KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Saya Bukan Teroris

“Aku takut dan aku tetap takut.” Kata hati seorang lelaki.

Dalam suasana malam yang gelap seorang lelaki turun dari bis. Dia membawa pakaian serba hitam dan ransel besar di belakangnya. Dia juga membawa handicam sebagai alat untuk merekam segala kejadian yang ditemuinya. Mungkin karena sudah kemalaman dia hendak ingin menginap dan istirahat. Kebetulan ada Motel di seberang jalan saat dia turun dari bis.

Ting, ting, ting, ting

“Kami penuh kawan, tidak ada tempat lagi.”

“Baik, ada motel di dekat sini?” Kata lelaki itu.

 Pemilik motel itu kemudian berdiri dan berkata, “Oh, kau orang India. Aku akan buat pengecualian. Kau tahu ini hari Sabtu. Semua kamarku penuh dengan pasangan bulan madu.”

“Sabtu.” Sela lelaki itu. “Kenapa mereka menikah hanya hari Sabtu di sini?”

“Pernikahan satu malam, cobalah mengerti. Tapi kau tak perlu khawatir. Kau bisa tinggal di kamarku. Di sana ada saluran telanjang juga.”

“Saluran telanjang?” Sela lelaki itu

“Saluran nakal.” Kata pemilik motel

“Nakal?” lelaki itu kembali bertanya.

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan dari luar. Rupanya ada seseorang yang melempar kaca jendela motel itu dengan batu.

“Bodoh, kau bodoh. Aku akan membakarmu bodoh.”

Dor, dor, dor. Pemilik motel itu keluar dari motelnya dan menembakkan senapannya ke arah pelempar batu itu. Sementara itu, pelempar batu telah pergi dengan menggunakan mobilnya melarikan diri.

“Anak nakal.” Umpat pemilik motel dengan suara keras. “Ini semua karena Islam. 6 Tahun lalu mereka meledakkan World Trade Center dan hari ini kita yang menderita. Mereka menyebutnya jihad dan kita yang menderita. Dan orang-orang putih ini semua buta. Kau tidak bisa membedakan Gandhian orang India dengan Islam yang kasar. Haruskah kutunjukkan padamu? Aku akan menulis papan, ‘No Muslim Allowed’. Ini yang keempat kalinya kacaku dipecahkan.”

Menyaksikan kejadian itu serta mendengar umpatan pemilik motel. Lelaki, lelaki yang akan menginap itu ketakutan dan mulai beranjak untuk pergi. Pemilik motel itu berusaha mencegahnya.

“Jangan khawatir kawan. Kemari. Berbahaya di luar sana. Dengar. Kembali. Siapa namamu?”

Mendengar perkataan dan pertanyaan pemilik motel, lelaki itu berbalik seraya berkata, “Namaku Khan dan aku bukan teroris. Terima kasih.”

Setelah itu Khan pun pergi melanjutkan perjalanannya. Sambil berjalan hatinya berkata,

“Aku merindukanmu Mandira. Aku tahu aku tak bisa kembali sebelum bertemu Presiden. Aku tak bisa bertemu dengannya di Washington, dan sekarang aku akan pergi ke Santa Fe. Satu hal yang bisa mencapai segalanya Mandira. Seperti aku menemukan tempat itu, hari itu."

Hum Honge Kamyab. Hum Honge Kamyab. Hum Honge Kamyab Ek Din
Kita akan mengatasinya. Kita akan mengatasinya. Kita akan mengatasinya suatu hari nanti.

Oh. man mein hei vishwas. Poora hei vishwas. Hum honge kamyab ek din.
Oh. Jauh dilubuk hatiku. Jika hati mempercayainya. Kita akan mengatasinya suatu hari nanti.

Dengarkan lagunya ya… ^_^


(Cerita ini diambil dari film “My Name Is Khan”)

0 komentar:

Poskan Komentar