KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Al-Fattâh (Yang Maha Membuka)


قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". [Q.S. saba':26]

Al-Fattâh secara bahasa berasal dari kata "fataha" yang berarti membuka. Kemudian, makna ini berkembang dengan arti kemenangan (membuka sesuatu yang tertutup), menetapkan keputusan (membuka jalan penyelesaian atas suatu perkara).

Allah Al-Fattâh, artinya Allah yang Maha membukakan pintu rezeki dan rahmat bagi para hamba-Nya. Al-Fattâh juga membukakan semua permasalahan para hamba dari ketidakjelasan, dan membukakan semua mata dan mata hati mereka agar dapat melihat kebenaran. Inilah yang disebut oleh Khatabi dengan "al-fathur rabbaniy" (pintu penyingkap ketuhanan). Inilah pula rahmat paling besar yang Allah berikan kepada para kekasih-Nya; yaitu dengan membukakan hati mereka untuk menerima curahan 'irfan (pengetahuan) yang sebelumnya samar atau sama sekali tidak mereka ketahui. Hal ini terkait dengan firman Allah yang menyatakan.
.
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Q.S. Fâthir: 2]

Imam Al-Ghazali r.a. mengatakan bahwa sangat wajar bila manusia mendambakan lidahnya dapat membuka rahasia-rahasia pengetahuan illahi, serta menguraikan apa yang pelik dari persoalan-persoalan duniawi dan ukhrawi kepada manusia agar dia dapat meraih sekelumit dari rahasia nama agung ini. Dikatakan pula oleh Imam Al-Qusyairi r.a. bahwa barangsiapa menyadari bahwa Allah adalah penghampar semua sebab (kausalitas) dan pembuka semua pintu, pikirannya tidak mungkin akan mengarah kepada selain-Nya, hatinya tidak akan disibukkan kecuali oleh-Nya, walau dia harus menanti terbukanya pintu dan terhamparnya jalan. Bahkan, kalau pun dalam penantian itu dia mengalami cobaan, maka cobaan itu akan menambah kedekatan dan kepercayaannya kepada-Nya.

Di antara rahmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah keimanan, keislaman, keihsanan, dan ketauhidan di dalam hati, petunjuk yang telah Allah tetapkan kepada yang bersangkutan, serta taufiq (restu) yang telah Dia tetapkan untuk kebaikan dan kebenaran. Bentuknya bisa bermacam-macam, misalnya semangat untuk senantiasa taat kepada Allah dan beramal shalih bagi hamba-hamba yang dipilih-Nya. Kemudian, hati mereka dilapangkan agar dapat menjalankan semua itu dengan mudah dan tanpa kendala yang berarti; Dia lepaskan hati mereka dari ketergantungan kepada selain-Nya.

Bentuk yang lain adalah, dengan dibukakannya pintu ilmu bagi orang-orang yang Dia pilih. Ilmu tersebut berupa ilmu untuk memahami kitab Allah dan Rasulullah, ilmu makrifat, ilmu hakikat, dan ilmu syariat, yang merupakan pelita, pembuka, dan petunjuk hati menuju kebenaran hakiki yang diajarkan agama. Hal-hal yang selama ini banyak diperselisihkan dapat ditemukan jalan keluarnya dengan mudah.

Allah Al-Fattâh juga berarti Dzat yang memberikan keputusan hukum bagi hamba-hamba-Nya berdasarkan pengetahuan-Nya yang mencakup segala sesuatu. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada orang-orang yang berdebat tentang kebenaran yang dibawanya.
.
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍز قُلْ لا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَز قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: "Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat". Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". [Q.S. Saba': 24-26]

Allah Al-Fattâh berarti Allah sebagai Dzat Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Ketika nabi Syu'aib a.s. menghadapi kaumnya yang mengancam akan mengusirnya apabila tidak mengikuti keyakinan (kekufuran) mereka, maka beliau berdoa kepada Allah agar memberikan keputusan.
.
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

"Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik." [Q.S. Al-A'raf: 89]

Allah Al-Fattâh juga berarti Allah sebagai Dzat Pemberi kemenangan bagi hamba-hamba-Nya dalam peperangan, sebagaimana firman-Nya.
.
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, [Q.S. Al-Fath: 1]

Demikianlah makna Al-Fattâh. Sekarang, bagaimana bentuk meneladani nama dan sifat Allah Al-Fattâh? Meneladani nama dan sifat Allah Al-Fattâh berarti kita harus membuka hati. Kita harus menerima saran dan perbaikan dari orang lain. Kita juga dituntut untuk memberikan akses kemudahan kepada orang lain untuk memperoleh rezeki, ilmu, atau keluar dari permasalahan.

Kita dilarang menghalangi orang lain untuk memperoleh rezekinya. Misalnya, jika kita sebagai atasan maka tidak boleh menunda-nunda membayar gaji. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Rasulullah menyuruh kita membayarkan upah kepada pegawai kita sebelum keringatnya kering. Artinya, jika waktunya gajian, tidak boleh ditunda-tunda, segera berikan.

Berikanlah olehmu upahnya orang sewaan sebelum keringatnya kering [H.R. Ibnu Majah]

Selain itu, jika kita memiliki utang maka segeralah bayar. Menunda-nunda membayar utang berarti menghalangi orang lain untuk menerima haknya (rezekinya). Rasulullah menerangkan bahwa salah satu hal yang harus disegerakan adalah membayar utang jika telah mampu. Menundanya adalah perbuatan zhalim.

Penundaan membayar utang padahal ia mampu adalah perbuatan zhalim [H.R. Daruquthni]

Akhirnya, marilah kita berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik." [Q.S. Al-A'raf: 89]

0 komentar:

Poskan Komentar