KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Makan dari Rezeki yang Halal


عن أبي هريرة –رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا ،وان الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين ..فقال تعالى " يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا... " المؤمنون /51... وقال الله تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُم ..." البقرة/172 ... ثم ذكر رجل يطيل السفر أشعث اغبر يمد يده إلى السماء يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسة حرام وغذي بالحرام فإنى يستجاب له

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, ia berkata: “Telah bersabda Rasululloh: “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya". [Muslim no. 1015]

Kata “thayyib (baik)” berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.

Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.

Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?

Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.

Kalimat “makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia. Wallaahu a’lam.

Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri


Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, sebetulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.

Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.

Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan seorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.

Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali. Andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.

Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.

Tidak Lemah, Bersedih Hati, dan Berputus Asa


Orang-orang beriman memiliki perjuangan berat dan panjang di jalan Allah. Jalan hidup mereka sering diserang musuh yang jumlahnya sangat banyak dan dengan peralatan yang lebih baik. Akan tetapi, sepanjang mereka berada di jalan Allah, mereka dapat mengatasinya.

Salah satu alasan bagi kemenangan mereka, sebagai orang beriman, mereka melakukan perjuangan dengan semangat dan kegembiraan yang besar. Inilah yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang ingkar karena mereka telah mencintai kehidupan dunia, mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka takut dan lemah serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang-orang beriman tidak mudah dilemahkan karena mereka tahu bahwa Allah selalu bersama mereka dan mereka berharap menjadi orang yang berhasil. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur`an,

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146)

Walaupun demikian, orang-orang beriman membutuhkan ibadah untuk mendapatkan semangat dan kegembiraan ini, karena sangatlah mudah tergelincir dari jalan Allah. Inilah yang diperjuangkan iblis. Pada saat-saat genting, seorang munafik berkata kepada para Sahabat Rasulullah saw. "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu," (al-Ahzab: 13) lalu ia menciptakan keputusasaan serta menimbulkan perasaan kalah. Akan tetapi, orang-orang beriman telah diperingatkan dalam Al-Qur`an mengenai semua faktor keraguan ini, "Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu." (ar-Ruum: 60)

Orang yang beriman hanya bertanggung jawab kepada dirinya dan Allah serta tidak seharusnya terpengaruh oleh kelemahan yang lain. Kekuatan musuh pun tidak dapat memengaruhi dan membuatnya takut. Seluruh hidup orang beriman hanyalah untuk Allah. Mereka akan terus beribadah demi keridhaan-Nya sampai akhir hayat. Pada sebuah ayat dijelaskan,

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139)

"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (an-Nisaa`: 104)

Balas Kezaliman dengan Memaafkan

Negeri itu menjadi saksi abadi. Di sana dahulu mereka tiada henti-hentinya menfitnahnya. Juga menyakiti dan melemparinya dengan kotoran binatang, kayu, batu, bahkan potongan besi.

Mereka juga pernah memboikotnya hingga kelaparan, mengejar, bahkan berusaha membunuhnya berkali-kali. Sampai akhirnya ia harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Mereka juga selalu mengobarkan peperangan yang membuatnya kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Namun saat dia kembali ke negeri itu sebagai pemimpin besar. Pemimpin semua kaum muslim. Kedatangannya dikawal pasukan berjumlah sepuluh ribu orang yang sangat setia dan siap melaksanakan apa pun perintahnya.

Sementara mereka yang dulu berbuat semena-mena luar biasa ketakutan. Sebagiannya bahkan melarikan diri dengan sembunyi-sembunyi.

Haruskah membalas?

Apa kiranya tindakan yang pantas diberikan Muhammad s.a.w., sang pemimpin itu, kepada penduduk negeri yang dulu sangat zalim kepadanya dan kini tak punya kekuatan apa-apa?

Apakah ia akan membalas kejahatan mereka sebagaimana dulu ketika ia lemah dan ditindas oleh mereka?

Sa’ad bin Ubadah, salah seorang komandan pasukan muslim yang memegang bendera pasukan dan merasakan betul betapa besar permusuhan bangsa arab ketika itu, berteriak dengan lantang, “Hari ini adalah hari pertempuran! Hari dihalalkan semua yang terlarang! Hari ini Allah telah membuat kalian terhina!”

Namun, Muhammad s.a.w. berkata sebaliknya, “Hari ini adalah hari Ka’bah harus dihormati! Hari ini kalian akan dimuliakan oleh Allah!”

Beliau bahkan memerintahkan agar bendera pasukan dialihkan dari saat kepada anak lelakinya karena khawatir kalau-kalau saad bertindak kasar kepada penduduk negerti itu.

Sesaat kemudian beliau berkhutbah di hadapan para tawanan yang dulu menzalimi beliau. “Menurut pendapat kalian,  tindakan apakah yang hendak aku ambil terhadap kalian?”

Mereka pun serentak menyahut, “Tentu yang baik-baik wahai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia!”

Beliau pun berkata, “Aku katakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya. Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!”

Duhai, betapa besar jiwanya. Mereka yang dulu memusuhinya mengakui kebesaran jiwa sang pemimpin itu. Hati mereka pun terbuka dan justru berbondong-bondong menjadi pengikut setianya.

Mungkin kita bisa merasakan bagaimana keharuan menyelimuti bangsa Arab ketika itu. Orang yang dahulu mereka sakiti, bahkan juga keluarga dan para Sahabatnya, justru mau memaafkan mereka.

Lebih mengharukan lagi, akibat tindakan yang spektakuler tersebut, hubungan yang dulu terputus kini tersambung kembali. Hati yang terluka tersembuhkan lagi. Yang semula lawan berubah menjadi teman. Yang sebelumnya jahat berubah menjadi sahabat. Inilah dahsyatnya memaafkan.

Sehat Jiwa

Meski memaafkan bisa melahirkan kemuliaan, kita sendiri sering merasa berat melakukannya. Yang muncul justru sikap reaktif.

Ketika ada orang yang menyakiti kita, dengan alasan keadilan, kita pun refleks membalasnya. Bahkan tidak jarang malah berlebihan.

Kalau pun tidak mampu membalas, masih ada rasa sakit tersimpan di hati. Ada rasa dendam.

Memaafkan memang terasa berat, tapi tidak memaafkan juga memberikan efek merugikan yang tidak ringan. Orang yang membawa dendam sama saja dengan membawa beban berat sepanjang waktu. Hati ini akan sakit kala teringat seseorang yang menyakiti kita. Apalagi kalau bertemu langsung.

Rasa sakit di hati itu sesungguhnya malah semakin membelenggu jiwa kita sendiri. Potensi kita tak bisa optimal karena adanya beban itu. Berpikir pun tidak jernih lagi. Selalu berprasangka negatif.

Itulah musibah besar yang bisa mematikan pertumbuhan iman kita. Lebih-lebih bisa menutup hidup kita dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah adanya iman adalah menyintai saudaranya? Amal-amal kebaikan kita pun bisa hangus terbakar karena ada hasud pada orang yang belum kita maafkan.

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Hasud dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu.” [Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Sebaliknya, dengan memaafkan, ada peluang bagi kita untuk menjadi lebih baik. Dengan memaafkan, orang yang semula memusuhi bisa menjadi teman dekat. Bahkan, menjadi pembela setia, karena mereka melihat kebesaran jiwa yang mau memaafkan.

Begitu kita mampu memaafkan, beban yang menggelayut dalam jiwa pun terlepas. Kita merasa terbebas dari belenggu. Jiwa kita pun semakin tenteram.

Mengundang Rahmat

Memaafkan termasuk perbuatan baik yang sangat utama nilainya. Memaafkan dapat mendekatkan kita pada rahmat Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Q.S. Al A’raaf: 56]

Memaafkan kesalahan orang lain bukan berarti kita membiarkan kesalahan mereka. Bukan pula kita lantas menganggap kesalahan itu sebagai kebenaran.

Kita memaafkan orangnya, tapi kita harus tetap menganggap kesalahannya sebagai sebuah kesalahan. Apalagi jika hal itu masalah prinsip.

Dengan memaafkan orangnya, kita menjadi jernih melihat masalah yang kita hadapi. Yang kita lakukan sekadar mengingatkan kesalahan mereka demi kabaikan mereka sendiri, bukan untuk melampiaskan kejengkelan kita. Dengan begitu kita bisa menjadi orang baik yang memperbaiki, shalih dan mushlih.

Membiarkan diri kita sakit hati sama sekali tak bisa menyelesaikan masalah. Lebih parah, membalasnya malah bisa kian memperburuk masalah.

Orang yang tidak mau memaafkan dan terus mempersoalkan, tidak akan mampu mengambil manfaat dan hikmah untuk kebaikan hidupnya. Rasa sakit hati juga menunjukkan kita kurang sabar dan ridha dengan ketentuan Allah Ta’ala.

Dengan tidak mau memaafkan, kita kehilangan kesempatan meraih derajat kemuliaan.  Jika kita mampu mengatasi ego dan tidak terburu menyikapi suatu masalah, kita akan mampu memaafkan dan mengambil hikmah.

Karena itu, saat hati marah, berzikirlah dengan memperbanyak istighfar. Saat zikir, hati akan lebih tenang dan jernih. Dengan zikir, rahmat Allah Ta’ala pun turun dan kita bisa akses untuk melunakkan hati.

Jika kesadaran jernih, kita bisa bersikap arif, tidak reaktif. Inilah yang dicontohkan Rasulullah s.a.w. sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka.” [Q.S. Ali Imran: 159]

Hati yang jernih dan lapang akan bisa memahami keadaan orang lain dari sudut pandang orang itu. Mengapa mereka berbuat aniaya seperti itu? Mungkin karena ketidaktahuan mereka atau karena terjepit oleh keadaan.

Dengan kejernihan dan lapangnya hati, kita pun bisa bersyukur tidak mengalami hal demikian. Peristiwa itu bisa menjadi cermin yang lebih membuka hati kita. Kita bersyukur Allah Ta’ala telah mengingatkan melalui kejadian yang menimpa kita.

Dengan kejernihan hati kita bisa membaca hikmah di balik kejadian yang menimpa kita. Karena tidak ada suatu peristiwa pun yang menimpa kecuali telah dikehendaki Allah Ta’ala.

Kita jangan hanya terjebak menyesali dan sakit hati dengan kesalahan orang lain. Tetapi lihatlah hikmah di balik kejadian semua itu. Memaafkan akan melapangkan jiwa dan melunakkan hati. Nah mari kita petik dahsyatnya memaafkan dengan belajar memaafkan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber: Buletin Hanif Edisi V, 20 April 2012

Pesan Allah Kepada Nabi Uzair


Diriwayatkan bahwa Allah telah berfirman kepada Nabi Uzair,


"Wahai Uzair.

1. Jika engkau melakukan dosa kecil, maka janganlah melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada Dzat yang engkau durhakai.

2. Jika engkau memperoleh kebaikan sedikit, maka janganlah engkau melihat kecilnya kebaikan, tetapi lihatlah kepada Dzat yang telah memberikan rezeki itu kepadamu.

3. Jika engkau tertimpa musibah, maka janganlah engkau mengadukan Aku kepada makhluk-Ku, sebab Aku juga tidak pernah mengadukanmu kepada para malaikat-Ku ketika engkau berbuat maksiat kepada-Ku."

Imam Ibnu Uyainah berkata, "Orang yang mengeluh kepada orang lain namun hatinya mampu bersabar dan ridha menerima semua ketetapan Allah, maka orang itu tidak dikatakan berkeluh kesah, sebab pernah ketika malaikat Jibril bertanya, 'Apa yang engkau rasakan?', Nabi s.a.w. yang saat itu tengah sakit menjelang wafatnya menjawab, 'Wahai Jibril, aku sedang tertimpa kecemasan dan kesusahan'."

Berkata Baik Atau Lebih Baik Diam, Serta Memuliakan Tamu


عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47] 

Kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. [Q.S. Al Isra’ : 36]

dan firman-Nya:

“Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. [Q.S. Qaff : 18]

Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.

Beliau juga bersabda, “Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

Sebagian ulama berkata, “Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat Hadits, antara lain adalah Hadits “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Sebagian ulama memaknakan Hadits ini dengan pengertian; “Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”. Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.

Allah berfirman, “Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. [Q.S. Qaaf : 18]

Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu ‘Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat pembalasan.

Kalimat “hendaklah ia memuliakan tetangganya…….., maka hendaklah ia memuliakan tamunya” , menyatakan adanya hak tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan di dalam Al Qur’an keharusan berbuat baik kepada tetangga dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jibril selalu menasehati diriku tentang urusan tetangga, sampai-sampai aku beranggapan bahwa tetangga itu dapat mewarisi harta tetangganya”.

Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.

Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan, “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”. Pengarang juga menyebutkan perkataan dalam menyambut tamu.

Selanjutnya ia berkata: Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.

Patahkan Panah


Di sebelah timur Tiongkok, ada satu keluarga yang mempunyai 20 anak. Mereka semua pandai berkuda dan memanah.

Suatu ketika, ayah mereka tiba-tiba jatuh sakit dan memanggil kedua puluh anaknya untuk berkumpul di hadapan tempat tidurnya. Sang ayah berkata, "Ayah sangat sedih, sepertinya penyakit ini terlalu parah untuk diobati dan Ayah terpaksa meninggalkan kalian selama-lamanya. Oleh karena itu, Ayah harap kalian bisa memberikan panah kalian, masing-masing satu buah. Anggaplah sebagai hadiah perpisahan kalian untuk Ayah."

Semua anaknya mencabut sebuah panah dari sarung masing-masing, dan meletakkannya di tempat tidur ayah mereka. Kemudian, si bungsu dipanggil untuk mendekat ke ayahnya. Ia diminta untuk mengambil 20 anak panah untuk dipatahkan sekaligus. Sekuat tenaga telah ia kerahkan untuk mematahkan kedua puluh anak panah itu, tetapi usahanya sia-sia. Ia hanya sanggup mematahkan sebuah anak panah.

Ayah mereka pun lantas berkata, "Kalian lihat tadi? Satu buah anak panah memang mudah dipatahkan. Lain halnya dengan 20 anak panah. Begitu juga kehidupan manusia. Kekuatan satu orang mungkin masih kurang. Tapi kalau semuanya bergabung, tentu akan tercipta kekuatan yang luar biasa. Bila suatu saat aku meninggal, aku harap kalian bisa hidup bersatu, supaya keluarga kita dapat tetap kuat dan kokoh." Sesudah menyelesaikan kalimat tersebut, ayah mereka pun menutup mata dan meninggalkan dunia ini.

Pesan Moral: 

Kekuatan kecil akan menjadi dahsyat jika digabungkan.

Faktor Pembentuk Kepribadian


'Ali r.a. pernah berkata,


1. "Jadilah manusia paling baik di sisi Allah.
2. Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu.
3. Jadilah manusia biasa dihadapan orang lain."

Syekh 'Abdul Qadir Jailani berkata, "Bila engkau bertemu dengan seseorang, hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu, 'Boleh jadi dia lebih baik di sisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya'

Jika dia orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu, 'Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa, maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada aku.'

Bila orang yang lebih tua, maka hendaknya engkau mengatakan dalam hati, 'Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.'

Jika dia orang yang 'Alim, maka katakan dalam hatimu, 'Orang ini telah diberi Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya.'

Bila dia orang yang bodoh, maka katakan dalam hatimu, 'Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada-Nya, padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan khusnul khatimah atau dengan su'ul khatimah).'

Bila dia orang yang kafir, maka katakan dalam hatimu, 'Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk Islam, lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalanku dengan amal yang buruk.'"

Dalam pandangan Islam semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status sosial, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikannya. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketaqwaannya di antara mereka. Oleh karena itu, sebagian ulama berdo'a dengan do'a berikut,


"Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersabar dan bersyukur; jadikanlah aku seorang yang hina menurut pandangan diriku sendiri; dan jadikanlah orang yang besar menurut pandangan orang lain."

Tidak Ada Yang Lebih Dicintai Daripada Allah dan Rasul-Nya Serta Berjihad di Jalan-Nya


Satu kewajiban bagi orang beriman adalah menyembah Allah. Satu-satunya alasan keberadaan kita adalah menjadi hamba-Nya. Kehidupan yang tidak didasari alasan ini berarti menolak agama Allah dan menyembah selain Allah, yang akibatnya akan membuat seseorang masuk neraka.

Dengan kata lain, kehidupan hanyalah alat bagi orang beriman. Dia harus menghargai setiap saat dalam hidupnya untuk dekat kepada Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Jika alat ini berubah menjadi tujuan -yang dilakukan oleh orang-orang ingkar- ia segera berada dalam bahaya besar.

Orang-orang beriman hidup hanya untuk satu sebab, yaitu menyembah Allah dan karenanya mereka meninggalkan keduniawian. Allah menjelaskan hal ini,

"Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."(at-Taubah: 111)

Orang-orang beriman menjual jiwa dan hartanya kepada Allah dan tidak ada lagi hak baginya. Seluruh hidupnya dibaktikan di jalan yang Allah perintahkan. Jika Allah mengaruniai mereka, mereka akan bersyukur, dan jika mereka diperintahkan berjihad di jalan-Nya, mereka tidak merasa ragu sedikit pun, bahkan jika mereka mengetahui bahwa mereka sedang menuju kematian.

Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya tidak akan lalai pada kepuasan pribadi dan tidak ada sesuatu pun di bumi ini yang dapat mencegahnya dari berjihad di jalan Allah.

Mereka mampu meninggalkan keindahan nikmat Allah dan menyerahkan jiwa mereka tanpa ragu-ragu. Sebaliknya, orang-orang ingkar tidak akan menjual harta dan jiwa mereka kepada Allah. Kekurangan iman seperti ini akan dicatat dan dibalas dalam kehidupan mendatang.

"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (at-Taubah: 24)

Keimanan yang sangat kuat pada diri para sahabat Nabi Muhammad saw. membuat mereka tidak pernah menolak pertempuran; sebaliknya, beberapa di antara mereka ada yang berurai air mata ketika mereka tidak berkesempatan berjihad bersama Rasulullah saw.. Pada ayat berikut, Allah menjelaskan perbedaan antara orang-orang yang ikhlas dan yang setengah hati.

"Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya, jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)."(at-Taubah: 91-93)

Jangan Meragukan Janji Allah s.w.t.



"Jangan sampai tidak terwujudnya suatu janji membuat Anda meragukan janji Allah s.w.t., walaupun waktunya telah jelas. Agar hal itu tidak merusak pandangan mata hati Anda dan memadamkan cahaya jiwa Anda."

Jangan sampai Anda meragukan janji Allah s.w.t., ketika suatu hari Anda merasa bahwa janji-Nya tidak kunjung terwujud. Misalnya, Allah s.w.t. menjanjikan kemenangan bagi orang-orang mukmin dalam setiap peperangan menghadapi kaum kafir dan kaum musrikin, serta akan berkuasa di muka bumi ini, kemudian Anda mendapati justru sebaliknya; umat Islam selalu menelan kekalahan, melarat, dan hidup di jurang kehancuran. Di dalam hati Anda bertanya, "Di mana janji Allah s.w.t.? Bukankah ini adalah masa pertarungan? Demikian juga dengan pertanyaan-pertanyaan yang serupa lainnya.

Bukan berarti Allah s.w.t. tidak menunaikan janji-Nya, namun waktunya belum tepat menurut-Nya, walaupun menurut Anda waktunya sudah tepat. Bisa jadi, semua elemen yang dibutuhkan belum disiapkan untuk menghadapi kemenangan umat Islam. Sehingga, jikalau diberikan kemenangan sekarang maka mereka akan hancur dengan mudah. Akhirnya, yang tersisa hanyalah penyesalan belaka.

Allah s.w.t. lebih mengetahui sesuatu yang terbaik bagi hamba-Nya, serta waktu yang tepat untuk diberikan. Jangan memprotes, mengkritik, atau berburuk sangka kepada-Nya, sebab hal itu justru akan memadamkan pandangan batin Anda. Sehingga, Anda sulit mendapatkan hidayah dan makrifat-Nya. Ujung-ujungnya, Anda akan hidup dalam kegelapan dan terus larut dalam kemaksiatan.

Allah s.w.t. berfirman,
 إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

"...Sesungguhnya, Allah tidak menyalahi janji." [Q.S. Ali 'Imran: 9]

Jangan sampai Anda meragukan janji-Nya, sebab itu adalah bukti kelemahan iman Anda. Jika iman Anda lemah maka keislaman Anda pun patut dipertanyakan. Jikalau Allah s.w.t. sudah menjanjikan sesuatu maka percayalah bahwa Dia akan memenuhinya pada waktunya, bukan pada waktu yang Anda inginkan.

Jikalau Anda mendapatkan taufiq-Nya, maka janji-Nya akan ditunaikan sesuai dengan waktu yang Anda inginkan. Maka, janganlah pernah bosan untuk memohon taufiq-Nya, agar Anda berhasil mendapatkan sesuatu yang Anda inginkan, dan tepat pada waktu yang Anda inginkan.

Bersyukur Kepada Allah


Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan tertentu, seperti anugerah-Nya. Setiap anugerah ini -hidup, keimanan, makanan, kesehatan, sepasang mata dan telinga kita- merupakan anugerah kepada manusia agar bersyukur kepada-Nya.

Ketika kita meninggalkan ketidakacuhan dan kebodohan serta berpikir dan merenung, kita pasti menyadari bahwa segala sesuatu di sekitar kita merupakan anugerah dari pencipta kita yaitu Allah. Semua makanan yang kita nikmati, udara untuk kita bernapas, keindahan di sekitar kita, mata kitalah yang membuat kita melihat semua ini. Semuanya merupakan anugerah dari Allah swt.. Sedemikian banyaknya anugerah ini sehingga digambarkan dalam Al-Qur`an,

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (an-Nahl: 18)

Tanpa diragukan lagi, semua anugerah ini diberikan dengan sebuah alasan. Tiada sesuatu pun diciptakan bagi kita untuk digunakan sebagaimana kehendak kita sendiri. Sebaliknya, alasan bagi semua kemurahan ini -apa pun bentuknya- adalah perintah kepada manusia supaya menuju ketentuan Allah. Hal ini karena segala sesuatu yang diberikan Allah mengharuskan kita bersyukur sebagai balasannya. Allahlah yang memberikan rahmat. Karena itu, kita harus menunjukkan keikhlasan bersyukur hanya kepada-Nya.

Rasa bersyukur merupakan ibadah dan juga cara untuk melindungi kita dari "penyimpangan". Tidak bersyukur berarti melangkah menuju kerusakan dan kejahatan, melupakan kelemahan-kelemahan, dan menjadi takabbur ketika mereka semakin kaya dan berkuasa. Menunjukkan rasa bersyukur kita kepada Allah berarti melindungi diri dari "kerusakan". Mereka yang menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah disertai ilmu bahwa semua yang mereka capai adalah pemberian Allah, berarti mereka mengetahui bahwasanya mereka bertanggung jawab menggunakan semua rahmat ini di jalan Allah dan seperti kehendak-Nya. Itulah rasa syukur kepada Allah yang didasari kerendahan hati dan kedewasaan para rasul. Seperti Nabi Daud a.s. atau Nabi Sulaiman a.s. yang kepadanya diberikan harta, kedudukan, dan ketundukan. Sebenarnya, peristiwa Qarun -yang menjadi ingkar disebabkan harta- adalah karena ia tidak bersyukur kepada Allah.

Jika orang beriman tidak menjadi takabbur dan melampaui batas dengan rahmat dan harta yang diberikan kepadanya, Allah akan menambahkan kenikmatan yang telah diberi. "Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim: 7)

Bersyukur tidak mesti selalu ditunjukkan dengan kata-kata. Yang justru harus dilakukan adalah menggunakan setiap anugerah di jalan yang disukai Allah. Sebagai tahap awal, tubuh yang dianugerahkan kepada kita, harus kita pergunakan untuk berjuang karena-Nya. Al-Qur`an pun memberitahukan bagaimana cara menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah, yaitu dengan menyebut semua anugerah-Nya, dengan menyampaikan "pesan"-Nya kepada semua,

"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Ad-Dhuhaa: 5-11)

Memperindah Hati


Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika seseorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!" (HR. Bukhari dan Muslim).

Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah, demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.

Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.

Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, "Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa." (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah qolbunya.

Sumber : Tabloid MQ EDISI 05/TH.1/SEPTEMBER 2000

Ki Hadjar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.[2]

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)[3].

Masa muda dan awal karier

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Als ik een Nederlander was

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, tahun 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

    "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Dalam pengasingan

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pengabdian pada masa Indonesia merdeka

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959.

Referensi

   1. ^ Ini adalah versi Perguruan Tamansiswa dan Kepustakaan Presiden Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tokohindonesia.com menyebutkan 28 April 1959 sebagai tanggal wafat.
   2. ^ Uang Kertas Bank Indonesia Pecahan: Rp. 20.000,-, Bank Indonesia, diakses tanggal 26 April 2011.
   3. ^ "DAFTAR NAMA PAHLAWAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA"

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara

Mencintai Milik Orang Lain Seperti Mencintai Miliknya Sendiri


عن أبي حمزة أنس بن مالك رضي الله عنه –خادم رسول اله صلى الله عليه وسلم قال " لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri”. [Bukhari no. 13, Muslim no. 45] 


Demikianlah di dalam Shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau tetangganya” dengan kata yang menunjukkan keraguan.

Para ulama berkata bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi :

“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”.

Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.

Abu Zinad berkata : “Secara tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.

Diriwayatkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadz, berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah : “Jika anda menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?” (tentunya anda tidak akan menasihatinya).

Sebagian ulama berpendapat : “Hadits ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu”.
Seperti tersebut pada Hadits lain :

“Orang-orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari”.

Tidak Mengikuti Kaum Yang Ingkar


Dalam menjalani hidup dengan nilai-nilai Al-Qur`an, seseorang harus meninggalkan budaya dan nilai-nilai moral masyarakat yang ingkar kepada Allah swt.. Satu hal yang pertama harus ditinggalkan adalah pemahaman cinta dalam masyarakat duniawi.

Pada masyarakat duniawi, semua hubungan dan cinta berdasarkan pada kepentingan ego pribadi. Seseorang akan bersama dengan yang lainnya bila saja ada keuntungan yang didapat dari rekannya, mendapat perhatian, atau sedikitnya diperlakukan baik. Ukuran lain adalah ikatan keluarga; seseorang mencintai yang lainnya karena mereka berasal dari keluarga yang sama, atau dari keturunan, masyarakat, dan bahkan dari bangsa yang sama.

Akan tetapi, yang demikian itu bukanlah kriteria orang-orang beriman karena orang beriman mencintai Allah melebihi sesuatu atau seseorang.

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah...." (al-Baqarah: 165)

Orang-orang yang beriman, karena mencintai Allah di atas segalanya, mencintai orang yang mencintai Allah, tidak membedakan apakah orang yang menyetujui atau benci tindakannya merupakan orang dekat ataupun jauh. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an,

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (al-Mujaadilah: 22)

Lebih jauh lagi, bila orang beriman memiliki sedikit saja cinta terhadap orang yang ingkar, itu tidak akan membuat orang beriman bersikap dengan benar. Orang-orang yang beriman diperingatkan agar tidak melakukan hal ini. Dalam Al-Qur`an dijelaskan,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus."(al-Mumtahanah: 1)

Sikap Nabi Ibrahim a.s. dan para pengikutnya menjadi contoh yang baik bagi orang-orang beriman,

"Sesungguhnya, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya, kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...." (al-Mumtahanah: 4)