KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 50

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. {1} (Q.S. Al Baqarah: 50)

{1} Waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israel keluar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Firaun, mereka harus melalui laut Merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga terbelahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya di tengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. Sedang Firaun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.

Maka dalam ayat-ayat ini Allah swt. menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada mereka, yaitu bahwa Dia telah menyelamatkan mereka dulunya ketika mereka meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa a.s. dikejar oleh Firaun bersama tentaranya.

Setelah Allah swt. mengangkat Musa a.s. menjadi Rasul-Nya, Dia memerintahkan supaya menyeru Firaun dan kaumnya untuk beriman kepada-Nya dan agar menuntut kepada Firaun supaya membebaskan Bani Israel yang berada di negeri itu dan untuk menghentikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan terhadap mereka. Sebagai jawabannya, Firaun memperhebat siksaan dan kekejaman mereka terhadap Bani Israel itu dan diperintahkannya kepada rakyatnya untuk meningkatkan kerja paksa yang ditimpakan kepada mereka itu.

Allah swt. lalu memberikan mukjizat-mukjizat kepada Musa a.s. dan saudaranya, yaitu Nabi Harun, antara lain ialah tongkat Nabi Musa a.s. dapat berubah menjadi ular dan dapat menelan ular-ular yang dijelmakan oleh ahli-ahli sihir yang dikerahkan Firaun untuk melawan mukjizat Nabi Musa a.s.

Melihat kenyataan-kenyataan itu, para ahli sihir itu pun mengakui kekalahan mereka, lalu menyatakan beriman kepada Tuhan. Akhirnya Firaun mengusir dan mengejar-ngejar mereka.

Maka berangkatlah mereka meninggalkan negeri itu di bawah pimpinan Musa a.s., sedangkan Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka.

Ketika mereka itu sampai di tepi laut Qulzum, yaitu laut Merah yang membatasi negeri Mesir dengan semenanjung Sinai, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa a.s. supaya memukulkan tongkatnya ke laut itu. Lalu Musa a.s. melakukannya, maka terbelahlah air laut itu dan terbentanglah dua belas jalur jalan raya yang akan dilalui Nabi Musa a.s. bersama pengikut-pengikutnya yang terdiri dari dua belas rombongan, sehingga selamatlah mereka sampai ke seberang.

Sementara itu Firaun bersama tentaranya terus mengejar mereka tetapi ketika mereka sampai di tengah-tengah laut itu, maka air laut kembali bertaut, sehingga mereka semuanya tenggelam ditelan air laut. Kejadian itu disaksikan oleh Bani Israel yang telah selamat ke seberang.

Terbelahnya laut merupakan salah satu dari mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s. untuk membuktikan kepada manusia bahwa Allah adalah Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan alam ini dan Dia pula yang menetapkan undang-undang alam yang berlaku sepanjang masa dan Dia berkuasa pula merubah atau membatalkan undang-undang alam tersebut apabila dikehendaki-Nya. Hukum-hukum alam yang berlaku pada air ialah bahwa air sebagai salah satu benda cair tidaklah dapat terpisah tanpa adanya benda lain yang memisahkannya. Undang-undang inilah yang dirubah dan dibatalkan-Nya ketika terbelahnya air laut itu. Air laut bersibak dan berdiri seperti dinding-dinding yang tegak lurus tanpa adanya sesuatu yang menahannya, sehingga terbentanglah jalan raya di antara dinding-dinding tersebut.

Demikianlah besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Bani Israel itu. Mereka telah dibebaskan dari kekejaman Firaun dan rakyatnya. Kemudian mereka diselamatkan pula ketika menyeberang laut. Sesudah itu mereka dapat pula menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya musuh-musuh mereka di tengah laut yang tentu saja menggembirakan hati mereka. Sepatutnyalah mereka mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar