KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Contoh Keimanan Nabi


Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi Muhammad saw., seperti halnya nabi-nabi sebelumnya, menghadapi berbagai kesukaran sepanjang hidupnya. Ia menjadi contoh terbaik bagi semua muslim akan kesabaran dan keimanannya kepada Allah. Sebuah peristiwa diceritakan dalam Al-Qur`an tentang akhlaq mulia dan keimanan Nabi Muhammad saw..

Ketika Nabi saw. meninggalkan kota Mekkah, kaum kafir membujuknya dan bermaksud membunuhnya. Nabi beristirahat dalam sebuah gua. Dalam pencarian mereka, orang-orang kafir menghampiri gua tersebut. Dalam kondisi yang sulit itupun, Nabi saw. menasehati sahabatnya untuk tidak khawatir dan mengingatkannya untuk meyakini Allah,

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu ia berkata kepada temannya, 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (at-Taubah: 40)

Satu-satunya alasan mengapa Nabi saw. tidak merasa ketakutan atau tertekan saat hidupnya jelas-jelas dalam bahaya adalah karena keyakinannya pada Allah, bahwa Dia menetapkan takdir seseorang untuk maksud tertentu. Pada akhirnya, beliau sampai di Madinah dengan selamat, dan dengan demikian dimulailah babak hijrah, sebuah titik tolak sejarah Islam.

Nabi Musa a.s.

Al-Qur`an menunjukkan kisah perjuangan Nabi musa menghadapi Fir'aun yang dikenal sebagai penguasa yang paling zalim dalam sejarah. Fir'aun merespon panggilan Allah yang disampaikan kepadanya lewat Nabi Musa a.s. dengan ancaman siksaan. Tingginya akhlaq dan keyakinan Nabi Musa a.s. kepada Allah- yang menggunakan berbagai cara untuk mengajaknya ke jalan yang benar adalah sebuah contoh bagi semua orang beriman.

Al-Qur`an menjelaskan masa kenabian Nabi Musa sebagai berikut: Fir'aun yang berkuasa di Mesir memberlakukan kekuasaan absolut atas rakyat Bani Israil. Di sisi lain, Musa a.s. dan kaumnya adalah kaum minoritas di negeri itu. Karena itulah, dari sudut pandang orang bodoh yang menilai sesuatu hanya dari penampakannya, ia akan salah mengira bahwa kekuatan dan kekuasaan akan menang. Ia mengira Fir'aun yang akan menang. Namun itu semua adalah delusi karena Allah memerintahkan hal berikut:

"Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-Ku pasti menang'. Sesungguhnya, Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa'. (al-Mujadalah: 21)

Allah menepati janji-Nya pada para Nabi dan memberikan kemenangan kepada Nabi Musa a.s. dalam melawan Fir'aun. Allah membantunya sebagaimana saudaranya Harun, dengan sebaik-baik perlindungan-Nya. Dan Allah memberikan mukjizat kepada Musa a.s. untuk menempa dan mengistimewakan Musa dari yang lain dengan berbicara langsung kepadanya. Kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan Nabi Musa sebagaimana dituliskan di dalam Al-Qur`an. Hal ini jelas menunjukkan bagaimana sesuatu yang mungkin muncul bagi orang-orang mukmin dengan seijin Allah dapat segera menjadi keberkahan bagi mereka.

Ada sebuah peritiwa ketika Fira'aun dan pasukannya berniat menangkap Musa a.s. dan kaumnya setelah melewati Mesir. Saat orang-orang Bani Israil telah mencapai lautan, Fir'aun dan tentaranya hampir saja menangkap mereka. Pada saat itu, kalimat Nabi Musa a.s. sangatlah ajaib. Walau Fir'aun dan tentaranya nyaris menangkap mereka, dan tak ada lagi kesempatan menyelamatkan diri, Musa tidak putus asa akan pertolongan Allah. Ia mempertahankan kesabaran yang patut dicontoh. Kisah ini diceritakan di dalam Al-Qur`an sebagai berikut:

"Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu matahari terbit.Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya, kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (asy-Syu'araa`: 60-68)

Dalam kisah ini, kita diminta untuk memperhatikan sifat-sifat utama Nabi Musa a.s.. Selama perjuangannya yang sulit, ia terus-menerus mengingat pertolongan Allah, melihat kebaikan dalam segala hal yang menimpanya, dan bahwa di saat ujian terberatnya, berusaha untuk mempercayai Allah dan menjaga kesetiaannya kepada-Nya.

Nabi Yusuf a.s.

Salah satu contoh yang indah tentang perubahan situasi yang merugikan menjadi berkah bagi orang-orang beriman, yaitu tentang kehidupan Nabi Yusuf a.s..

Nabi Yusuf a.s. sejak kecil dan sepanjang hidupnya dikenal karena sikapnya yang matang oleh penderitaan dan kesetiaannya yang luar biasa kepada Allah. Sikapnya dalam menjalani ujian merupakan contoh yang luar biasa bagi seorang mukmin. Nabi Yusuf a.s. yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya, mencari kebaikan dalam segala hal yang menimpanya. Ia menyadari bahwa apa pun yang ia hadapi adalah berasal dari Allah. Karena itulah, sepanjang hidupnya, ia menganggap setiap kesulitan adalah sebuah ujian. Dan ia selalu yakin dan teguh pendiriannya.

Nabi Yusuf a.s. sejak awal diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudaranya yang iri padanya. Mereka melemparkannya ke sebuah sumur, hingga ia tak dapat pulang dan bertemu ayahnya. Bagaimanapun juga Allah menyelamatkannya dari sumur itu. Para musafir dengan karavan mereka lewat dan menolong Yusuf. Mereka menjualnya kepada orang terkemuka di Mesir. Disebutkan dalam Al-Qur`an bahwa istri majikannya yang sangat terkesan dengan ketampanan Yusuf berusaha merayunya. Dengan demikian, Yusuf a.s. sekali lagi diperlakukan tidak adil. Kali ini ia difitnah oleh perempuan itu. Walaupun penyelidikan yang dilakukan membuktikan bahwa Yusuflah yang benar, ia tetap dipenjara.

"Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu." (Yusuf: 35)

Yusuf a.s. difitnah hanya karena sifat mulianya. Karena tuduhan itu, Yusuf a.s. tinggal di penjara untuk waktu yang lama. Ia menunjukkan kesabaran menghadapi semua kesulitan hidup dan tetap yakin pada Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qur`an, dengan caranya memimpin dirinya, serta ketundukannya kepada Allah, ia benar-benar menjadi teladan bagi semua mukmin.

Tentu saja Yusuf a.s. menerima pahala terbesar, baik di dunia dan di akhirat, sebagai balasan kesabaran dan rasa percayanya kepada Allah. Ia menyadari kebaikan dalam segala yang menimpanya. Allah memberinya kekuasaan atas negeri yang kaya dan menjadikannya seorang penguasa disana. Kesadarannya akan kebaikan dalam segala yang terjadi padanya dan do'anya kepada Allah disebutkan di dalam Al-Qur`an sebagai berikut:

"Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkatalah Yusuf, 'Wahai ayahku, inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dialah yang Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. 'Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan), Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.'" (Yusuf: 100-101)

Sesungguhnya, kisah ini adalah contoh yang baik tentang pahala yang diterima seorang mukmin sebagai balasan atas ketulusan dan rasa percayanya kepada Allah. Apapun yag terjadi pada seorang mukmin yang ikhlas, ia harus berusaha menemukan dan memahami maksud peristiwa-peristiwa tersebut. Ia harus memohon pertolongan kepada Allah dan berdo'a untuk itu. Seorang muslim tidak boleh lupa bahwa setiap peristiwa besar atau kecil, yang mungkin menimpa, tidaklah berarti menyusahkan dirinya. Sebaliknya, ini adalah merupakan kebenaran takdir, hukum Allah yang kekal abadi. Allah pasti telah menetapkan segalanya untuk kebaikan orang-orang beriman. Sebagai sebuah keberkahan yang besar. Di dalam hati orang-orang beriman, Allah dapat mengungkapkan maksud dan kebaikan dari sebuah kejadian. Tetapi jika tidak sekalipun, seorang mukmin harus bersabar dan ia harus mengetahui bahwa semua itu tak lain untuk kebaikan.**

0 komentar:

Poskan Komentar