KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Nasrudin Memanah

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu."

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir memanah."

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah."

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja."

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Pada Sebuah Kapal

Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.

"Teman-teman!" teriak Nasrudin. "Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!"

Wahai Manusia Hisablah Dirimu

"Wahai manusia !

Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi hidup bersuka ria.

Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi asyik mengumpulkan dan menumpuk harta.

Aku heran pada orang yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.

Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani hidupnya dengan bersantai-santai.

Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia menggandrunginya.

Aku heran pada intelektual, yang bodoh dalam soal moral.

Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.

Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain, sementara ia tidak sadar sama sekali terhadap cacat yang ada pada dirinya.

Aku heran pada orang yang yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi segala perilakunya tapi ia berbuat durjana.

Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu diminta pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya, tapi berharap belas kasih orang lain.

Sungguh.. tiada Tuhan kecuali Aku.. dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.

Wahai manusia !

Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rejeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memujiKu. Dengan pemberian yang sedikit, engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga pernah merasa kenyang.

Wahai manusia !

Setiap hari Aku mendatangkan rejeki untukmu. Sementara setiap malam malaikat datang kepadaKu dengan membawa catatan perbuatan jelekmu. Engkau makan dengan lahap rejekiKu, namun engkau tidak segan-segan pula berbuat durjana kepadaKu. Aku kabulkan jika engkau memohon kepadaKu. KebaikanKu tak putus-putus mengalir untukmu. Namun sebaliknya, catatan kejelekanmu sampai kepadaKu tiada henti.

Akulah pelindung terbaik untukmu. Sedangkan engkau hamba terjelek bagiKu. Kau raup segala apa yang Kuberikan untukmu. Kututupi kejelekan yang kau perbuat secara terang-terangan.

Aku sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikitpun tak pernah merasa malu kepadaKu. Engkau melupakan diriKu dan mengingat yang lain.

Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepadaKu engkau merasa aman-aman saja.

Pada manusia engkau takut dimarahi, tetapi pada murka-Ku engkau tak peduli."

Ikhwan fillah, bersujudlah dan bertaubatlah kepada allah SWT serta menangislah..  betapa banyak dosa yang telah kita perbuat selama ini.. lihatlah betapa banyak kelalaian yang telah kita lakukan selama ini.

"Ya Allah, kami bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surga firdausMu, tidak juga kami mampu akan siksa api nerakaMu, berilah hambaMu ini ampunan, dan hapuskanlah dosa-dosa kami, sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun, Sang Maha Agung.

Ya Allah, dosa-dosa kami seperti butiran pasir dipantai, anugrahilah kami ampunan wahai Yang Maha Agung, umur kami berkurang setiap hari sedangkan dosa-dosa kami terus bertambah, adakah jalan upaya bagi kami.

Ya Allah, hambaMu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu mengakui dosa-dosanya dan memohon kepadaMu, ampunilah, karena hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan, bila Engkau Campakkan kami, kepada siapa dan kemana kami mesti berharap selain dariMu".

"Hisablah dirimu sebelum Allah menghisabmu".

Anjuran untuk Memenuhi Hak Allah dan Hak Orang Tua

Allah SWT berfirman yang artinya, "Sembahlah Allah dan jangan kamu persekutukan dan dengan kedua orang tua berbaktilah." (An-Nisaa: 36).

Allah memerintahkan pada hambanya untuk beribadah dan tanpa persekutuan. Beribadah kepada-Nya adalah sewajib-wajib kewajiban dan sebesar-besar kebaikan, sebaliknya, meninggalkan peribadatan kepada-Nya adalah sebesar-besar kejelekan. Sesungguhnya peribadatan kepada-Nya merupakan sebab dari diciptakannya makhluk, dan sebagai sebab diutusnya rasul, dan juga sebab diturunkannya kitab.

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada Ku."

Ibadah adalah segala apa yang Allah cintai dan Allah ridhoi dari semua perkataan dan perbuatan. Wajib bagi hamba untuk melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah saja, dan tidak boleh cenderung pada selain-Nya dalam hal ibadah. Kita berdoa hanya kepada-Nya saja, meminta hanya kepada-Nya saja, meminta pertolongan hanya kepada Allah saja, dan beristighootsah hanya kepada Allah saja. Jika ditimpa kemadharotan, maka kembali kepada Allah, dan apabila mendapatkan kebaikan, bersyukur pada Allah. Dan, tidak boleh hatinya terikat dengan selain-Nya sebagai Rabnya dan Ilahnya. Hendaklah kita tidak terikat dengan selain Allah dalam mencari yang dicintai atau meninggalkan yang dibenci. Inilah hakikat beribadah kepada Allah.

"Barangsiapa yang mengaharap perjumpaan dengan Rabnya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadat kepada Rabnya." (Al-Kahfi: 110).

Oleh sebab itu, wahai saudara-saudara seiman, marilah kita ikhlaskan diri kita dalam setiap peribadatan kita, dan ketahuilah hak Allah atas kita, dan laksanakan sekuat kemampuan kita.

Ketahuilah, sesungguhnya ketaatan kepada Allah tergantung juga sejauh mana ketaatan kita dengan kedua orang tua kita, dan juga bakti kita pada keduanya, dan berbuat ihsan kepada keduanya, dan mengetahui apa yang Allah wajibkan kepada kita untuk kedua orang tua kita. Sungguh, Allah telah menggabung dua ketaatan ini dalam beberapa ayat yang mengambarkan hak Allah dan hak dua orang tua, sebagaimana makna ayat dalam surat Luqman ayat 14: "Agar bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." Maka, wajib bagi kita untuk berbuat kebajikan dan kebaikan pada kedua ibu bapak kita dan berlemah lembut padanya, dan melaksanakan perintahnya yang tidak bertentangan dengan syariat.

Berkata ibnu Abbas r.a., "Tiga ayat diturunkan dengan qarinahnya (pendampingnya) tiga juga, yang tidak dapat ayat itu diterima begitu saja tanpa ada qarinahnya (pendampingnya), sebagai mana firman Allah, "Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu."

"Apakah akan aku kabarkan kepadamu sebesar-besar dosa besar? yaitu syirik pada Allah dan durhaka pada kedua orang tua." (H.R. Bukhari).

Barangsiapa bersyukur pada Allah dan tidak bersyukur pada ibu bapaknya, maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Nabi s.a.w. menyatakan dalam salah satu riwayat: "Ridha Allah dalam keridhaan kedua orang tua, dan marah-Nya dalam kemarahan dua orang tua." (HR Muslim).

Dari ibnu ummar r.a. berkata, "Datang seorang laki-laki untuk minta izin pergi berjihad (fardu kifayah). Berkata Nabi s.a.w. kepadanya, 'Apakah orang taumu masih hidup?' Berkata dia, 'Masih'. Bersabda Nabi s.a.w., "Maka dengan keduanyalah kamu tinggal/berbakti (berjihad)'." (H.R. Muslim).

Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan mendapatkan hasil dari kebaikan itu. Orang yang berbakti kepada kedua ibu bapak adalah orang yang berpegang dengan hak-haknya. Allah mendampingkan antara hak-Nya dengan hak dua orang tua, dan syukur pada-Nya dengan syukur pada keduanya. Dari hak-hak keduanya adalah menghormatinya, dan berbuat ihsan kepadanya, dan mengerahkan jiwa harta untuk kemaslahatan keduanya, dan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapat ridhanya.

Jika sudah tua, maka berlembutlah pada keduanya dan cintailah keduanya. Serta, pikullah beban yang ada pada keduanya, jangan membuat mereka susah. Tingkatkanlah bakti kita kepada keduanya ketika telah lanjut usia dan telah lemah, sebagaimana mereka berbuat kepada kita ketika masih kecil dan lemah. Hendaklah kita berlemah lembut padanya, terutama ibu. Dialah orang yang paling berhak dalam bakti dan amal baik kita. Dialah yang menangung penderitaan ketika hamil dan melahirkan kita. Maka, sesungguhnya durhaka kepada ibu bapak itu merupakan pengingkaran terhadap kebaikan yang telah diberikan kepada kita. Sungguh celaka mereka yang durhaka kepada ibu bapak. Sungguh akan mengalami kerugian seorang yang tidur dalam keadaan ibu bapak murka kepadanya. Meskipun dengan ucapah "ah", itu termasuk menyakiti orang tua yang tidak diperkenankan oleh Allah.

Wa qul robby irhamhumaa kamarobbayaani shoghiiro.

Yaa Allah, ampunkanlah kami, kesalahan-kesalahan kami, dan juga perbuatan yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami.

Sumber: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Ikhlas Setiap Waktu

“(41) hai orang-orang yang beriman,berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya (42) dan bertasbihlah kepada-nya di waktu pagi dan petang (43) dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-nya (memohon diampun untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah dia yang maha penyayang kepada orang-orang yang beriman.“(QS.AL-AHZAB : 41-43).

Allah SWT memberikan waktu pada manusia 24 jam sehari, sama dengan 1440 menit, juga 86.00 detik perhari. Tapi dia hanya memerintahkan hambanya, menyembahnya lima kali sehari, kalau setiap shalat hamba Allah menghabiskan waktu 5 menit, maka waktu yang dihabiskan beribadah dalam sehari hanya 25 menit saja. Artinya ia masih menyisakan waktu 1415 menit, yang sayang sekali apabila waktu tersebut tidak ia gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Begitupun dengan ibadah-ibadah lain, seperti zakat dikeluarkan setahun sekali, atau disaat seorang hamba memiliki kelapangan harta. Puasa pun hanya setahun sekali dibulan Ramadhan saja, apalagi ibadah haji yang diwajibkan hanya seumur hidup sekali, itupun bagi hamba-hamba yang memiliki kemampuan.

Kalau kita coba bersikap jujur dengan amal-amal kita, apakah dengan ibadah 25 menit sehari, artinya 750 menit sebulan (12,5 jam), atau 9000 menit setahun (150 jam / 6 ¼ hari). Lalu kita kalikan dengan umur manusia misalnya 60 tahun, maka amal ibadah kita hanya 375 hari seumur hidup kita (6 ¼ hari x 60 tahun). Artinya dari 60 tahun yang Allah berikan pada manusia hanya 1 tahun lebih 10 hari waktu yang di habiskan beribadah kepada Allah. Bukan bermaksud menghitung-hitung amal, tapi coba renungi, apakah dengan ibadah shalat 1 tahun 10 hari yang belum tentu sempurna, seorang hamba mampu membayar dosa-dosanya selama 60 tahun hidup di dunia.

Begitu banyak waktu yang manusia sia-siakan dalam hidupnya, untuk tidak ia gunakan beribadah kepada Allah. Kalau seorang hamba, hanya mengandalkan amalan shalatnya saja, untuk ia pertanggung jawabkan di akhirat nanti, artinya  ia telah menyia-nyiakan waktu 58 tahun 355 hari dalam hidupnya. Itu pun kalau ibadah shalatnya sempurna, kalau tidak sempurna (tidak ikhlas), tidak khusu, apalagi hanya untuk menyombongkan diri, maka hamba tersebut telah menghabiskan waktu dalam hidupnya, melakukan amal ibadah yang sia–sia.

Coba baca firman Allah ini:

“ (1) Demi masa (waktu) (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (3) Kecuali orang–orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran, dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. AL ‘ASHR : 1 - 3)

Waktu adalah amanah Tuhan yng diberikan pada manusia, untuk digunakan sebaik mungkin untuk mencari keridhoan Allah SWT. Sesungguhnya merugi manusia yang menyia-nyiakan waktuya, hanya untuk memuaskan hawa nafsu yang tak pernah ada habisnya. Semakin manusia mengejar nafsu duniawi, maka duniawi akan semakin menjauhi dan membudakinya. Hanya orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh lah yang beruntung, karena menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah, dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun.

Ikhlas disetiap waktu adalah memurnikan niat dan tujuan hanya kapada Allah yang dilakukan oleh hamba Allah disetiap aktivitas kehidupannya mulai ia bangun dari tidur hingga ia tidur kembali. Hamba Allah yang ikhlas disetiap waktu adalah hamba yang selalu berzikir menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya, ia selalu bertasbih kapada Allah diwaktu pagi dan petang. Sehingga setiap detik waktu dalam hidupnya, ia habiskan untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah. Sesuai firmannya :

“(190) sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (191) yaitu : orang-orang yang mengingat Allah sambl berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali imran :190-191)

Mengingat Allah dimanapun ia berada, adalah ciri-ciri hamba Allah yang ikhlas disetiap waktu. Saat ia berdiri, duduk, atau berbaring dari mulai membuka mata hingga matanya terlelap kembali untuk mencari keridhaan Allah dengan berzikir dan bertasbih kepadanya. Hamba Allah yang ikhlas, disetiap mengawali aktivitas apapun dalam hidupnya ia akan memulainya dengan ucapan “bismillah”, sesuai firmannya:

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.”(QS.Al-fatihah : 1) 

Sebab apapun aktifitas yang di awali bismillah, maka aktifitas tersebut akan bernilai ibadah di mata Allah. Jadi aktifitas yang dilakukan hamba Allah, selama 24 jam di luar ibadah wajib, apabila ia awali dengan bismillah, maka aktifitas tersebut bernilai pahala di mata Allah. Sungguh beruntung hamba Allah yang setiap ucapan, tindakan, dan perbuatan dalam hidupnya bernilai ibadah di mata Allah.

Dan apapun hasil yang hamba tersebut dapatkan dari aktifitasnya, akan selalu ia syukuri dengan mengucapkan “Alhamdulillah”.

Sesuai firman-Nya dalam surat Al-fatihah:

“Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam” (QS.Al-fatihah: 2)

Ash Shamad (Maha Tempat Bergantung)

Allah pasti dibutuhkan oleh hamba-Nya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, dan meminta segala sesuatu. Semua makhluk menggantungkan harapan mereka hanya kepada Allah untuk memperoleh segala kebaikan dan kebajikan. Hanya Allah yang dapat meluluskan permohonan hamba-Nya.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah tempat meminta segala sesuatu. [Q.S. Al Ikhlash: 2]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Ash Shamad:

1. Berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dalam urusan agama dan dunia.
2. Dapat menyelamatkan urusan orang lain dengan tenaga, pikiran, dan tutur kata yang baik.
3. Menjadikan Allah sebagai tumpuan pertama dalam meminta semua keinginan kita.
4. Tidak bermohon kecuali hanya kepada Allah.

Kesimpulan:

Hanya Allah tempat kita memohon dan mengadukan segala urusan. Allah Ash Shamad sebagai satu-satunya tempat tujuan permohonan dan tumpuan harapan manusia.

Suara Gaib di Udara

Syeh Abdul Qadir Jailani adalah seorang alim ulama dan ahli sufi yang cukup dikenal keutamaan akhlak dan kemuliaan ilmunya di kalangan umat Islam. Karena sikapnya yang wara' atau dekat dengan Allah, banyak pengikutnya yang berlebih-lebihan memuliakannya.

Diceritakan, suatu hari Syeh Abdul Qodir Al-Jailani berjalan merantau seorang diri. Dalam mengarungi padang pasir yang panas terik itu ia merasa kehausan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bejana dari perak melayang di udara lalu perlahan-lahan turun kepadanya diselimuti awan di atasnya.

Saat itu diceritakan terdengar suara gaib di angkasa, "Hai Abdul Qadir, minumlah isi bejana ini. Hari ini kami telah menghalalkanmu makan dan minum semua yang selama ini kuharamkan. Dan telah kugugurkan semua kewajiban untukmu", bunyi suara gaib itu.

Sebagai orang arif, Abdul Qadir cukup tahu bahwa suara ghaib yang menyerupai wahyu itu cuma suara setan yang menggoda keteguhan imannya. Maka marahlah dia dan berkata, "Hai mal'un enyahlah engkau dari sini. Sesungguhnya aku tiada lebih mulia dibandingkan Nabi Muhammad s.a.w. di sisi Allah s.w.t. Kepada Rasulullah saja tidak mungkin berlaku ketentuan semacam itu. Barang yang diharamkan Allah selamanya tetap haram, dan kewajiban hamba kepadanya tak pernah digugurkan termasuk pada diriku", ujarnya tegar.

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri

{Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.} (QS.An-Nahl: 1)

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai kejembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai diatasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru diduga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah setan".

{Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.} (QS.Al-Baqarah:268)

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di 'genggaman yang lain' tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk.

Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan. 

Haramnya Sifat Dengki (Hasad), dan Mencari-cari Kesalahan Orang

عن أبى هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم - لا تحاسدوا ، و لا تناجشوا ، و لا تباغضوا و لا تدابروا ، و لا يبع بعضكم على بيع بعض ، و كونوا عباد الله إخوانا ، السلم أخو المسلم لا يظلمه و لا يخذله ، و لا يكذبه و لا يحقره ، التقوى ها هنا – و يشير إلى صدره ثلاث مرات – بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه و ماله و عرضه - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”.
[Muslim no. 2564]

Kalimat “janganlah saling mendengki” maksudnya jangan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain. Hal ini adalah haram. Pada Hadits lain disebutkan:
“Jauhilah olehmu sekalian sifat dengki, karena dengki itu memakan segala kebaikan seperti api memakan kayu”.

Adapun iri hati ialah tidak ingin orang lain mendapatkan nikmat, tetapi ada maksud untuk menghilangkannya. Terkadang kata dengki dipakai dengan arti iri hati, karena kedua kata ini memang pengertiannya hampir sama, seperti sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam sebuah Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud :
“Tidaklah boleh ada dengki kecuali dalam dua perkara”.

Dengki yang dimaksud dalam Hadits ini adalah iri hati.

Kalimat “jangan kamu saling menipu” , yaitu memperdaya. Seorang pemburu disebut penipu, karena dia memperdayakan mangsanya.

Kalimat “jangan kamu saling membenci” maksudnya jangan saling melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kebencian. Cinta dan benci adalah hal yang berkenaan dengan hati, dan manusia tidak sanggup untuk mengendalikannya sendiri. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :
“Ini adalah bagianku yang aku tidak sanggup menguasainya, Karena itu janganlah Engkau menghukumku dalam urusan yang Engkau kuasai tetapi aku tidak menguasainya”.

Yaitu berkenaan dengan cinta dan benci.

Kalimat “jangan kamu saling menjauh” dalam bahasa arab adalah tadaabur, yaitu saling bermusuhan atau saling memutus tali persaudaraan. Antara satu dengan yang lain saling membelakangi atau menjauhi.

Kalimat “janganlah membeli barang yang sudah ditawar orang lain” yaitu berkata kepada pembeli barang pada saat sedang terjadi transaksi barang, misalnya dengan kata-kata: “Batalkanlah penjualan ini dan aku akan membelinya dengan harga yang sama atau lebih mahal”. Atau dua orang yang melakukan jual beli telah sepakat dengan suatu harga dan tinggal akad saja, lalu salah satunya meminta tambahan atau pengurangan harga. Perbuatan semacam ini haram, karena penetapan harga sudah disepakati. Adapun sebelum ada kesepakatan, tidak haram.

Kalimat “jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” maksudnya hendaklah kamu saling bergaul dan memperlakukan orang lain sebagai saudara dalam kecintaan, kasih sayang, keramahan, kelembutan, dan tolong-menolong dalam kebaikan dengan hati ikhlas dan jujur dalam segala hal.

Kalimat “seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya”. Yang dimaksud menelantarkan yaitu tidak memberi bantuan dan pertolongan. Maksudnya jika ia meminta tolong untuk melawan kezhaliman, maka menjadi keharusan saudaranya sesama muslim untuk menolongnya jika mampu dan tidak ada halangan syar’i.

Kalimat “tidak menghinakannya” yaitu tidak menyombongkan diri pada orang lain dan tidak menganggap orang lain rendah. Qadhi ‘Iyadh berkata: “Yang dimaksud dengan menghinakannya yaitu tidak mempermainkan atau membatalkan janji kepadanya”. Pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama.

Kalimat “taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali)”. Pada riwayat lain disebutkan :
“Allah tidak melihat jasad kamu dan rupa kamu, tetapi melihat hati kamu”.

Maksudnya, perbuatan-perbuatan lahiriyah tidak akan mendapatkan pahala tanpa taqwa. Taqwa itu adalah rasa yang ada dalam hati terhadap keagungan Allah, takut kepada-Nya, dan merasa selalu diawasi. Pengertian, “Allah melihat” ialah Allah mengetahui segala-galanya. Maksud Hadits ini ialah Allah akan memberinya balasan dan mengadili, dan semua perbuatan itu dinilai berdasarkan niatnya di dalam hati. Wallaahu a’lam.

Kalimat “seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” berisikan peringatan keras terhadap perbuatan menghina. Allah tidak menghinakan seorang mukmin karena telah menciptakannya dan memberinya rezeki, kemudian Allah ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan semua yang ada di langit dan bumi ditundukkan bagi kepentingannya. Apabila ada peluang bagi orang mukmin dan orang bukan mukmin, maka orang mukmin diprioritaskan. Kemudian Allah, menamakan seorang manusia dengan muslim, mukmin, dan hamba, kemudian mengirimkan Rasul Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepadanya. Maka siapa pun yang menghinakan seorang muslim, berarti dia telah menghinakan orang yang dimuliakan Allah.

Termasuk perbuatan menghinakan seorang muslim ialah tidak memberinya salam ketika bertemu, tidak menjawab salam bila diberi salam, menganggapnya sebagai orang yang tidak akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah atau tidak akan dijauhkan dari siksa neraka. Adapun kecaman seorang muslim yang berilmu terhadap orang muslim yang jahil, orang adil terhadap orang fasik tidaklah termasuk menghina seorang muslim, tetapi hanya menyatakan sifatnya saja. Jika orang itu meninggalkan kejahilan atau kefasikannya, maka ketinggian martabatnya kembali.

Rukanah Yang Sombong

Ganti menyombongi orang yang sombong itu kadang-kadang juga perlu. Maksudnya agar orang yang sombong itu tak berlarut-larut dalam kesombongannya. Ini pernah dilakukan oleh Rasulullah kepada Rukanah orang Quraisy yang kelewat sombong.

Sebagai pegulat, Rukanah memang seorang jagoan. Pernah 10 orang lawannya dikalahkan Rukanah seorang diri. Kesombongannya pernah ditunjukkan ketika bertemu dengan Nabi. “Hai Muhammad, beranikah engkau melawan aku?”, tantangnya.

“Mengapa pula aku takut kepadamu Rukanah. Silahkan kalau ingin mencobanya”, jawab Nabi.

Maka terjadilah pergulatan seru antara Rukanah melawan Rasulullah. Meski Rukanah terkenal sebagai jagoan gulat, anehnya ia tak mampu mengalahkan Nabi. Saat Rukanah terpepet, Rasulullah mengangkat tubuhnya yang kekar itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya lalu melemparkan tubuh Rukanah ke tanah berbatu. Sambil menahan sakitnya Rukanah mengakui kekuatan Nabi. “Sungguh, aku kagum atas kekuatanmu Muhammad”, ujarnya dengan napas terengah. “Ah itu belum seberapa Rukanah, lihatlah pohon itu”, ujar Rasulullah kepada Rukanah. Dengan kekuatan tangannya pohon yang kokoh besar itu tiba-tiba roboh sendiri dan berjalan mendekati Nabi cuma dengan perintah telunjuk tangannya. Setelah menunjukkan kelebihannya itu, Rasulullah memerintahkan pohon itu kembali ke tempat asalnya. Semuanya itu terjadi sebagai mu’jizat Nabi atas izin Allah s.w.t.

“Sesuatu yang ajaib. Belum pernah aku melihat penyihir yang hebat melebihi sihirmu”, kata Rukanah. Dasar orang kafir yang sombong, Rukanah menganggap apa yang terjadi itu sebagai sihir belaka sehingga Rukanah tetap dalam kesombongan dan kekafirannya.

Rukanah mengakui kehebatan yang dilakukan Rasulullah, tetapi dia menganggap semua itu karena kekuatan sihir dan bukan karena mu’jizat yang diberikan Allah kepada Nabi. Rupanya, Allah masih belum membuka iman Rukanah yang sombong dan kafir itu. Memang Cuma Allah-lah yang bisa membuka iman seseorang.

Ikhlas Mensehatkan Jasmani Manusia

“(1.) Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (2.) dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, (3.) yang memberatkan punggungmu?.” (QS. Alam Nasyrah :1-3)

Ikhlas adalah keajaiban dalam diri manusia yang di anugrahkan Allah dalam kehidupan. Ikhlas juga kunci yang dapat membuka pintu-pintu jawaban atas segala persoalan kehidupan. Manusia hari ini terlalu mengagungkan-agungkan kemajuan peradaban modern, dengan segala pembangunan dan teknologi yang diciptakannya. Modernisasi memang membawa dampak positif bagi manusia, dengan segala kemudahan-kemudahan teknologinya dalam kehidupan. Tapi modernisasi juga ternyata membawa sisi negative, yaitu terjadinya krisis makna hidup, kehampaan spiritual, yang membuat tersingkirnya nilai-nilai Agama dan Tuhan dalam kehidupan. Akibatnya “Kehampaan Spiritual”  tersebut menjadi sumber krisis peradaban modern, yang akarnya berawal dari penolakan manusia terhadap hal-hal yang bersifat rohaniah (spiritual) dan menyingkirkannya secara gradual dalam kehidupan manusia.

Manusia modern, menjadi semakin sulit menemukan ketenangan batinnya. Hal tersebut disebabkan manusia modern, sulit menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidupnya. Baik keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Alam Semesta, atau dengan manusia lain, dan yang paling utama hubungannya dengan Tuhan (Allah). Kehidupan modern tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam nilai-nilai transeden (Ketuhanan), kebutuhan vital yang hanya bisa di gali melalui sumber “Wahyu Ilahi”. Hal tersebut membuat beberapa ilmuan, seperti Sayyd Hossein Nasr menyerukan kepada masyarakat modern untuk kembali kepada hikmah spiritual agama, dan membatasi diri dalam mengexploitasi kesenangan hidup duniawi. Sebab kondisi manusia ketika menghadirkan keberadaaan Tuhan, terbukti menghasilkan pengaruh baik (Ke-hancef-an) yang menyelubungi persepsi manusia terhadap realitas objektif Ilahi.

Hal di atas membuktikan bahwa manusia modern harus memikirkan kembali kehadiran Tuhan yang menjadi dasar (landasan) kebijakan hidup meraka. Manusia modern membutuhkan agama untuk mengobati krisis hidup yang di deritanya, agar mereka dapat menemukan kembali integritasnya dengan Alam dan Tuhan secara utuh. Sebab peradaban modern tidak dapat membuktikan dirinya mampu terlibat dalam proses perubahan dan menjadi (becoming) secara utuh.

Akibat dari “kehampaan Spiritual” tersebut terlalu banyak manusia modern yang hidup di dalam kadar stres yang cukup berat, emosi yang labil, hidup dalam ketakutan, rasa cemas yang berlebihan, mudah marah, sedih, dan panik. Akibatnya banyak manusia modern yang hidup dalam gangguan mental, yang dampak konflik kejiwaan tersebut mempengaruhi fisik manusia yang dapat menimbulkan penyakit fisik (psikomatis). Hal tersebut, berakibat pada ketidakbahagiaan hidup (krisis) manusia modern.

Stress adalah respon fisiologis, psikologis, dan prilaku dari seorang untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal maupun ekternal. Stress tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tetapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh.

Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan obat, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut tekanan darah, pilek, penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernafas, alergi, serangan jantung, hingga pembengkakan otak. Walaupun penyakit-penyakit tersebut bukanlah satu-satunya di sebabkan stres, tetapi secara ilmiah telah membuktikan bahwa penyebab gangguan-gangguan kesehatan semacam itu, biasanya bersifat kejiwaan.

Stres merupakan keadaan batin yang di liputi kekhawatiran akibat perasaan seperti takut, tidak aman, ledakan perasaan yang berlebihan, cemas, dan tekanan-tekanan lain yang dapat merusak keseimbangan hormon dalam tubuh manusia. Akibatnya tubuh manusia bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh.

Mulai kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat, penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi. Gula, kolesterol, dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah. Tekanan darah meningkat, dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak dan kadar kolesterol naik, maka hal tersebut dapat memunculkan masalah dan penyakit bagi tubuh manusia.

Stres juga dapat mengubah fungsi-fungsi normal tubuh, dan hal tersebut dapat berakibat buruk bagi kesehatan jasmani manusia. Sebab stres membuat kadar adrenalin dan kortisol didalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada dinding saluran pencernaan, penyakit pernafasan, eksim dan psoriasis. Kadar kortisol yang tinggi dapat berdampak pada terbunuhnya sel-sel otak.

Stres dan penegangan saraf, serta rasa sakit yang ditimbulkannya. Penegangan yang disebabkan stres berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan pada aliran darah di daerah tertentu di sekitar kepala, dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut.

Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah, hal tersebut akan berakibat pada rasa sakit. Sebab suatu jaringan mengalami penegangan, sangat membutuhkan banyak darah, sedangkan pasokan darah dalam jumlah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit. Disaat yang sama zat-zat seperti adrenalin dan norepinetrin, yang mempengaruhi sistem saraf selama stres berlangsung ternyata juga di keluarkan. Hal tersebut, secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot.

Demikianlah rasa sakit akibat penegangan pada stres, penegangan pada kecemasan, dan kecemasan yang memperparah rasa sakit. Salah satu dampak negatif dari serangan stres yang merusak jasmani manusia adalah serangan jantung. Penelitian menunjukkan, bahwa orang yang agresif, khawatir, cemas, tak sabaran, dengki, suka memusuhi, dan mudah tersinggung, memiliki peluang terkena serangan jantung lebih besar, dari pada orang-orang yang tidak memiliki kecenderungan sifat-sifat negatif tersebut.

Penyebabnya adalah, rangsangan berlebihan pada sistem syaraf Simpatetik, yaitu sistem saraf yang mengatur percepatan jantung, perluasan bronkia, penghambatan otot-otot halus sistem pencernaan makanan, dan sebagainya. Yang di mulai oleh hipotalamus, juga mengakibatkan pengeluaran insulin yang berlebihan, sehingga menyebabkan penimbunan kadar insulin dalam darah. Hal ini amat sangat penting, sebab tak ada satupun keadaan yang berujung pada penyakit jantung  koroner, yang memainkan peranan penting dan berbahaya pada penyakit tesebut, selain kelebihan insulin darah.

Para ilmuwan modern kedokteran telah mengakui, bahwa semakin parah tingkat stres seorang manusia, maka semakin lemah juga peran positif sel-sel darah merah di dalam darahnya. Menurut sebuah penelitian yang di kembangkan oleh Linda Naylor, pimpinan alih teknologi Univesitas Oxford, pengaruh negatif berbagai tingkatan stres pada sistem kekebalan tubuh manusia dapat di ukur. Pengkajian terhadap stres kajiwaan memiliki dampak penting pada sistem kekebalan tubuh dan berujung pada kerusakannya.

Saat dilanda stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, hormon yang tidak seimbang akan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para ilmuwan di bidang ini menyatakan, pengkajian tentang stres kejiwaan dan raga menjelaskan, bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan tubuh dari berbagai penyakit termasuk kanker terkait dengan “Stres”. Kesimpulannya stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia, mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh manusia.

Ternyata “Kehampaan Spiritual” yang menjadi sumber krisis peradaban modern, mempunyai andil besar membentuk manusia modern yang rentan pada penyakit stres dan depresi. Stres adalah sumber rusaknya keseimbangan alamiah jasmani manusia, yang berdampak munculnya banyak penyakit mematikan dalam diri manusia. Dan ikhlas adalah air suci yang mampu menyembuhkan segala penyakit yang di akibatkan “Kehampaan Spiritual”, yang menjadi sumber penyebab stres yang menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern.

Ibu Sejati

Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda.

Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayi itu.

Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa.

Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan. Baginda memanggil Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan algojo tidak ada di tempat.

Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggil algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.

"Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?" kata kedua perempuan itu saling memandang. Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog.

"Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?"

"Tidak, bayi itu adalah anakku." kata kedua perempuan itu serentak.

"Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata." kata Abu Nawas mengancam.

Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris.

"Jangan, tolong jangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu." kata perempuan kedua. Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsung menyerahkan kepada perempuan kedua.

Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata. Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Dan sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadi penasehat hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak. la lebih senang menjadi rakyat biasa.

Pengertian Zuhud

Ibnu ‘Abbas r.a. berkata, “Zuhud (az-zuhdu) terdiri dari tiga huruf, yaitu: zaa’, haa’, dan daal.

1. Zaa’ maksudnya zaadun li ma’aad (bekal untuk kembali ke akhirat, yakni taqwa);
2. Haa’ maksudnya hudan lid diin (petunjuk untuk mengikuti Islam); dan
3. Daal maksudnya dawaam ‘alath thoo’ah (terus-menerus dalam melakukan ketaqwaan).”

Dalam kesempatan lain Ibnu ‘Abbas r.a. mengatakan, “Zuhud (az-zuhdu) terdiri dari tiga huruf, yaitu zaa’, haa’, dan daal.

1. Zaa’ maksudnya tarkuz ziinah (meninggalkan kemegahan dan kemewahan);
2. Haa’ maksudnya tarkul hawaa (meninggalkan kesenangan hawa nafsu)
3. Daal maksudnya tarkud dun-yaa (menjauhi keduniawian).”

Al Ahad (Maha Esa)

Allah tidak berputra dan tidak diputrakan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa menyamai-Nya. Dzat, sifat, dan perbuatan Allah esa. Dialah satu-satu sesembahan yang wajib kita sembah. Tidak ada sesembahan lain selain Allah Yang Maha Esa. Segala ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa." [Q.S. Al Ikhlas: 1]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Ahad:

1. Harus percaya bahwa Allah hanya satu dan tak ada sesembahan lain selain Allah.
2. Harus beribadah hanya demi Allah dan untuk mencari ridha Allah.
3. Tidak boleh menghambakan diri kita kepada selain Allah.

Kesimpulan:

Allah Al Ahad berarti Allah Maha Esa. Allah adalah satu dan tidak ada Tuhan selain Dia. Jika memang ada Tuhan selain Dia, akan rusak seluruh alam semesta. Hanya Dia yang wajib kita sembah.

Amal Duniawi

Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. menjenguk Fatimah yang sedang menggiling tepung. Rasulullah s.a.w. heran, karena Fatimah tampak menangis. Mengapa? Putri Rasulullah s.a.w. ini mengaku air matanya meleleh karena kesibukannya yang terus silih berganti tiada henti. Kepada ayahnya, Fatimah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki budak yang bisa membantu semua pekerjaannya di rumah.

Rasulullah pun mendekatinya. Beliau lalu menghibur putrinya, "...Allah berkehendak mencatat kebaikan, menghapus keburukan, dan mengangkat derajatmu jika engkau menunaikan tugas-tugas keseharianmu sebagai seorang istri dengan baik."

Rasulullah kemudian bersabda bahwa seorang wanita yang dapat berperan sebagai istri yang baik bagi suaminya, dan sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya, maka ia akan diberi derajat yang sangat mulia oleh Allah s.w.t.

Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan, jika seorang ibu meminyaki sendiri rambut anak-anaknya, menyisirinya, mencuci baju-baju mereka sendiri, maka pahala yang ia peroleh laksana amal memberi makan seribu orang yang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang (tak mempunyai pakaian).

Kisah dan hadits di atas memberi pemahaman yang dalam kepada kita bahwa hendaknya kita tidak membuat dikotomi atas amal kita antara yang "duniawi" dan "ukhrawi", sehingga kita mengunggulkan yang satu dan meremehkan yang lain.

Sebab, tidak jarang, apa yang kita anggap remeh ternyata sebenarnya mengandung kemuliaan yang sangat tinggi. Kita mungkin sering berpikiran bahwa amal-amal yang mulia yang "ukhrawi", yang kental nuansa ritual sakralnya seperti jihad, haji, shalat nafilah. dzikir, dan tadarus.

Kesibukan sehari-hari, misalnya, kerja di kantor, di pabrik, di toko, di jalan-jalan, demi menafkahi keluarga di rumah, atau kesibukan di dalam rumah semisal mengurus rumah dan mengasuh anak, yakni amal-amal profan, "duniawi", kita anggap remeh temeh, biasa-biasa saja, bukan amal yang utama dan mulia.

Padahal, merujuk pada kisah dan sabda Rasul di atas, jelas sekali bahwa pemahaman seperti itu keliru. Dalam sudut pandang dan skala tertentu, amal-amal profan, "amal-amal duniawi" justru sangat tinggi nilainya di hadapan Allah s.w.t., selama dilakukan dengan cara dan niat yang baik, sesuai tuntunan yang disunnahkan Rasul.

Suatu kali, ketika Rasul sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, ada seorang pemuda yang kekar dan perkasa lewat. Para sahabat berkata, "Ah, andaikan kekekaran dan keperkasaannya digunakan untuk berjihad di medan perang sabilillah, betapa bagusnya."

Tetapi apa komentar Rasulullah s.a.w.?

Beliau sama sekali tidak sepakat dengan cara pandang seperti itu. "Andaikan ia masih punya orangtua di rumah, ia lebih baik menggunakan kekuatannya untuk mengurus orangtuanya daripada berjihad. Atau, jika dengan keperkasaanya itu ia bekerja mencari nafkah buat dirinya sendiri agar tidak bergantung pada orang lain, itu jauh lebih baik daripada jihad."