KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Tiga Penambah Daya Ingat

Ali r.a. berkata,

“Tiga hal yang dapat memperkuat hafalan dan membersihkan lendir yaitu:

1. Bersiwak
2. Berpuasa; dan
3. Membaca Al Qur’an

Sesama Muslim Wajib Saling Bantu

عن ابي هريرة – رضي الله عنه قال- عن النبي صلى الله عليه و سلم قال - من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من مرب يوم القيامة ، ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا و الآخرة ، ومن ستر مسلما ستره الله فى الدنيا و الآخرة ، و الله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه . و من سلط طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا الى الجنة ، وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله و يتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة و حفتهم الملائكة و ذكرهم الله في من عنده ، و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه - رواه مسلم بهذا اللفظ
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalannya, maka tidak akan dipercepat kenaikan derajatnya”. (Lafazh riwayat Muslim)
[Muslim no. 2699]

Hadits ini amat berharga, mencakup berbagai ilmu, prinsip-prinsip agama, dan akhlaq. Hadits ini memuat keutamaan memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang mukmin, memberi manfaat kepada mereka dengan fasilitas ilmu, harta, bimbingan atau petunjuk yang baik, atau nasihat dan sebagainya.

Kalimat “barang siapa yang menutup aib seorang muslim” , maksudnya menutupi kesalahan orang-orang yang baik, bukan orang-orang yang sudah dikenal suka berbuat kerusakan. Hal ini berlaku dalam menutup perbuatan dosa yang terjadi. Adapun bila diketahui seseorang berbuat maksiat, tetapi dia meragukan kemaksiatannya, maka hendaklah ia segera dicegah dan dihalangi. Jika tidak mampu mencegahnya, hendaklah diadukan kepada penguasa, sekiranya langkah ini tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Adapun orang yang sudah tahu bahwa hal itu maksiat tetapi tetap melanggarnya, hal itu tidak perlu ditutupi, Karena menutup kesalahannya dapat mendorong dia melakukan kerusakan dan tindakan menyakiti orang lain serta melanggar hal-hal yang haram dan menarik orang lain untuk berbuat serupa. Dalam hal semacam ini dianjurkan untuk mengadukannya kepada penguasa, jika yang bersangkutan tidak khawatir terjadi bahaya. Begitu pula halnya dengan tindakan mencela rawi hadits, para saksi, pemungut zakat, pengurus waqaf, pengurus anak yatim, dan sebagainya, wajib dilakukan jika diperlukan. Tidaklah dibenarkan menutupi cacat mereka jika terbukti mereka tercela kejujurannya. Perbuatan semacam itu bukanlah termasuk menggunjing yang diharamkan, tetapi termasuk nasihat yang diwajibkan.

Kalimat “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. Kalimat umum ini maksudnya ialah bahwa seseorang apabila punya keinginan kuat untuk menolong saudaranya, maka sepatutnya harus dikerjakan, baik dalam bentuk kata-kata ataupun pembelaan atas kebenaran, didasari rasa iman kepada Allah ketika melaksanakannya. Dalam sebuah hadits disebutkan tentang keutamaan memberikan kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan dan keutamaan seseorang yang menuntut ilmu. Hal itu menyatakan keutamaan orang yang menyibukkan diri menuntut ilmu. Adapun ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syar’i dengan syarat niatnya adalah mencari keridhaan Allah, sekalipun syarat ini juga berlaku dalam setiap perbuatan ibadah.

Kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum disalah satu masjid untuk membaca Al-Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya” menunjukkan keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama di Masjid.

Kata-kata “sakinah” dalam hadits, ada yang berpendapat maksudnya adalah rahmat, akan tetapi pendapat ini lemah karena kata rahmat juga disebutkan dalam hadits ini.

Pada kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum” kata “kaum” disebutkan dalam bentuk nakiroh, maksudnya kaum apa saja yang berkumpul untuk melakukan hal seperti itu, akan mendapatkan keutamaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak mensyaratkan kaum tertentu misalnya ulama, golongan zuhud atau orang-orang yeng berkedudukan terpandang. Makna kalimat “Malaikat menaungi mereka” maksudnya mengelilingi dan mengitari sekelilingnya, seolah-olah para malaikat dekat dengan mereka sehingga menaungi mereka, tidak ada satu celah pun yang dapat disusupi setan. Kalimat “diliputi rahmat“ maksudnya dipayungi rahmat dari segala segi. Syaikh Syihabuddin bin Faraj berkata: “menurut pendapatku diliputi rahmat itu maksudnya ialah dosa-dosa yang telah lalu diampuni, Insya Allah”

Kalimat “Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain disisi-Nya” mengisyaratkan bahwa, Allah menyebutkan nama-nama mereka dilingkungan para Nabi dan para Malaikat yang utama. Wallaahu a’lam.

Kera Jadi Raja

Sang Raja hutan "Singa" ditembak pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Tak berapa lama seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak. "Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang," ujarnya. "Kalau gitu Badak saja, kau kan amat kuat," kata binatang lain. "Tidak-tidak, penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali." "Oh…mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..", ujar binatang-binatang lain. "Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat," sahut gajah.

Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, "Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa". "Tidak mungkin," jawab tupai. "Coba kalian semua perhatikan aku…, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja," ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat-lezat.

Binatang-binatang menjadi kesal, terutama srigala. Srigala berpikir, "bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak". Srigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. "Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezat, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu," ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama srigala. Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. "Tolong…tolong," teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.

"Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya," ujar srigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah. TAMAT

Pesan Moral : Perlakukanlah teman-teman kita dengan baik, janganlah sombong dan bermalas-malasan. Jika kita sombong dan memperlakukan teman-teman semena-mena, nantinya kita akan kehilangan mereka.

Al Muqtadir (Maha Menentukan)

Tidak seorang pun mampu menghentikan kehendak dan kekuasaan-Nya. Allah menguasai dan menentukan segala sesuatu. Apabila menghendaki sesuatu, Dia cukup memerintahkan, "Kun fayakun" (jadilah maka jadilah). Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menghalangi kekuasaan Allah. Meskipun sangat berkuasa dan mampu melakukan apa pun yang diinginkan, Allah tidak senantiasa melakukannya.

أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ

Atau Kami perlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sungguh, Kami berkuasa atas mereka. [Q.S. Az Zukhruf: 42]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muqtadir:

1. Selalu berusaha dan berdoa kepada Allah dalam meraih keinginan.
2. Mengembalikan semua urusan kepada Allah apabila keinginan kita tidak tercapai.
3. Tidak menjadi orang yang sombong.

Kesimpulan:

Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia kuasa menjatuhkan sanksi dan melimpahkan rahmat kepada yang dikehendaki-Nya.

Amanah

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tapi semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh" (Q.S. Al Ahzab [33]: 72). Kepercayaan memegang peranan amat penting dalam pelbagai aspek kehidupan. Manusia sendiri sejak awal sudah diberikan kepercayaan oleh Allah s.w.t. untuk menjadi khalifah di muka bumi. Misi ini tidak lain untuk memakmurkan dan memelihara perdamaian.

Namun demikian, memelihara kepercayaan itu tidaklah mudah, bahkan sangat berat. Karenanya, banyak orang yang tidak kuat, hingga akhirnya mereka khianat atau ingkar terhadap amanah itu. Allah s.w.t. sendiri sebenarnya sudah mengetahui bahwa sebagian orang sering ingkar terhadap amanah itu. Dalam kitab Tafsirnya Ibn Katsir menjelaskan bahwa maksud amanah dalam ayat itu adalah menjalankan tugas-tugas keagamaan. Dan tugas-tugas keagamaan ini menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Amanah adalah suatu kepercayaan yang ditanggung oleh seseorang untuk mewujudkan kepercayaan atau membuktikan dalam kenyataan dan perilakunya. Sehingga kalau manusia bisa bersikap dan berperilaku amanah, maka dunia ini akan aman dan damai. Tetapi, karena manusia sering zalim atau mencederai amanah atau kepercayaan, maka dunia ini menjadi kacau.

Karena itu, jika seorang pemimpin sudah tidak bisa bersikap amanah, maka yang bersangkutan dan yang dipimpinnya tinggal menunggu waktu kehancuran. Karena sekuat manusia menutup ketidakjujurannya, pasti suatu saat akan ketahuan juga. sekali diketahui tidak bisa dipercaya, maka orang tersebut sulit untuk mendapat kepercayaan lagi.

Biasanya Allah s.w.t. menguji amanah kepada hamba-Nya itu pada tiga persoalan. Pertama soal takhta atau jabatan, kedua soal wanita dan ketiga pada harta. Sumber kerusakan di muka bumi ini juga sering berawal dari tiga persoalan ini.

Seorang penguasa atau pemimpin yang tidak amanah dalam jabatannya, tentu ia juga tidak amanah pada yang lain. Misalnya, meski punya istri ia suka diam-diam berbuat serong dengan wanita lain. Karena serong, ia mungkin juga tidak beres mengelola keuangan. Sehingga dapat disimpulkan, jika seseorang tidak bisa dipercaya untuk suatu urusan, ada kemungkinan ia telah melakukan khianat atau dusta secara akumulatif pada aspek kehidupan lainnya.

Kan'an Yang Sombong

Iman dan hidayah itu urusan Allah. Jangankan manusia biasa, seorang nabipun seperti Nabi Nuh a.s. tak mampu membuka iman seseorang yang nota bene itu Kan'an anaknya sendiri. Ini dibuktikan dalam suatu riwayat ketika air bah melanda negeri itu sebagai kutukan Allah terhadap ummat Nabi Nuh yang ingkar.

Saat itu Nabi Nuh dan beberapa ummatnya beriman kepada Nabi Nuh sudah naik ke atas perahu menyelamatkan diri. Perlahan-lahan air bah itu mulai menggenangi negeri dan menenggelamkan rumah-rumah dan pepohonan.

Meski genangan air makin meninggi Kan'an putera Nabi Nuh tetap saja tak mau ikut ayah dan kaumnya yang lain dalam perahu. Dengan sombongnya, Kan'an naik ke gunung dan mengatakan dengan congkak bahwa tak mungkin air menggenangi gunung yang tinggi itu.

"Marilah anakku ikut kami ke dalam kapal bersama orang-orang beriman lainnya. Balak Tuhan telah datang ke negeri ini", himbau Nabi Nuh kepada anaknya. Dasar iman masih tertutup, Kan'an yang congkak itu tetap memilih berdiam di gunung bersama orang-orang kafir lainnya.

"Aku akan selamat berada di gunung ini", jawabnya congkak. Karena sudah tak bisa dinasehati lagi, dengan sedih Nabi Nuh membiarkan anaknya tak ikut bersama dalam perahunya. Ia berpasrah diri kepada Allah bahwa hanya Allah yang berhak membuka iman dan hidayah seseorang kendati itu terhadap anaknya sendiri.

Benar juga, air bah itu makin lama makin membumbung menenggelamkan Kan'an yang berlindung di puncak gunung itu. Kan'an anak kandung Nabi Nuh akhirnya tewas tertelan air bah dalam kekafiran di hadapan ayahnya yang tak bisa berbuat apa-apa.

Manfaat Semangat Dan Kegembiraan Bagi Orang-Orang Beriman


Memperoleh Kekuasaan dan Kekuatan

Sepanjang hayatnya orang-orang berupaya untuk mencari jalan guna memperoleh kekuatan mental dan fisik. Demi tercapai tujuan ini mereka pun menggunakan pengobatan dan ilmu pengetahuan dengan harapan mendapatkan hasil dari berbagai obat-obatan atau latihan-latihan mental. Meskipun demikian, mereka tidak berhasil mendapatkan formula yang dapat membuat mereka tetap tangkas, bersemangat, dan enerjik hingga akhir hayatnya.

Satu-satunya cara yang dapat membuat seseorang dapat tetap kuat dan cekatan secara mental dan fisik adalah iman. Ketakwaan kepada Allah di dalam hati seseorang membuatnya cekatan, waspada, dan kuat setiap saat. Allah mengaruniai orang-orang beriman kekuatan ini karena keimanan mereka kepada-Nya dan mengamalkan al-Qur'an, lagi pula hasrat dan semangat orang-orang beriman dalam memperoleh keridhaan Allah memberikan kepada mereka kekuatan yang tak terbatas. Karena senantiasa mengingat fakta bahwa kehidupan di dunia ini adalah singkat saja dan kematian serta pengadilan adalah dekat, senantiasa menjadi sumber motivasi dan aktivitas mereka. Semangat mereka yang berkaitan dengan iman ini tidak memungkinkan adanya rasa putus asa dan kekecewaan serta memberikan energi yang segar untuk melakukan amal-amal kebajikan satu demi satu, siang dan malam.

Selain kekuatan fisik, orang-orang beriman juga memiliki kesadaran dan keinsyafan yang jernih. Mereka dapat merasakan dengan cepat sisi-sisi yang rumit dari peristiwa-peristiwa, membuat solusi yang terang yang tidak dapat dilihat oleh orang-orang lainnya, mengidentifikasi kejadian-kejadian dengan cara yang paling komprehensif, dan menarik kesimpulan-kesimpulan paling akurat. Bahkan pada saat-saat kecapaian pun, mereka memiliki kesadaran yang tajam karena semangat yang ada pada diri mereka. Mereka menjalankan tugas-tugas mereka dengan cara setepat dan sesempurna mungkin dan, dengan kehendak Allah, memperoleh hasil-hasil yang sukses. Singkatnya, mereka memperlihatkan kemantapan dan kekuatan yang tak terkira dalam mengerjakan apa saja yang mereka lakukan dan tidak pernah loyo. Bilamana mereka tidak mencapai keberhasilan yang segera, mereka tidak pernah merasa putus asa dan kehilangan komitmen mereka, karena menyadari bahwa hasil akhir dari setiap amal senantiasa layak bagi orang-orang beriman.

Mendapatkan Bantuan dan Dukungan dari Allah

"Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa." (Q.s. al-Hajj: 40).

Dalam ayat ini Allah menjanjikan pertolongan-Nya kepada mereka yang berpegang teguh kepada agama mereka dengan bersemangat. Di dalam al-Qur'an, Allah memberikan contoh mengenai Thalut dan pasukannya. Beberapa orang anggota pasukan Thalut yang akan bertempur dengan pasukan Jalut menunjukkan keloyoan dan berlagak seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan untuk bertempur. Meskipun demikian, mereka yang memiliki iman sejati kepada Allah dan mengabdi kepada-Nya dengan penuh semangat memperlihatkan keberanian dan berkata:

"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.s. al-Baqarah: 249).

Mereka mencari perlindungan kepada Allah, maka Allah pun menolong hamba-hamba yang saleh ini dengan bantuan-Nya dan memenangkan mereka atas pasukan Jalut, sekalipun jumlah mereka sedikit. Kejadian ini diceritakan di dalam al-Qur'an sebagai berikut:

"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu Allah berkata: 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa: 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (Q.s. al-Baqarah: 249-51).

Selain itu, Allah menambahkan keimanan yang lebih banyak lagi atas iman para hamba-Nya yang berbakti dan menguatkan mereka dengan mengirimkan ketenangan ke dalam hati-hati mereka manakala mereka berpegang teguh kepada agama. Perasaan tenang ini membuat mereka tidak merasa cemas atas apa pun yang akan menimpa mereka. Bantuan Allah kepada orang-orang beriman untuk membangkitkan semangat mereka, dinyatakan di dalam al-Qur'an:

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.s. al-Fath: 4).

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." (Q.s. al-Fath: 18).

"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir." (Q.s. at-Taubah: 26).

Kita juga diberitahu di dalam al-Qur'an bahwa manakala orang-orang kafir membuat rencana untuk membunuh Nabi saw., Allah menolongnya dengan menurunkan ketenangan:

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang1 ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.s. at-Taubah: 40).

Pertolongan Allah, sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur'an, adalah salah satu ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang beriman di dunia ini karena semangat mereka. Pahala yang mereka dapatkan di akhirat nanti, pada satu sisi, tentu saja lebih besar.

Memperoleh Surga

Allah telah memberi kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh:

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.' Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (Q.s. al-Baqarah: 25).

Allah akan mengaruniakan kenikmatan-kenikmatan ini kepada mereka sebagai balasan atas semangat dan usaha yang telah mereka perlihatkan dalam kehidupan di dunia ini. Orang-orang beriman mengamalkan ayat ini:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi." (Q.s. Ali Imran: 123).

Mereka mencurahkan segala upaya mereka untuk mencapai surga, karena Allah berfirman:

"Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." (Q.s. al-Baqarah: 158).

Allah membalas amal-amal kebajikan yang dikerjakan secara tulus ikhlas dan sepenuh hati, dengan demikian orang-orang beriman akan mendapat pahala untuk segala amal yang mereka kerjakan dengan ikhlas, sekalipun hanya sebesar atom. Dengan demikian, mereka akan merasa ridha terhadap Tuhan mereka dan Tuhan mereka pun akan merasa ridha kepada mereka:

"Allah berfirman: 'Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar'." (Q.s. al-Ma'idah: 119).

Kepada orang-orang yang benar akan dikatakan:

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (Q.s. al-Fajr: 27-30).

Catatan:

1 Yang kedua adalah Abu Bakar r.a., sahabat Nabi

Al Qaadir (Maha Kuasa)


Allah memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tetapi kekuasaan ini hanya digunakan untuk mengatasi orang-orang yang melakukan aniaya.

Mereka yang telah melakukan aniaya akan diazab oleh Allah SWT dengan kekuasaan-Nya. Misalnya, orang yang selalu merusak lingkungan, akan diazab Allah dengan banjir dan tanah longsor.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

Katakanlah (Muhammad), "Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain... [Q.S. Al An'am: 65]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Qaadir:

1. Memberi maaf saat kita tengah berkuasa dan mampu untuk membalas.
2. Menggunakan kekuatan dan kekuasaan untuk membarantas kezaliman.
3. Menggunakan kekuasaan serta kemampuan untuk kebaikan diri sendiri dan seluruh umat manusia.
4. Selalu tunduk kepada Allah karena kita tidak dapat mengalahkan kekuasaan Dia.

Kesimpulan:

Allah kuasa atas segala sesuatu. Allah kuasa untuk menetapkan atau menentukan sesuatu, mencabut atau memberi sesuatu tanpa ada yang dapat mencegahnya. Segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah dan semua tunduk kepada-Nya.

Nasrudin Memanah

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu."

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir memanah."

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah."

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja."

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Pada Sebuah Kapal

Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.

"Teman-teman!" teriak Nasrudin. "Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!"

Wahai Manusia Hisablah Dirimu

"Wahai manusia !

Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi hidup bersuka ria.

Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi asyik mengumpulkan dan menumpuk harta.

Aku heran pada orang yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.

Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani hidupnya dengan bersantai-santai.

Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia menggandrunginya.

Aku heran pada intelektual, yang bodoh dalam soal moral.

Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.

Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain, sementara ia tidak sadar sama sekali terhadap cacat yang ada pada dirinya.

Aku heran pada orang yang yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi segala perilakunya tapi ia berbuat durjana.

Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu diminta pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya, tapi berharap belas kasih orang lain.

Sungguh.. tiada Tuhan kecuali Aku.. dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.

Wahai manusia !

Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rejeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memujiKu. Dengan pemberian yang sedikit, engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga pernah merasa kenyang.

Wahai manusia !

Setiap hari Aku mendatangkan rejeki untukmu. Sementara setiap malam malaikat datang kepadaKu dengan membawa catatan perbuatan jelekmu. Engkau makan dengan lahap rejekiKu, namun engkau tidak segan-segan pula berbuat durjana kepadaKu. Aku kabulkan jika engkau memohon kepadaKu. KebaikanKu tak putus-putus mengalir untukmu. Namun sebaliknya, catatan kejelekanmu sampai kepadaKu tiada henti.

Akulah pelindung terbaik untukmu. Sedangkan engkau hamba terjelek bagiKu. Kau raup segala apa yang Kuberikan untukmu. Kututupi kejelekan yang kau perbuat secara terang-terangan.

Aku sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikitpun tak pernah merasa malu kepadaKu. Engkau melupakan diriKu dan mengingat yang lain.

Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepadaKu engkau merasa aman-aman saja.

Pada manusia engkau takut dimarahi, tetapi pada murka-Ku engkau tak peduli."

Ikhwan fillah, bersujudlah dan bertaubatlah kepada allah SWT serta menangislah..  betapa banyak dosa yang telah kita perbuat selama ini.. lihatlah betapa banyak kelalaian yang telah kita lakukan selama ini.

"Ya Allah, kami bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surga firdausMu, tidak juga kami mampu akan siksa api nerakaMu, berilah hambaMu ini ampunan, dan hapuskanlah dosa-dosa kami, sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun, Sang Maha Agung.

Ya Allah, dosa-dosa kami seperti butiran pasir dipantai, anugrahilah kami ampunan wahai Yang Maha Agung, umur kami berkurang setiap hari sedangkan dosa-dosa kami terus bertambah, adakah jalan upaya bagi kami.

Ya Allah, hambaMu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu mengakui dosa-dosanya dan memohon kepadaMu, ampunilah, karena hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan, bila Engkau Campakkan kami, kepada siapa dan kemana kami mesti berharap selain dariMu".

"Hisablah dirimu sebelum Allah menghisabmu".

Anjuran untuk Memenuhi Hak Allah dan Hak Orang Tua

Allah SWT berfirman yang artinya, "Sembahlah Allah dan jangan kamu persekutukan dan dengan kedua orang tua berbaktilah." (An-Nisaa: 36).

Allah memerintahkan pada hambanya untuk beribadah dan tanpa persekutuan. Beribadah kepada-Nya adalah sewajib-wajib kewajiban dan sebesar-besar kebaikan, sebaliknya, meninggalkan peribadatan kepada-Nya adalah sebesar-besar kejelekan. Sesungguhnya peribadatan kepada-Nya merupakan sebab dari diciptakannya makhluk, dan sebagai sebab diutusnya rasul, dan juga sebab diturunkannya kitab.

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada Ku."

Ibadah adalah segala apa yang Allah cintai dan Allah ridhoi dari semua perkataan dan perbuatan. Wajib bagi hamba untuk melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah saja, dan tidak boleh cenderung pada selain-Nya dalam hal ibadah. Kita berdoa hanya kepada-Nya saja, meminta hanya kepada-Nya saja, meminta pertolongan hanya kepada Allah saja, dan beristighootsah hanya kepada Allah saja. Jika ditimpa kemadharotan, maka kembali kepada Allah, dan apabila mendapatkan kebaikan, bersyukur pada Allah. Dan, tidak boleh hatinya terikat dengan selain-Nya sebagai Rabnya dan Ilahnya. Hendaklah kita tidak terikat dengan selain Allah dalam mencari yang dicintai atau meninggalkan yang dibenci. Inilah hakikat beribadah kepada Allah.

"Barangsiapa yang mengaharap perjumpaan dengan Rabnya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadat kepada Rabnya." (Al-Kahfi: 110).

Oleh sebab itu, wahai saudara-saudara seiman, marilah kita ikhlaskan diri kita dalam setiap peribadatan kita, dan ketahuilah hak Allah atas kita, dan laksanakan sekuat kemampuan kita.

Ketahuilah, sesungguhnya ketaatan kepada Allah tergantung juga sejauh mana ketaatan kita dengan kedua orang tua kita, dan juga bakti kita pada keduanya, dan berbuat ihsan kepada keduanya, dan mengetahui apa yang Allah wajibkan kepada kita untuk kedua orang tua kita. Sungguh, Allah telah menggabung dua ketaatan ini dalam beberapa ayat yang mengambarkan hak Allah dan hak dua orang tua, sebagaimana makna ayat dalam surat Luqman ayat 14: "Agar bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." Maka, wajib bagi kita untuk berbuat kebajikan dan kebaikan pada kedua ibu bapak kita dan berlemah lembut padanya, dan melaksanakan perintahnya yang tidak bertentangan dengan syariat.

Berkata ibnu Abbas r.a., "Tiga ayat diturunkan dengan qarinahnya (pendampingnya) tiga juga, yang tidak dapat ayat itu diterima begitu saja tanpa ada qarinahnya (pendampingnya), sebagai mana firman Allah, "Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu."

"Apakah akan aku kabarkan kepadamu sebesar-besar dosa besar? yaitu syirik pada Allah dan durhaka pada kedua orang tua." (H.R. Bukhari).

Barangsiapa bersyukur pada Allah dan tidak bersyukur pada ibu bapaknya, maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Nabi s.a.w. menyatakan dalam salah satu riwayat: "Ridha Allah dalam keridhaan kedua orang tua, dan marah-Nya dalam kemarahan dua orang tua." (HR Muslim).

Dari ibnu ummar r.a. berkata, "Datang seorang laki-laki untuk minta izin pergi berjihad (fardu kifayah). Berkata Nabi s.a.w. kepadanya, 'Apakah orang taumu masih hidup?' Berkata dia, 'Masih'. Bersabda Nabi s.a.w., "Maka dengan keduanyalah kamu tinggal/berbakti (berjihad)'." (H.R. Muslim).

Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan mendapatkan hasil dari kebaikan itu. Orang yang berbakti kepada kedua ibu bapak adalah orang yang berpegang dengan hak-haknya. Allah mendampingkan antara hak-Nya dengan hak dua orang tua, dan syukur pada-Nya dengan syukur pada keduanya. Dari hak-hak keduanya adalah menghormatinya, dan berbuat ihsan kepadanya, dan mengerahkan jiwa harta untuk kemaslahatan keduanya, dan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapat ridhanya.

Jika sudah tua, maka berlembutlah pada keduanya dan cintailah keduanya. Serta, pikullah beban yang ada pada keduanya, jangan membuat mereka susah. Tingkatkanlah bakti kita kepada keduanya ketika telah lanjut usia dan telah lemah, sebagaimana mereka berbuat kepada kita ketika masih kecil dan lemah. Hendaklah kita berlemah lembut padanya, terutama ibu. Dialah orang yang paling berhak dalam bakti dan amal baik kita. Dialah yang menangung penderitaan ketika hamil dan melahirkan kita. Maka, sesungguhnya durhaka kepada ibu bapak itu merupakan pengingkaran terhadap kebaikan yang telah diberikan kepada kita. Sungguh celaka mereka yang durhaka kepada ibu bapak. Sungguh akan mengalami kerugian seorang yang tidur dalam keadaan ibu bapak murka kepadanya. Meskipun dengan ucapah "ah", itu termasuk menyakiti orang tua yang tidak diperkenankan oleh Allah.

Wa qul robby irhamhumaa kamarobbayaani shoghiiro.

Yaa Allah, ampunkanlah kami, kesalahan-kesalahan kami, dan juga perbuatan yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami.

Sumber: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Ikhlas Setiap Waktu

“(41) hai orang-orang yang beriman,berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya (42) dan bertasbihlah kepada-nya di waktu pagi dan petang (43) dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-nya (memohon diampun untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah dia yang maha penyayang kepada orang-orang yang beriman.“(QS.AL-AHZAB : 41-43).

Allah SWT memberikan waktu pada manusia 24 jam sehari, sama dengan 1440 menit, juga 86.00 detik perhari. Tapi dia hanya memerintahkan hambanya, menyembahnya lima kali sehari, kalau setiap shalat hamba Allah menghabiskan waktu 5 menit, maka waktu yang dihabiskan beribadah dalam sehari hanya 25 menit saja. Artinya ia masih menyisakan waktu 1415 menit, yang sayang sekali apabila waktu tersebut tidak ia gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Begitupun dengan ibadah-ibadah lain, seperti zakat dikeluarkan setahun sekali, atau disaat seorang hamba memiliki kelapangan harta. Puasa pun hanya setahun sekali dibulan Ramadhan saja, apalagi ibadah haji yang diwajibkan hanya seumur hidup sekali, itupun bagi hamba-hamba yang memiliki kemampuan.

Kalau kita coba bersikap jujur dengan amal-amal kita, apakah dengan ibadah 25 menit sehari, artinya 750 menit sebulan (12,5 jam), atau 9000 menit setahun (150 jam / 6 ¼ hari). Lalu kita kalikan dengan umur manusia misalnya 60 tahun, maka amal ibadah kita hanya 375 hari seumur hidup kita (6 ¼ hari x 60 tahun). Artinya dari 60 tahun yang Allah berikan pada manusia hanya 1 tahun lebih 10 hari waktu yang di habiskan beribadah kepada Allah. Bukan bermaksud menghitung-hitung amal, tapi coba renungi, apakah dengan ibadah shalat 1 tahun 10 hari yang belum tentu sempurna, seorang hamba mampu membayar dosa-dosanya selama 60 tahun hidup di dunia.

Begitu banyak waktu yang manusia sia-siakan dalam hidupnya, untuk tidak ia gunakan beribadah kepada Allah. Kalau seorang hamba, hanya mengandalkan amalan shalatnya saja, untuk ia pertanggung jawabkan di akhirat nanti, artinya  ia telah menyia-nyiakan waktu 58 tahun 355 hari dalam hidupnya. Itu pun kalau ibadah shalatnya sempurna, kalau tidak sempurna (tidak ikhlas), tidak khusu, apalagi hanya untuk menyombongkan diri, maka hamba tersebut telah menghabiskan waktu dalam hidupnya, melakukan amal ibadah yang sia–sia.

Coba baca firman Allah ini:

“ (1) Demi masa (waktu) (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (3) Kecuali orang–orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran, dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. AL ‘ASHR : 1 - 3)

Waktu adalah amanah Tuhan yng diberikan pada manusia, untuk digunakan sebaik mungkin untuk mencari keridhoan Allah SWT. Sesungguhnya merugi manusia yang menyia-nyiakan waktuya, hanya untuk memuaskan hawa nafsu yang tak pernah ada habisnya. Semakin manusia mengejar nafsu duniawi, maka duniawi akan semakin menjauhi dan membudakinya. Hanya orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh lah yang beruntung, karena menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah, dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun.

Ikhlas disetiap waktu adalah memurnikan niat dan tujuan hanya kapada Allah yang dilakukan oleh hamba Allah disetiap aktivitas kehidupannya mulai ia bangun dari tidur hingga ia tidur kembali. Hamba Allah yang ikhlas disetiap waktu adalah hamba yang selalu berzikir menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya, ia selalu bertasbih kapada Allah diwaktu pagi dan petang. Sehingga setiap detik waktu dalam hidupnya, ia habiskan untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah. Sesuai firmannya :

“(190) sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (191) yaitu : orang-orang yang mengingat Allah sambl berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali imran :190-191)

Mengingat Allah dimanapun ia berada, adalah ciri-ciri hamba Allah yang ikhlas disetiap waktu. Saat ia berdiri, duduk, atau berbaring dari mulai membuka mata hingga matanya terlelap kembali untuk mencari keridhaan Allah dengan berzikir dan bertasbih kepadanya. Hamba Allah yang ikhlas, disetiap mengawali aktivitas apapun dalam hidupnya ia akan memulainya dengan ucapan “bismillah”, sesuai firmannya:

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.”(QS.Al-fatihah : 1) 

Sebab apapun aktifitas yang di awali bismillah, maka aktifitas tersebut akan bernilai ibadah di mata Allah. Jadi aktifitas yang dilakukan hamba Allah, selama 24 jam di luar ibadah wajib, apabila ia awali dengan bismillah, maka aktifitas tersebut bernilai pahala di mata Allah. Sungguh beruntung hamba Allah yang setiap ucapan, tindakan, dan perbuatan dalam hidupnya bernilai ibadah di mata Allah.

Dan apapun hasil yang hamba tersebut dapatkan dari aktifitasnya, akan selalu ia syukuri dengan mengucapkan “Alhamdulillah”.

Sesuai firman-Nya dalam surat Al-fatihah:

“Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam” (QS.Al-fatihah: 2)

Ash Shamad (Maha Tempat Bergantung)

Allah pasti dibutuhkan oleh hamba-Nya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, dan meminta segala sesuatu. Semua makhluk menggantungkan harapan mereka hanya kepada Allah untuk memperoleh segala kebaikan dan kebajikan. Hanya Allah yang dapat meluluskan permohonan hamba-Nya.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah tempat meminta segala sesuatu. [Q.S. Al Ikhlash: 2]

Akhlak Kita Terhadap Sifat Ash Shamad:

1. Berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dalam urusan agama dan dunia.
2. Dapat menyelamatkan urusan orang lain dengan tenaga, pikiran, dan tutur kata yang baik.
3. Menjadikan Allah sebagai tumpuan pertama dalam meminta semua keinginan kita.
4. Tidak bermohon kecuali hanya kepada Allah.

Kesimpulan:

Hanya Allah tempat kita memohon dan mengadukan segala urusan. Allah Ash Shamad sebagai satu-satunya tempat tujuan permohonan dan tumpuan harapan manusia.

Suara Gaib di Udara

Syeh Abdul Qadir Jailani adalah seorang alim ulama dan ahli sufi yang cukup dikenal keutamaan akhlak dan kemuliaan ilmunya di kalangan umat Islam. Karena sikapnya yang wara' atau dekat dengan Allah, banyak pengikutnya yang berlebih-lebihan memuliakannya.

Diceritakan, suatu hari Syeh Abdul Qodir Al-Jailani berjalan merantau seorang diri. Dalam mengarungi padang pasir yang panas terik itu ia merasa kehausan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bejana dari perak melayang di udara lalu perlahan-lahan turun kepadanya diselimuti awan di atasnya.

Saat itu diceritakan terdengar suara gaib di angkasa, "Hai Abdul Qadir, minumlah isi bejana ini. Hari ini kami telah menghalalkanmu makan dan minum semua yang selama ini kuharamkan. Dan telah kugugurkan semua kewajiban untukmu", bunyi suara gaib itu.

Sebagai orang arif, Abdul Qadir cukup tahu bahwa suara ghaib yang menyerupai wahyu itu cuma suara setan yang menggoda keteguhan imannya. Maka marahlah dia dan berkata, "Hai mal'un enyahlah engkau dari sini. Sesungguhnya aku tiada lebih mulia dibandingkan Nabi Muhammad s.a.w. di sisi Allah s.w.t. Kepada Rasulullah saja tidak mungkin berlaku ketentuan semacam itu. Barang yang diharamkan Allah selamanya tetap haram, dan kewajiban hamba kepadanya tak pernah digugurkan termasuk pada diriku", ujarnya tegar.