KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Al Lathiif (Maha Lembut)


Kata “Al-Lhatiif” terambil dari akar kata “lathafa” yang hurufnya terdiri dari Laam, thaa’ dan faa, dan menurut pakar-pakar bahasa mengandung makna “lembut”, “halus” atau “kecil”. Dari makna ini kemudian lahir makna “ketersembunyian” dan “ketelitian”. Pakar bahasa Az-Zajjaj dalam bukunya “Tafsir Asmaa’ AlHusnaa” menyatakan bahwa seorang yang berbadan kecil dinamai Latiif, juga dapat berarti penipu atau yang “mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi/tak terduga”. Sedang bila kata ini dikaitkan dengan pengetahuan, maka maknanya adalah sangat dalam kecerdasannya dan sangat cermat dalam menemukan sesuatu.

Kata Lathiif ditemukan dalam ALqurán sebanyak tujuh kali, lima di antaranya disebut bergandengan dengan sifat Khabiir. Satu ayat secara tegas menyebut sifat ini tercurah kepada hamba-Nya yakni, “Sesungguhnya Allah Lathiif terhadap hamba-hamba-Nya, Dia memberi rezeki siapa yang dikehendakinya dan Dia Maha Kuat lagi Maha Mulia” (Q.s. Asy-Syura 42:19 dan Yusuf 12:100). Dari sini agaknya sehingga Azzajaj berpendapat bahwa Al-Lathiif, berarti Dia yang melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya secara tersembunyi dan tertutup, tanpa mereka ketahui, serta menciptakan untuk mereka sebab-sebab yang tak terduga guna meraih anugerah-Nya. Ini – menurutnya- sama dengan firman-Nya, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah Dia akan memberinya jalan keluar, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang mereka tidak sangka-sangka”. (Q.s. At-Thalaaq 65:2-3). Apa yang dikemukakan Az-Zajjaj di atas dapat diterima. Hanya saja perlu dicatat bahwa rezeki yang dimaksud bukan hanya yang bersifat material, tetapi juga dalam bentuk menyatukan keluarga dalam suasana harmonis seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. yang telah berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaranya setelah sirna kebencian mereka kepada Yusuf (Baca Q.s. Yusuf 12:100).

Disamping ayat-ayat yang berbicara dalam konteks anugerah itu, ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah, yaitu Q.s. Luqman 31:16 dan Al-Anám 6:103. Ini berarti bahwa “Luthf” yang dianugerahkannya berdasar kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya, “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Lathiif lagi maha mengetahui”. Dalam ayat lain Allah berfirman, “Apakah mereka tidak melihat, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Lathiif lagi Maha Mengetahui”. (Q.s. Al-HAj 22:63).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang berhak menyandang sifat ini adalah, “yang mengetahui rincian kemaslahatan dan seluk beluk rahasianya, yang kecil dan yang halus, kemudian menempuh jalan untuk menyampaikannya kepada yang berhak secara lemah lembut bukan kekerasan”.

Kalau bertemu kelemahlembutan dalam perlakuan dan rincian kemampuan dalam pengetahuan, maka terwujudlah apa yang dinamai “Al-Luthf” dan menjadilah pelakunya wajar menyandang nama “Al-Lathiif”. Ini tentunya tidak dapat dijangkau kecuali Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Lathiif itu. Sekelumit dari bukti kemaha “lemah lembutan” Illahi (kalau istilah ini dapat dibenarkan) dapat terlihat bagaimana Dia memelihara janin dalam perut ibu dan melindunginya dalam tiga kegelapan, kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim. Demikian juga memberinya makan melalui tali pusar sampai dia lahir kemudian mengilhaminya menyusu, tanpa diajar oleh siapapun.

Termasuk juga dalam bukti-bukti kewajaran-Nya menyandang sifat ini adalah apa yang dihamparkan-Nya di alam raya untuk makhluk-Nya, memberi melebihi kebutuhan mereka, tetapi tidak membebani mereka dengan beban berat yang tidak mampu dipikul.

Pada akhirnya tidak keliru jika dikatakan bahwa Al-Lathiif adalah Dia yang selalu menghendaki untuk makhluk-Nya, kemaslahatan dan kemudahan lagi menyiapkan sarana dan prasarana guna kemudahan meraihnya. Dia yang bergegas menyingkirkan kegelisahan pada saat terjadinya cobaan, serta melimpahkan anugerah sebelum terbetik dalam benak. Penjelasan di atas, adalah sifat itu dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan Allah.

Ayat lain yang dikaitkan dengan sifat-Nya adalah, “Dia tidak dijangkau oleh pandangan mata, dan Dia menjangkau segala penglihatan (karena) Dia Lathiif lagi Khabiir”. (Q.s. Al-An’aam 6:103).

Allah tidak dapat dilihat paling tidak dalam kehidupan dunia ini. Nabi Musa a.s. pernah bermohon untuk melihat-Nya tetapi begitu Allah menampakkan kebesaran dan kekuasaan-Nya atau pancaran sinar-Nya ke sebuah gunung, gunung itu hancur berantakan (Baca Q.s. Al-Araaf 7:143). Allah juga Lathiif dalam arti tidak dapat diketahui hakekat-Nya, sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini dalam pengenalan terhadap Allah. Walsahil Dia tertutup dari pandangan mata dengan selendang keagungan-Nya, terlindungi dari jangkauan akal dengan pakaian kebesaran-Nya, terbatasi dari bayangan imajinasi dengan cahaya keindahan-Nya dan karena cemerlangnya pancaran cahaya-Nya, ia gaib, sehingga seperti kata sementara orang arif, “Dia tidak terjangkau hanya karena Dia menyingkap kerudung wajah-Nya, sungguh aneh, penampakan menghasilkan ketertutupan”. Memang mata kelelawar tak mampu memandang cahaya matahari.

Hanya sekali ditemukan dalam Alqur’an kata kerja yang berakar tiga huruf di atas, yaitu firman-Nya mengabadikan ucapan salah seorang dari sekelompok pemuda yang ditidurkan Allah selama 309 tahun di Gua Alkahf. “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, Wal yathalathhthaf dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorangpun”. (Q.s. Al-Kahfi 19:18).

Makhluk tidak mampu meneladani Allah dalam sifat Uluhiyah, termasuk sifat Luthf yang disandang zat-Nya itu, tetapi manusia dapat meneladani -dalam batas kemampuannya- sifat luthf Illahi yang tercermin dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Karena itu yang meneladani sifat ini, hendaknya menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan semua pihak lagi bersikap lemah lembut terhadap makhluk-makhluk Allah. Jika mampu, ia hendaknya memberi sebelum tangan yang butuh terulur, atau sebelum kalimat “mohon” terucapkan. Bukankah kelemahlembutan-Nya, tercermin antara lain pada sarana hidup manusia yang diciptakannya jauh sebelum manusia tercipta? Di sisi lain kita dapat berkata bahwa salah satu indikator tercurahnya sifat ini kepada hamba-hambanya adalah terciptanya hubungan harmonis baik dalam keluarga kecil maupun keluarga besar sebagaimana yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. hal ini tentunya harus diperjuangkan dan karena itu Nabi Saw berpesan, “Hendaklah segala sesuatu kalian hiasi dengan kelemah lembutan, karena tidak sesuatupun yang dihiasi dengannya kecuali menjadi baik dan indah, dan tidak sesuatupun yang luput dari kelemahlembutan kecuali menjadi buruk”. Demikian wa Allahu Álam.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Asma%27ul_husna
http://didaytea.com/2009/07/30/al-lathiif-yang-maha-lembut/
http://rasasejati.wordpress.com/kumpulan-ilmu-ghoib/asma-al-lathif/

0 komentar:

Poskan Komentar