KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Tekanan Fisik dari Orang-Orang Kafir


Sepanjang sejarah, masyarakat kafir selalu menganggap bahwa komitmen kaum mukminin terhadap agama Allah, cara hidup mereka dengan prinsip-prinsip Islam, serta penyebaran risalah Allah ini adalah ancaman bagi mereka. Itulah mengapa, demi untuk menghancurkan akhlaq kaum mukminin mereka melakukan cara-cara yang jahat seperti memfitnah dan menipu daya. Jika cara-cara demikian gagal, mereka tidak sungkan-sungkan melakukan cara-cara yang lebih keras, seperti mengancam, menyekap, dan menangkap atau menyeret kaum mukminin keluar dari rumah mereka.

Perlakuan buruk yang diterima kaum beriman dalam perjuangan mereka dengan orang-orang kafir adalah bukti betapa orang-orang kafir itu tidak tahu malu. Namun orang-orang mukmin selalu menemukan kebaikan dalam perlakuan kasar yang mereka terima. Mereka tahu bahwa Allah pasti telah menggariskan hal tersebut untuk tujuan-tujuan tertentu. Mereka sangat sadar bahwa kebajikan yang benar adalah dengan bersabar dan yakin kepada Allah. Allah menggambarkan hal ini dalam ayat berikut,

"Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (al-Baqarah: 177)

Sebagian dari sifat positif yang istimewa ini diilustrasikan dalam surat al Ahzab, dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi di zaman nabi Muhammad saw.. Menurut kisah tersebut, selama pertempuran orang-orang mukmin diuji dan didera penderitaan saat kaum kafir menyerang mereka dari segala penjuru. Dalam keadaan demikian, kaum munafik dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya memberikan berbagai alasan yang menujukkan siapa diri mereka sebenarnya.

Dalam kondisi demikian, kaum munafik yang telah berbaur selama beberapa waktu dengan komunitas kaum mukminin ini mulai dikenali. Orang-orang seperti itu, tak ada bedanya dengan sel-sel kanker yang menggerogoti tubuh. Mereka cepat sekali mundur di saat-saat sulit, walaupun pertolongan dan rezeki Allah selalu diberikan kepada orang-orang beriman.

Sementara kaum munafik menghina, orang-orang beriman yakin akan kebaikan dalam kesulitan yang mereka hadapi. Seorang mukmin menyadarkan diri mereka sendiri untuk menjalankan apa yang diperintahkan di dalam Al-Qur`an, dan mencapai tingkat keimanan dan kesetiaan kepada Allah yang lebih tinggi.

"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita'. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan." (al-Ahzab: 22)

Sebagaimana yang dicontohkan di atas, ujian dapat menjadi sebuah keberkahan yang besar bagi orang-orang beriman, sementara bagi mereka yang tidak dapat menghargai kebaikan, ujian yang sama dapat menyesatkan mereka kepada kekufuran. Padahal ujian tersebut diberikan untuk menghapuskan usaha-usaha kaum kafir serta untuk membedakan kebaikan dari kejahatan. Dalam surat al Ahzab dikisahkan tentang orang beriman yang tidak mampu mencapai keberhasilan, karena itu ia marah dan dengki,

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memeroleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (al-Ahzab: 25)

0 komentar:

Poskan Komentar