa yang ingin imannya menjadi sempurna, maka ia harus mengetahui bahwa hak dan keutamaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih besar daripada hak bapaknya, anaknya dan semua manusia, karena melalui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam inilah Allah menyelamatkan dirinya dari neraka dan memberinya petunjuk sehingga terjauh dari kesesatan. Jadi, maksud Hadits di atas adalah mengorbankan diri dan jiwa untuk membela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berperang melawan bapak mereka atau anak mereka atau saudara mereka (yang melawan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Abu Ubaidah telah membunuh bapaknya karena menyakiti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Abu Bakar menghadapi anaknya, Abdurrahman, dalam perang Badar dan hampir saja anak itu dibunuhnya. Barang siapa melakukan hal semacam ini, sungguh ia dapat dikatakan kemauan-kemauannya tunduk kepada apa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepadanya.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 104

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad), "Raa`ina", tetapi katakanlah, "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih. (Q.S. Al Baqarah: 104)

Allah swt. melarang para sahabat Nabi mengucapkan kata-kata "Raa'inaa" yang biasa mereka ucapkan kepada Nabi yang kemudian ditiru oleh orang Yahudi dengan merobah bunyinya sehingga menimbulkan pengertian yang buruk guna mengejek Nabi.

Akan tetapi Allah swt. mengajarkan kepada orang mukmin untuk mengatakan "Unzurnaa" yang mengandung maksud harapan kepada Rasulullah saw. agar dapat memperhatikan keadaan para sahabat.

Allah swt. juga memperhatikan orang-orang mukmin untuk mendengarkan sebaiknya pelajaran-pelajaran agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. yang mengandung pula perintah untuk tunduk dan melaksanakan apa saja yang diperintahkan Nabi, serta menjauhi larangannya.

Kemudian Allah swt. dalam ayat ini memberikan ancaman bahwa orang-orang kafir yang tidak mau memperhatikan ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. akan mendapatkan siksaan yang pedih.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 103

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al Baqarah: 103)

Allah swt. menerangkan bahwa jika orang-orang Yahudi percaya kepada Kitab mereka dan bertakwa, tentulah mereka akan mendapat pahala yang besar.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa mereka itu dalam setiap perbuatan dan kepercayaan tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan yang benar, karena kalau mereka mendasarkan kepercayaan dan perbuatannya itu pada ilmu pengetahuan, tentulah mereka percaya pada Nabi Muhammad saw., dan mengikutinya, dan tentulah mereka tergolong pada orang-orang yang berbabagia. Akan tetapi kenyataannya mereka itu hanya mengikuti dugaan dan bertaklid semata. Sebenarnya di antara perbuatan mereka yang keterlaluan ialah mereka menyalahi isi kitab Taurat itu, dan mereka bergerak di bawah kekuasaan hawa nafsu dan kemauan mereka, sehingga mereka jatuh dalam kesesatan.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 102

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al Baqarah: 102)

Orang-orang Yahudi mengikuti sihir yang dibacakan oleh setan di masa Sulaiman putra Daud meskipun mereka tahu, bahwa yang demikian itu sebenarnya salah. Mereka menuduh bahwa Nabi Sulaiman yang menghimpun kitab yang mengandung sihir dan menyimpan di bawah tahtanya, kemudian dikeluarkan dan disiarkan.

Dugaan serupa itu adalah suatu pemalsuan dan perbuatan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu. Sebenarnya mereka hanya menghubung-hubungkan sihir itu pada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman tidak mengajarkan atau mempraktekkan sihir karena beliau mengetahui bahwa perbuatan yang demikian itu termasuk mengingkari Tuhan, apalagi kalau ditinjau dari kedudukannya sebagai nabi mustahillah kalau beliau itu mempraktekkan sihir.

Sihir itu sebenarnya adalah tipuan dan sulapan yang hanya dilakukan oleh setan, baik yang berbentuk manusia ataupun yang berbentuk jin.

Kisah tentang sihir banyak dituturkan dalam Alquran terutama dalam kisah Musa dan Fir'aun. Dalam kitab itu diterangkan sifat-sifat sihir, bahwa sihir itu adalah sulapan yang menipu pandangan mata, sehingga orang yang melihat mengira, bahwa yang terlihat seolah-olah keadaan yang sebenarnya. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah swt.

وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

Artinya:
Terbayang kepada Musa seakan-akan tongkat itu merayap cepat lantaran sihir mereka. (Q.S. Taha: 66)

Dan sesuai dengan firman Allah swt.:

سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ

Artinya:
Mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut. (Q.S. Al A'raf: 116)

Sihir itu termasuk sesuatu yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh sebahagian manusia saja.

Akan tetapi apa yang telah terjadi menunjukkan bahwa kedua malaikat itu, tidak mampu memberikan pengaruh gaib yang melebihi kemampuan manusia bahkan yang disebut kekuatan gaib oleh mereka itu hanyalah kemahiran dalam menguasai sebab-sebab yang mempunyai perpautan dengan akibat yang dilakukan. Hal ini hanyalah terjadi karena izin Allah semata-mata sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan Allah.

Dalam praktek, tukang-tukang sihir itu membaca mantera dengan menyebut nama-nama setan dan raja-raja jin agar timbul kesan seolah-olah manteranya itu dikabulkan oleh raja jin. Atas dasar praktek mereka inilah timbul anggapan yang merata dalam lapisan masyarakat, bahwa sihir itu dibantu oleh setan. Kemudian orang-orang Yahudi yang sezaman dengan Nabi Muhammad saw. menyebarluaskan sihir itu di kalangan orang-orang Islam dengan tujuan untuk menyesatkan. Mereka dapati sihir itu dari nenek moyang mereka yang mengatakan sihir itu dari Sulaiman a.s. Padahal kedua malaikat tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun, sebelum memberikan nasihat agar orang jangan mengamalkan sihir itu, sebab orang-orang yang mempraktekkah sihir itu adalah kafir.

Ayat ini sebenarnya tidak menunjukkan hakikat sihir. Apakah sihir itu berpengaruh secara tabi'i ataukah pengaruh itu disebabkan oleh sesuatu yang sangat misteri, juga tidak diterangkan apakah sihir itu dapat memberi pengaruh kepada manusia dengan cara yang tidak biasa, ataukah sihir itu sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa.

Ringkasnya, Allah swt. tidak memberikan keterangan-keterangan secara terperinci. Andaikan Allah memandang baik menerangkan hakikat sihir itu dan bermanfaat bagi manusia, tentulah Allah akan menerangkannya secara terperinci.

Seterusnya Allah swt. menjelaskan bahwa sihir itu tidak memberikan manfaat sedikit pun kepada manusia, bahkan memberikan mudarat. Oleh sebab itulah Allah mengancam orang-orang yang mempraktekkannya dengan siksaan. Sebetulnya orang-orang Yahudi pun telah mengetahui bahwa sihir itu memudaratkan manusia yang seharusnya mereka membencinya. Akan tetapi karena adanya maksud jahat yang terkandung dalam hati mereka untuk menyesatkan orang Islam, mereka pun mau mengerjakannya juga. Oleh sebab itulah Allah mencela perbuatan sihir dan memasukkan orang yang mengerjakan perbuatan sihir itu ke dalam golongan yang memilih perbuatan sesat. Selanjutnya Allah menegaskan bahwa di akhirat mereka tidak akan mendapat kebahagiaan sedikit pun. Karena mereka yang telah memilih perbuatan sihir, berarti mereka telah menyalahi hukum yang termuat dalam Kitab Taurat, padahal dalam kitab mereka sendiri terdapat juga ketentuan bahwa orang yang mengikuti bisikan jin, setan dan dukun itu sama hukumnya dengan orang yang menyembah berhala dan patung.

Lebih jauh Allah swt. menjelaskan bahwa sihir yang mereka kerjakan itu sangat jelek. Allah menggambarkan orang yang memilih perbuatan sihir sebagai kesenangannya itu seperti orang yang menjual iman dengan kesesatan. Gambaran serupa ini gunanya untuk menyingkap selubung mereka, agar supaya kesadarannya dapat terbuka dan mengetahui bahwa manusia itu diciptakan Allah untuk berbakti kepada Allah. Dengan kata lain, andaikata mereka mengetahui kesesatan orang yang mempelajari dan mempraktekkan sihir, tentulah mereka tidak akan melakukannya. Akan tetapi mereka telah jauh tertipu, sehingga mereka beranggapan bahwa sihir itu termasuk ilmu pengetahuan, dan mereka merasa puas dengan ilmu yang tak terbukti kebenarannya dan tidak memberikan pengaruh apa pun kepada jiwa seseorang kecuali dengan izin Allah.

Ikhlas Mensehatkan Ruhani Manusia

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. AL-Anfal : 2)

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. AR-R’ad : 28)

Ikhlas dapat menyehatkan ruhani manusia, karena ikhlas merupakan suatu bentuk perasaan positif yang sangat tinggi, suatu betuk perasaan yang sullit di gambarkan, karena menandakan kepercayaan yang sangat tinggi bahwa segala sesuatu yang di jalani manusia mulai ucapan, tindakan, dan perbuatan dalam hidupnya pasti memiliki nilai positif. Ikhlas adalah sebuah energi perasaan hati yang sangat kuat, yang mampu merubah semua perasaan negative, menjadi perasaan positif di segala situasi dan keadaan hidup manusia.

Seseorang yang ikhlas baru akan tentram hatinya, setelah ia mengingat Allah SWT di dalam hatinya. Hati adalah kekuatan yang Maha Dahsyat, yang akan di anugerahkan Allah pada diri manusia. Transformasi pengembangan diri manusia saat ini, akan menuntut pemberdayaaan potensi ruhiah manusia yang lebih besar lagi, banyak temuan baru di bidang genetika prilaku dan neurobilologi. Seperti yang di ungkapkan Dean Hamer dalam buku “Gen Tuhan” menjelaskan bahwa setiap manusia sudah di warisi dalam dirinya, kecenderungan yang membuat otaknya haus sekaligus siap menerima tuntunan “kekuatan yang lebih tinggi” yaitu kekuatan Tuhan yang maha kuasa (Allah).

Karena itu sudah saatnya lah kita fokus pada pengembangan diri yang berbasis pada ruhani manusia. Sebuah proses pengambangan diri yang memfokuskan kepasrahan total manusia pada kekuatan dan motivasi ketuhanan. Kita sudah sering mendengar proses transformasi diri yang malah melambungkan ego dan kesombongan manusia. Mungkin telah berhasil menciptakan kemudahan dan kenyamanan hidup, tetapi sedikit berhasil dalam memberi sumbangsih untuk kebahagiaan hidup.

Kita sering menyaksikan kesuksesan duniawi seseorang, malah semakin menjauhinya dari rasa kebahagiaan yang dia cari. Seperti menggali sumur tanpa dasar untuk menyegarkan dahaga yang tak terpuaskan. Sebab sejengkal kesuksesan yang berhasil di raih manusia, harus di bayar oleh jurang penderitaan yang menganga di antara pengorbanan hasil yang di peroleh.

Manusia perlu proses pengembangan diri yang bisa merubah manusia sampai ke tingkat sel DNA-nya. Suatu proses yang mampu menggabungkan kekuatan IQ (Inteleqtual Quotien), EQ (Emotional Quotien), dan SQ (Spiritual Quotien) yang cerdas, Ilmiah dan Efektif. Perasaan positif (positive Feeling) dan terkabulnya doa (Goal Praying) justru secara komprehensip dan integratif mengandalkan kekuatan diri dan Tuhan akan menghasilkan power (ikhlas), untuk menciptakan kebahagiaan hidup saat ini juga.

Manusia sering mengalami stres di karenakan masalah-masalah yang di hadapinya, juga kecewa karena hasil dari yang ia kerjakan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Terkadang seseorang merasa berhak untuk menentukan masalah yang datang, juga keberhasilan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan pribadi dia. akibatnya ketika masalah datang, juga hasil pekerjaan tidak sesuai dari apa yang ia harapkan, dirinya menjadi stres, marah, kecewa, hingga putus asa.

Manusia terkadang sering lupa bahwa sebenarnya masalah yang datang menguji dirinya, juga keberhasilan pekerjaan dari sesuatu yang kita usahakan adalah mutlak kewenangan Allah SWT. Manusia hanya di perintahkan untuk “Berikhtiar” Sekuat tenaga dengan langkah-langkah terbaiknya, tetapi setelah itu ia di perintahkan juga “Berserah Diri” dalam Ibadah, pengharapan, dan do’a-doanya untuk menerima segala hasil, juga keputusan yang telah di tetapkan Allah SWT kepadanya.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Q.S. AN-Nisaa : 125)

Seperti yang tadi di jelaskan ikhlas adalah sebuah kepercayaan yang tinggi bahwa apa yang ada di hadapi manusia dalam hidupnya (baik masalah maupun hasil akhir usaha), memiliki nilai-nilai positif yang pasti akan membawa kebaikan. Karena dengan ikhlas, manusia dapat melihat sesuatu yang baik di balik semua yang ia hadapi, walaupun sesuatu yang ia hadapi itu buruk dan mengecewakan menurut dirinya. Kalau seperti itu, dengan ikhlas atomatis semua pikiran dan perasaan negative akan berubah menjadi pikiran dan perasaan yang positif.

Dengan ikhlas seseorang akan hidup dengan hati dan pikiran positif. Energi positif dalam diri seorang ikhlas akan memancar ke Alam Semesta, dan getarannya akan memantul ke setiap jiwa-jiwa yang bersentuhan dengannya, mendamaikan jiwa di antara manusia, menyejukkan lingkungan di sekitarnya, membahagiakan setiap insan yang memandang, dan menebarkan cinta di hati jiwa-jiwa yang cemas, gelisah, takut, khawatir, marah, kecewa, dan kesepian. Karena ikhlas akan menetramkan hati manusia-manusia yang berada dalam “Kehampaan Spiritual”.

Karena itu, mulai lah saat ini jadilah manusia-manusia yang ikhlas. Sebab keikhlasan akan menyehatkan ruhani manusia, dengan keikhlasan sukses dan kebahagiaan hidup tidak akan menjadi angan-angan. Mengikhlaskan ruhani ternyata memiliki kekuatan yang amaat sangat luar biasa. Ilmu pengetahuan modern berhasil menemukan kekuatan ruhani manusia, para ahli saraf (neurolog) menemukan bahwa jantung manusia memiliki 40.000 sel saraf, hal tersebut membuktikan bahwa hati manusia ibarat otak yang berada dalam tubuh. Selain itu, para ilmuwan membuktikan bahwa hati manusia ibarat otak yang berada dalam tubuh. Selain itu, para ilmuwan juga menemukan bahwa kualitas elektromagnetik jantung, 5000 kali lebih kuat dari pada otak.

Dengan kata lain, apabila seseorang mengeluarkan enargi ikhlas dengan kekuatan pikirannya sebesar 1 watt (positif thingking), maka kemampuan energi ikhlas dengan kekuatan ruhani bisa di maksimalkan hingga 5000 watt. Coba bayangkan, seberapa besar kekuatan ruhani, untuk menyembuhkan penyakit dalam diri manusia, baik yang bersifat fisik maupun psikis.

Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa kekuatan sadar manusia itu hanya 12% dari total kekuatan, sebab 88% kekuatan manusia di kelola oleh kekuatan alam bawah sadar. Dan alam bawah sadar sesungguhnya memiliki hubungan yang erat dengan ruhani manusia, di sinilah pentingnya mengikhlaskan ruhani. Untuk memaksimalkan kualitas kehidupan, agar seseorang segera mencapai kesuksesan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup.

Kekuatan ikhlas merupakan kekuatan besar bagi manusia dalam memenuhi harapannya. Hal tersebut di sebabkan karena perasaan merupakan wilayah “tak tampak” sebagaimana teori kuantum yang memiliki mekanisme kerja sendiri (mekanisme kerja Tuhan). Erbe Sentanu seorang pakar positive feeling mengemukakan, bahwa perasaan merupakan bagian paling mendasar pada diri manusia. Perasaan mempunyai gelombang yang pengaruhnya lebih besar di bandingkan pikiran. Orang yang berusaha berfikir positif, tetapi perasaannya belum positif maka keinginannya akan sulit tercapai. Berbeda ketika perasaannya belum positif, maka pikirannya akan ikut menjadi positif secara otomatis. Erbe pula menjelaskan bahwa perasaan yang positif (positive feeling), merupakan zona ikhlas yang jika senantiasa di jaga akan menarik hal-hal positif dari Alam Semesta.

Sabda Rosulullah SAW, diriwayatkan Imam Ja’far dalam kitab Al-Bihar:

“Apabila seorang hamba berkata, “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah”. Maka Allah SWT akan menjawab,” Hai para malaikat-ku, hamba-ku telah ikhlas berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia, dan sampaikan (penuhi) hajat keinginannya.”

Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani, Ulama Sufi yang juga Guru Mursyid Tarekat Qodiriyah. Menyebutkan bahwa “Seorang Mukmin Itu Ibarat Cermin”, cermin yang memantulkan nur (cahaya) dari Allah SWT. Kalau kita mempelajari Ilmu Bahan, sebenarnya peristiwa pemantulan bukanlah peristiwa pembelokan gelombang, akan tetapi energi gelombang datang di serap atom-atom yang dekat kepermukaan sehingga tambah bervibrasi, kemudian di pakai untuk memancarkan gelombang balik (Law Of Attraction).

Jadi apabila seorang hamba Allah yang ikhlas mendapat siraman nur dari Allah SWT, karena permukaan cermin ruhani bersih. Maka cahaya Ilahi tersebut masuk secara maksimal kemudian menggetarkan qolbunya sehingga hidup, lalu getaran tersebut akan memancarkan kembali kepada khalayak. Nah apabila cermin ruhani buram oleh debu-debu kealfaan, cahaya Illahi tersebut masih dapat memantul dan masuk. Sehingga qolbu manusia yang telah keras, kotor dan busuk oleh penyakit hati maupun psikis dapat merasakan sentuhan Illahi, denyut kembali pada pancaran ruhani, seolah-olah menerima sesuatu yang mencerahkan dan menyadarkan hakikat dirinya.

Sensasi ini, bisa kita rasakan apabila kita bertemu seseorang mukmin yang ikhlas, hamba Allah yang hatinya benar-benar murni sehingga pancaran ruhaninya kuat. Pernah ada kisah pada sebuah makjlis pengajian, saat majelis tersebut sedang seru membahas persoalan-persoalan agama, tiba-tiba ada orang yang masuk masjid tersebut untuk shalat. Sang Ustadz mendadak berhenti, padahal orang yang baru shalat itu tidak dikenal dan penampilannya biasa-biasa saja. Tapi sang Ustadz terpana sekali ketika orang itu sholat, kemudian setelah orang tersebut keluar, sang ustadz penasaran ingin mengetahui siapa orang itu. Setelah di cari tau, ternyata orang tersebut adalah Ketua DKM sebuah masjid yang prilakunya rendah hati, dan suka menolong orang lain. Kisah tersebut menyimpulkan bahwa resonansi gelombang ruhani mukmin yang ikhlas, dapat memukau Sang Ustadz yang barang kali tidak kalah kuat pancaran gelombang ruhaninya.

Dalam Al-Quran surat Yunus ayat 57, Allah SWT berfirman:

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan mu dan jadi penyembuh bagi penyekit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.” (Q.S. Yunus : 57)

Rusullullah SAW bersabda, “Sesungguhnya untuk segala perkara itu ada obat pencucinya, sedangkan pencuci hati itu adalah dzikir (mengingat) kepada Allah.”

Dalam hadist lain Rosullullah SAW juga bersabda :

“Ingat kepada Allah itu menjadi obat yang mustajap, guna menyembuhkan segala penyakit hati.” (H.R. Bukhari Musllim)

Sesungguhnya kondisi marah, sedih, takut, panik, cemas, kecewa, khawatir, putus asa, merupakan kondisi ruhani negative yang menjadi faktor penyebab stress dan depresi, yang merupakan sumber awal penyakit- penyakit yang berbahaya bagi fisik maupun psikis.

Untuk mempositifkan ruhani yang negatif, seorang manusia harus melakukan sebuah aktivitas ruhani “Mengingat Allah”, agar kondisi spiritual ruhaninya kembali dalam keadaan positif, yang di sebut ikhlas. Keikhlasan akan membuat spiritual ruhani seseorang menjadi positif, dan membawa ia pada perasaan damai, pasrah, tenang, tentaram, berani, fokus, bijaksana, ridha, tawakal, hus’nudzon, sabar, syukur, jujur, qonaah dan bahagia.

Keikhlasan akan senantiasa membawa seorang hamba selalu mengingati Allah SWT, dan ingat kepada Allah adalah obat mustajab yang mampu menyembuhkan segala penyakit hati. Itu artinya ikhlas dapat menyehatkan spiritual ruhani manusia, karena hanya dengan mengingat Allah lah hati manusia menjadi ikhlas.

Jika seorang manusia berada dalam kondisi ruhani marah (negative), maka hendaklah ia mangingat Allah dengan mengucapkan “Astagfirullah” (Ya Allah ampuni aku) maka kondisi ruhaninya akan berubah damai (positif), dengan kondisi spiritual “memaafkan”. Begitu pun apabila seseorang berada dalam kondisi ruhani sedih (negative), maka hendaklah ia mengingat Allah dengan mengucapkan “Inalilahi wainnailaihi rojiun” (Segalanya berasal dari Allah, dan segalanya pun akan kembali pada Allah), maka kondisi ruhaninya akan berubah pasrah/berserah diri (positif), dengan kondisi spiritual “Sabar”.

Begitu pun apabila seseorang berada dalam kondisi ruhani “Takut” (negative), maka hendaklah ia mengingat Allah dengan mengucapkan “Allah hu Akbar”(Allah Maha Besar) maka kondisi ruhaninya akan berubah “Berani”, dengan kondisi spiritual “Tawakal”. Juga apabila seseorang berada dalam kondisi ruhani “Panik/Khawatir” (negative), maka hendaklah ia mengingat Allah dengan mengucapkan “La Haula Walaa Quwwata Illa Billah.”(tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah) maka kondisi ruhaninya akan berubah “Stabil/Normal”, dengan kondisi spiritual “Tawadhu”. Lalu apabila seseorang berada dalam kondisi ruhani “Cemas” (negative), maka hendak lah ia mengingat Allah. Dengan mengucapkan “La Ilaaha Illallah” (Tiada Tuhan yang Layak di Sembah Kecuali Allah) maka kondisi ruhaninya akan berubah “Tenang/tentaram”, dengan kondisi spiritual “Qona’ah”.

Selain kondisi negative karena hal-hal yang menyakitkan, kesenangan yang berlebihan juga akan menggiring pada kondisi ruhani yang negative, karena kondisi itu akan mengarah pada sikap “sombong” dan “lupa diri”. Tetapi kondisi ruhani tersebut dapat di atasi dengan mengucapkan “Alhamdulilah dan Subhanallah” (Segala Puji bagi Allah dan Maha suci Allah), maka kondisi ruhaninya akan berubah “terkendali”, dengan kondisi spiritual “Syukur”. Untuk lebih jelasnya akan di gambarkan, melalui kolom aplikasi penngendalian ruhani keikhlasan:

Aplikasi Pengendalian Ruhani Keikhlasan


“...Allah Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (Q.S. Ar-Ra’d :11)

Dalam memahami aplikasi keikhlasan, ada hukum daya tarik menarik (law of attraction) yang penting di pahami. Hukum Ketertarikan adalah hukum yang menjelaskan bahwa “Sesuatu akan menarik pada dirinya, segala hal yang satu sifat dengannya.” Pengertian sederhananya, diri kita itu merupakan suatu getaran yang terhubung di Alam Semesta ini, apabila seseorang memberikan sebuah getaran ke Alam Semesta (baik positif maupun negative), maka Alam Semesta akan memberikan getaran balik, dan mewujudkan kepada dirinya sesuai dengan getaran yang di berikan (baik positif maupun negative). Jadi keikhlasan bukanlah takdir, tetapi sebuah pilihan menurut teori ini.

Jika seorang manusia dalam perasaan dan pikirannya memancarkan gelombang ketakutan, maka hal-hal yang menakutkan lah yang akan tertarik olehnya. Begitu pula jika yang di pancarkan adalah kegembiraan, maka yang tertarik pada dirinya adalah kegembiraan. Teori ini lah yang menjelaskan mengapa orang yang selalu mengeluh, menuntut, mengumpat, menghujat saat di uji justru semakin sering mengalami kesialan, karena saat ia di uji lalu memancarkan energi negative tanpa sadar, sesungguhnya ia telah menarik, dan meminta kesialan tersebut. Sebaliknya orang yang selalu merasa beruntung dan menikmatinya (bersyukur), justru ia akan selalu mengalami keberuntungan, karena saat ia di uji lalu tetap memancarkan energi positif (bersyukur), dengan sadar atau  tanpa sadar sesungguhnya ia telah menarik dan meminta keberuntungan pada dirinya. Kesimpulannya, perasaan dan pikiran yang positif (ikhlas), untuk mencapai kualitas hidup yang paling baik.

Allah berfirman dalam hadist Qudsy “Sesungguhnya aku sesuai dengan prasangka hamba ku” (Hadist).

Jadi pikiran dan perasaan yang  terpancar ke Alam Semesta adalah doa, dan setiap doa itu pasti akan di kabulkan, oleh Dia (Allah ) yang Maha Mengabulkan doa.

Sesuai firman-Nya :

“Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".” (QS. AL-Mu’min : 60)

Pikirannya dan perasaan, baik dalam bentuk positif maupun negative adalah do’a. Dan Allah mengabulkan do’a hambanya sesuai apa yang ia pinta dan ia sangkakan (baik positif maupun negatif). Ingat, karena setiap do’a pasti di kabulkan, manusia harus berhati-hati dalam berdoa. Sebab ucapan, tindakan, dan perbuatan negatif yang terpancar dari dalam diri manusia, akan menjadi doa negative (keburukan) bagi dirinya, dan berdampak negative (buruk) pula bagi hidupnya. Sebaliknya ucapan, tindakan, dan perbuatan yang positif, akan menjadi doa yang positif dan pasti akan berdampak positif pula bagi kehidupannya.

Hukum daya tarik menarik (Law Of Attraction) energi ikhlas, sejalan dengan ilmu fisika quantum. Yang menjelaskan bahwa “Getaran yang kita keluarkan, akan di respon oleh lingkungannya, dan akan memberikan getaran balik yang sama atau lebih besar daripada getaran yang di berikan...”

Karena itu, ikhlaskan selalu hati agar ruhani manusia sehat dengan nilai-nilai positif, yang akan senantiasa memancar di setiap ucapan, tindakan, dan perbuatan dalam hidupnya. Pancaran cahaya yang bersumber dari kekuatan Tuhan yang Maha Kuasa, dengan motivasi Spiritual Illahiah, yang merupakan sumber segala sumber kekuatan segala kekuatan, penolong segala penolong, penyembuh segala penyembuh setiap ujian dan musibah yang menimpa manusia.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 101

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (Q.S. Al Baqarah: 101)

Ketika Nabi Muhammad saw. datang dengan membawa kitab yang membawa keterangan-keterangan yang membenarkan kitab Taurat yang ada pada mereka, yang mengandung pokok-pokok ajaran tauhid, dasar-dasar hukum, hikmah-hikmah dan berita tentang umat yang lalu, orang Yahudi menyampingkan ajaran kitab Taurat, padahal dalam kitab Taurat itu juga telah diisyaratkan kedatangan Nabi Muhammad saw., mereka itu tidak lagi berpegang pada ajaran Taurat. Tindakan orang-orang Yahudi yang mengenyampingkan kitab Taurat dan mengingkarinya itu berarti mereka telah melemparkan kitab Taurat itu ke belakang mereka, sehingga mereka tidak dapat mengetahuinya lagi.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 100

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. (Q.S. Al Baqarah: 100)

Allah swt. menjelaskan bahwa sebenarnya pantaslah mereka itu mengingkari ayat Allah, karena setiap mereka mengadakan perjanjian sebahagian besar mereka mengkhianati janji. Janji yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah janji mereka kepada Nabi Muhammad saw. sedang janji yang mereka buat itu tidak hanya sedikit. Tegasnya orang-orang Yahudi itu mempunyai watak yang tidak setia bahkan sebagian besar dari mereka suka menyalahi janji.

Allah swt. menerangkan dalam ayat ini ketidakjujuran yang dilakukan orang-orang Yahudi dalam menolak dan mengingkari ayat-ayat yang terdapat dalam kitab Taurat dan tidak mau lagi menjalankan ajarannya.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 99

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلا الْفَاسِقُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (Q.S. Al Baqarah: 99)

Allah swt. menerangkan bahwa ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. itu mengandung kebenaran karena antara teori-teori iktiqadiyahnya dengan dalil-dalilnya terdapat keserasian, demikian pula antara hukum-hukumnya yang bersifat amali dengan segi-segi kemanfaatannya. Tidaklah diperlukan dalil lain untuk membuktikan ayat-ayat itu, laksana cahaya yang menyinari segala sesuatu yang terang-benderang dengan sendirinya, tidak memerlukan sesuatu pun untuk membantu kecerahannya. Orang-orang yang telah dipancari kebenaran, tetapi mereka itu lebih suka mencari kegelapan sebabnya tiada lain terkecuali karena hasad pada orang yang menampakkan hak juga karena sifat congkak dan sombong yang timbul dari mereka.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 98

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (Q.S. Al Baqarah: 98)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa barangsiapa yang memusuhi Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan orang-orang yang mendekatkan diri pada-Nya, berarti orang itu telah menganiaya dirinya sendiri karena orang yang demikian itu memusuhi orang-orang yang menyampaikan seruan Allah, yang berarti pula orang itu telah mendengar seruan Allah kepada jalan yang benar, akan tetapi tidak mau mendengarkan seruan itu. Ia telah berbuat zalim karena tidak mau mendengarkan seruan sebagaimana mestinya, padahal seruan itu sangat berguna bagi dirinya sendiri.

Dalam ayat ini terdapat ancaman yang keras yang dinyatakan Allah secara terus terang, yaitu ketentuan bahwa orang-orang Yahudi digolongkan orang orang kafir karena mereka memusuhi kebenaran dan memusuhi pula setiap orang yang menyerukan kebenaran itu.

Orang-orang Yahudi semestinya harus mengerti bahwa memusuhi Alquran berarti memusuhi seluruh kitab-kitab samawiyah karena tujuan dari kitab-kitab itu hanyalah satu, yaitu memberikan hidayah pada semua manusia dan menunjuki mereka pada jalan yang lurus. Memusuhi Nabi Muhammad pun berarti ia musuhi seluruh nabi karena tugas dari nabi pada hakikatnya satu juga dan tujuannya pun juga satu.

Dzul Jalaali wal Ikraam (Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan)

Allah adalah pemilik segala kebesaran dan kemuliaan. Kebesaran Allah ditunjukkan dengan sifat-Nya yang lain, yaitu Maha Kaya, Maha Suci, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan lain-lain. Kemuliaan Allah ditunjukkan dengan sifat-sifat Maha Pemurah, Maha Luas anugerah-Nya, Maha Memberi, dan lain-lain. Semua sifat yang menunjukkan kemuliaan dan kebesaran hanya milik Allah. Semua kemuliaan dan kebesaran berasal dari Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki kebesaran dan kemuliaan jika Allah tidak mengizinkan.

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Maha Suci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. [Q.S. Ar Rahman: 78]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Dzul Jalaali wal Ikraam:

1. Tidak menyia-nyiakan kemuliaan yang diberikan Allah.
2. Menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela.
3. Selalu memuliakan Allah dengan menyebut dan mengagungkan nama-Nya.
4. Mendekatkan diri dan bersandar kepada Allah dengan rendah hati.

Kesimpulan:

Segala kebesaran dan kemuliaan adalah kepunyaan Allah semata. Allah memuliakan manusia dengan memberikan akal. Jadi, manusia harus selalu berfikir untuk memuliakan-Nya.

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 97

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al Baqarah: 97)

Alasan-alasan itu ditolak dengan menyuruh Nabi Muhammad saw. memberitahukan kepada orang-orang Yahudi, bahwa barangsiapa yang memusuhi Jibril berarti ia telah memusuhi wahyu Allah, padahal tugasnya antara lain menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad saw. Dan barangsiapa yang memusuhi wahyu Allah, berarti ia telah mendustakan Taurat dan kitab-kitab Allah yang lain.

Alasan yang dikemukakan oleh orang-orang Yahudi itu adalah alasan yang timbul dari kelemahan dan kerusakan iman. Hal ini menunjukkan bahwa permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Jibril itu tidaklah pantas dijadikan alasan untuk tidak mempercayai kitab yang diturunkan Allah. Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang permusuhan orang-orang Yahudi pada Jibril, dapat diikuti sebuah riwayat sebagai berikut; yang menyebabkan turunnya ayat ini sebagai berikut:

Bahwasanya salah seorang cendekiawan mereka yang namanya Abdullah bin Sariya bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang malaikat yang membawa wahyu. Kemudian Nabi Muhammad saw. bersabda, "Malaikat itu adalah Jibril". Kemudian Ibnu Sariya itu berkata, "Ia musuh orang-orang Yahudi. karena ia telah mengancam orang-orang Yahudi dengan ancaman menghancurkan Baitulmakdis Kemudian apa yang telah diancamkan itu telah terjadi".

Di antaranya ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Umar bin Khattab masuk ke madrasah-madrasah mereka. Kemudian Umar menyebutkan Jibril. Mereka pun berkata, "Itu adalah musuh kami. Ia telah memberitahukan pada Muhammad tentang rahasia kami. Dan ia betul-betul membuat malapetaka dan kehancuran, sedang Malaikat Mikail adalah Malaikat yang mendatangkan rahmat yang menurunkan hujan dan menimbulkan kemakmuran".