KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Tafsir Q.S. Al Baqarah: 45-46

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ. الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Q.S. Al Baqarah: 45-46)

Setelah menjelaskan betapa jeleknya keadaan dan sifat-sifat bangsa Yahudi, sehingga akal mereka tidak bermanfaat bagi din mereka dan kitab suci yang ada di tangan mereka pun tidak mendatangkan faedah apapun bagi mereka, maka Allah swt. memberikan bimbingan kepada mereka menuju jalan yang paling baik, yaitu agar mereka menjadikan kesabaran dan shalatnya sebagai penolong mereka.

Yang dimaksud dengan "sabar" di sini ialah tabah dalam melaksanakan hal hal berikut:

1.Menahan diri dari kehendak hawa nafsu yang menyimpang dari ajaran agama.
2.Menaati kewajiban-kewajiban yang biasanya dirasakan berat oleh jiwa.
3.Menerima dengan sabar, tawakal dan rendah hati semua musibah yang ditakdirkan Allah, setelah berserah diri kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya.

Menjadikan kesabaran itu sebagai penolong, berarti mengikuti perintah-perintah Allah swt. dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya, dengan cara mengekang syahwat dan hawa nafsu dari semua perbuatan yang terlarang. Juga melakukan shalat, itu mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan dengan shalat itu pula kita selalu ingat kepada Allah swt, sehingga hal itu akan menghalangi kita dari perbuatan-perbuatan yang jelek, baik diketahui orang lain, maupun tidak. Shalat adalah ibadah yang sangat utama di mana kita dapat bermunajat dengan Allah swt. lima kali setiap hari. Menurut riwayat Imam Ahmad, Rasulullah saw segera melakukan shalat, setiap kali beliau menghadapi kesulitan, kalau ditimpa sesuatu musibah. Demikian pula dilakukan oleh para sahabat beliau.

Melakukan shalat dirasakan berat dan sukar, kecuali oleh orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang benar-benar beriman dan taat kepada Allah swt. dan melakukan perintah-perintah-Nya dengan ikhlas karena mengharapkan rida-Nya semata-mata serta memelihara diri dari azab-Nya. Bagi mereka ini, mendirikan shalat tiadalah dirasakan berat, sebab pada saat-saat tersebut mereka tekun dan tenggelam dalam bermunajat dengan Allah swt. sehingga mereka tidak lagi merasakan dan mengingat sesuatu pun yang lain, berupa kesukaran-kesukaran dan penderitaan yang telah mereka alami sebelumnya. Mengenai hal ini Rasulullah saw telah bersabda:

قرة عيني فى الصلاة

Artinya:
Ketenangan hatiku adalah dalam shalat.

Ini disebabkan karena ketekunannya dalam melakukan shalat itu merupakan sesuatu yang amat menyenangkan baginya, sedang urusan-urusan lainnya untuk duniawi adalah memayahkan dan melelahkan.

Di samping itu mereka penuh pengharapan menanti-nanti pahala dari Allah swt. atas ibadah tersebut sehingga terasa ringan bagi mereka untuk melalui kesukaran-kesukaran dalam melaksanakan. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab barangsiapa mengetahui hakikat dari pada yang dicarinya, niscaya ringan baginya untuk mengorbankan apa saja untuk memperolehnya. Dan barangsiapa yakin bahwa Allah swt. akan memberikan ganti yang lebih besar dari apa yang telah diberikannya niscaya terasa ringan baginya untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang ada.

Di antara sifat-sifat tersebut ialah bahwa mereka benar-benar yakin bahwa mereka pasti akan kembali kepada Allah swt. dan menemui-Nya pada hari akhirat nanti, di mana semua amalan manusia akan diteliti dan setiap orang akan menerima balasan atas semua perbuatan yang telah dilakukannya selama di dunia ini.

Berdasarkan keyakinan semacam itu, maka dia akan selalu taat kepada peraturan-peraturan Allah swt. serta khusyuk dalam menjalankan ibadah dan amal-amal kebaikan.

Orang-orang yang hanya suka menyuruh orang lain untuk berbuat kebaikan padahal mereka sendiri melupakan kebaikan-kebaikan itu, maka iman mereka sangat lemah, jauh di bawah tingkat "keyakinan", terutama keimanan kepada Kitab Suci yang selalu mereka bacakan dan mereka ajarkan kepada orang lain yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan agama.

0 komentar:

Poskan Komentar