KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Amanah

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tapi semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh" (Q.S. Al Ahzab [33]: 72). Kepercayaan memegang peranan amat penting dalam pelbagai aspek kehidupan. Manusia sendiri sejak awal sudah diberikan kepercayaan oleh Allah s.w.t. untuk menjadi khalifah di muka bumi. Misi ini tidak lain untuk memakmurkan dan memelihara perdamaian.

Namun demikian, memelihara kepercayaan itu tidaklah mudah, bahkan sangat berat. Karenanya, banyak orang yang tidak kuat, hingga akhirnya mereka khianat atau ingkar terhadap amanah itu. Allah s.w.t. sendiri sebenarnya sudah mengetahui bahwa sebagian orang sering ingkar terhadap amanah itu. Dalam kitab Tafsirnya Ibn Katsir menjelaskan bahwa maksud amanah dalam ayat itu adalah menjalankan tugas-tugas keagamaan. Dan tugas-tugas keagamaan ini menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Amanah adalah suatu kepercayaan yang ditanggung oleh seseorang untuk mewujudkan kepercayaan atau membuktikan dalam kenyataan dan perilakunya. Sehingga kalau manusia bisa bersikap dan berperilaku amanah, maka dunia ini akan aman dan damai. Tetapi, karena manusia sering zalim atau mencederai amanah atau kepercayaan, maka dunia ini menjadi kacau.

Karena itu, jika seorang pemimpin sudah tidak bisa bersikap amanah, maka yang bersangkutan dan yang dipimpinnya tinggal menunggu waktu kehancuran. Karena sekuat manusia menutup ketidakjujurannya, pasti suatu saat akan ketahuan juga. sekali diketahui tidak bisa dipercaya, maka orang tersebut sulit untuk mendapat kepercayaan lagi.

Biasanya Allah s.w.t. menguji amanah kepada hamba-Nya itu pada tiga persoalan. Pertama soal takhta atau jabatan, kedua soal wanita dan ketiga pada harta. Sumber kerusakan di muka bumi ini juga sering berawal dari tiga persoalan ini.

Seorang penguasa atau pemimpin yang tidak amanah dalam jabatannya, tentu ia juga tidak amanah pada yang lain. Misalnya, meski punya istri ia suka diam-diam berbuat serong dengan wanita lain. Karena serong, ia mungkin juga tidak beres mengelola keuangan. Sehingga dapat disimpulkan, jika seseorang tidak bisa dipercaya untuk suatu urusan, ada kemungkinan ia telah melakukan khianat atau dusta secara akumulatif pada aspek kehidupan lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar