KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Ikhlas Menurut Ulama


Selain keterangan AL-Qur’an dan Hadist, Risalah dan pemahaman tentang ikhlas terus disebarkan melalui para ulama yang menempuh perjalanan ruhani menuju Allah. Di bawah ini adalah beberapa pendapat para ulama tentang hakikat dan urgensi ikhlas, beserta keutamaan-keutamaannya.

Imam AL-Ghazaly dalam AL-Ihya berkata :

“Ketahuilah bahwa segala sesuatu digambarkan mudah bercampur dengan sesuatu selainnya. Jika bersih dari percampurannya dan bersih darinya, maka itulah yang disebut murni. Perbuatan yang pernah dan murni disebut ikhlas.“

“Semua orang pasti akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.“

Ibnu Atha’illah dalam AL-Hikam berkata :

“Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada padanya.”

“Amal yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap sedikit dan yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap banyak.“

“Allah menghindarkan orang-orang yang menuju-Nya dan juga orang-orang yang sampai kepada-Nya dari melihat amal mereka dan menyaksikan keadaan mereka. Yang demikian bagi orang-orang yang tengah menuju kepada-Nya, adalah karena mereka belum benar-benar ikhlas dalam amal mereka. Dan bagi orang-orang yang telah sampai kepada-Nya adalah karena mereka sibuk menyaksikan-Nya.“

Abu–Qasim AL-Qusyairy berkata :

“Ikhlas adalah menunggalkan tujuan kepada Yang Maha Benar (Allah SWT) dalam ketaatan.“

Syaikh AL-Junaid berkata :

“Ikhlas adalah suatu rahasia antara Allah dan hamba-Nya, yang tidak diketahui malaikat sehingga dia mencatatnya, tidak di ketahui syetan sehingga dia merusak-Nya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga ia mencondongkannya.“

Abu Usman berkata :

“Ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan terus-menerus memandang keutamaan Khalik (Allah).“

Hudzifah AL-Mar’asyi berkata :

“Ikhlas adalah jika perbuatan-perbuatan hamba, bisa benar secara lahir maupun batin.“

Abu Yaqub As-Susi berkata :

“Ikhlas adalah tidak melihatnya ikhlas. Siapa yang menyaksikan pada keikhlasannya akan ikhlas, maka sesungguhnya keikhlasannya itu memerlukan kepada ikhlas.“

Sahal R.A berkata :

“Ikhlas adalah adanya diam hamba, dan gerak-geriknya khusus karena Allah.“

AL-Muhasibi berkata :

“Ikhlas adalah mengeluarkan makhluk kepada muamalah dengan Tuhan (Allah).“

Sah bin Abdullah At-Tusturi pernah di tanya :

“Apakah sesuatu yang paling berat di rasakan oleh hawa nafsu?“. Beliau menjawab, “Ikhlas, karena sesungguhnya hawa nafsu tidak punya peran di dalamnya. Dengan ikhlas, akan melupakan semua peran hawa nafsu.“

Ibnu Qayyim berkata :

“Rahasia dan hakikat tawakal terletak pada kepercayaan hati yang hanya mengandalkan Allah semata. Dengan kata lain, tawakal tidak membahayakan meskipun yang bersangkutan menempuh semua penyebab. Selain hatinya tidak mengandalkan pada penyebab (upaya) yang di jalaninya, dan tidak ada rasa ketergantungan padanya.“

Ibnu Utsaimin berkata :

“Tawakal ialah mempercayakan sepenuhnya kepada Allah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, disertai dengan upaya menjalankan semua penyebab yang diperintahkan oleh Allah sebagai realisasinya.“

Syaikh Abdul Qadir AL-Jailani berkata :

“Ikutilah dengan ikhlas, jalan telah ditempuh oleh Nabi besar Muhammad SAW. Dan jangan merubah jalannya, patuhlah kepada Allah dan Rosul-Nya, dan jangan sekali-kali berbuat durhaka. Bertauhidlah kepada Allah, dan jangan mengeluarkan-Nya. Bersabar dan berpegang teguhlah kepada-Nya.“

Ikhlas adalah kemurnian, amal perbuatan yang bersih dan murni disebut ikhlas. Imam AL-Ghazaly menjelaskan ikhlas secara sederhana, mengutip ayat AL-Qur’an yang mengumpamakan susu murni dan bersih yang berada di antara tahi dan darah. Susu adalah sesuatu yang benar keluar dari perut hewan ternak, yang keberadaannya di antara kotoran dan darah binatang. Sesuatu yang bersih dan tidak ada percampuran di dalamnya, karena susu tidak bercampur antara tahi dan darah. Kemurnian susu itulah yang di  analogikakan AL-Ghazaly, untuk menjelaskan ikhlas.

Ikhlas adalah sebuah kemurnian niat, ucapan, tindakan, dan perbuatan yang benar-benar di tujukan untuk mengharap keridhaan Allah SWT. Cuma Allah tujuannya, bukan yang lain, tak boleh bercabang, tak boleh ternodai oleh tujuan-tujuan yang lain. Kalau bercampur atau bercabang, apapun tindakannya, keikhlasannya akan luntur, dan tidak diterima oleh Allah.

Selain itu, ternyata ikhlas menempati posisi penting dalam beragama. Sebab menurut AL-Ghazaly, semua orang itu binasa kecuali orang-orang yang berilmu, dan orang-orang berilmu juga binasa kecuali orang yang mengamalkannya, dan para pengamal juga akan binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas. Artinya, sebanyak apapun ilmu dan amal yang manusia lakukan dalam kehidupannya tak ada gunanya, kecuali ada keikhlasan di dalam hatinya.

Karena itu, tanamkan keikhlasan di hati kita sekarang juga, agar ilmu dan amal yang kita miliki tidak sia-sia. Sebab dengan perkataan Ibnu Athaillah, amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada padanya. Amal adalah jelmaan lahiriah dari niat dan keinginan. Pengalaman lahiriah adalah cerminan dari hakikat dan keadaan batin. Puncak keikhlasan adalah kesadaran bahwa kita tidak memiliki kekuatan atau kehendak apapun, kecuali selain Allah.

Amal yang berasal dari hati yang ikhlas laksana tanaman yang sehat, akan tumbuh dan berbuah pahala dan karunia Allah. Sebaliknya hati yang tidak ikhlas, laksana tanaman yang sehat, rusak, dan kering yang akan menghasilkan kesengsaraan. Orang-orang yang ikhlas hatinya tidak akan disibukkan berbangga atas amal-amal yang telah diperbuatnya. Karena bagi orang-orang yang tengah melakukan perjalanan mencapai keridhaan Allah, riya terhadap amal adalah hal yang akan merusak nilai-nilai keikhlasan.

Pada akhirnya, ikhlas adalah menunggalkan tujuan hanya kepada Allah SWT. Apabila Allah menetapkan sebuah kondisi pada seorang hamba, maka hambanya akan menerima kenyataan itu walaupun tidak sesuai dengan harapannya. Hamba yang ikhlas, akan menerima ketetapan apapun yang Allah berikan kepadanya dengan tenang dan ridha. Dia akan tetap melaksanakan perintah Tuhannya dengan taat dan pasrah, hingga Allah menurunkan pertolongan dan rahmatnya pada hamba tersebut lalu mengangkat derajatnya ketempat yang baik.

Ikhlas adalah suatu rahasia antara Allah dan hambanya. Bahkan malaikat dan syetan tak mampu mengetahuinya, karena ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hambanya.  Berbahagialah hamba-hamba yang hatinya ikhlas, karena dia akan mendapat rahmat, karunia, dan ridha.

Begitu mulianya orang-orang yang ikhlas, sehingga ikhlas itu mendapatkannya tak semudah membalikkan tangan. Hamba Allah yang ikhlas akan di uji, apakah ia benar-benar istiqomah dengan keikhlasannya atau keikhlasannya itu mudah digoyahkan oleh kenikmatan Duniawi yang menjebak dia pada perbudakan. Karena seperti perkataan Abu Yakub As-Susi, “Ikhlas adalah tidak melihatnya ikhlas, siapa yang menyaksikan pada keikhlasannya akan ikhlas, maka sesungguhnya keikhlasannya itu memerlukan kepada ikhlas!“

Karena itu orang-oang arif yang meniti jalan menuju Allah, mengungkapkan sulitnya  mengimplementasikan ikhlas, dan beratnya mewujudkan keikhlasan di dalam jiwa, kecuali Allah memberi kemudahan dirinya untuk ikhlas. Ikhlas itu tak semudah mengucapkan kata-katanya, karena ikhlas ada di antara niat, ucapan, tindakan dan perbuatan seorang hamba dalam menjalani kehidupan.

Menggapai hakikat ikhlas, laksana menyelami lautan yang dalam. Banyak orang yang kehabisan nafas sebelum mencapai dasar lautan, akibatnya banyak yang tenggelam kecuali sebagian kecil saja. Berbahagialah hamba-hamba yang telah mencapai nilai-nilai keikhlasan di hatinya. Karena Allah menjamin tempat kembali yang paling baik buat mereka, menyelamatkan mereka dari segala kesulitan hidup, melapangkan hatinya dan mengangkat beban-beban hidup dipundaknya. Keikhlasan akan menguatkan dan menopang orang-orang yang meniti di jalan Allah. Karena hanya dari Allah lah datangnya pertolongan dan taufiq hidayah, juga hanya kepada-Nyalah kembali semua urusan. Dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong.

Ikhlas adalah proses permurnian diri, bahwa tak ada zat yang patut disembah, tempat mengadu, dan tempat bergantung kecuali Allah. Tak ada jalan lain untuk mengisi kekosongan dan kehampaan spritualitas, kecuali dengan ikhlas. Karena hanya dengan ikhlas lah hati manusia akan kembali tentram dan bahagia. Manusia ikhlas akan senantiasa memancarkan energi positif, yang akan membawanya pada keselamatan dan kesejahteraan hidup.

Ikhlas adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena mustahil sebuah amal diterima oleh Allah tanpa keikhlasan. Ikhlas juga, syarat mutlak dikabulkannya sebuah do’a, karena do’a adalah senjatanya. Suatu sarana yang digunakan seorang mu’min apabila usaha-usaha rasional menemui jalan buntu. Karena tak ada pintu lain yang bisa menolong kecuali pintu Allah. Dan cara mengetuknya melalui do’a, tapi hanya do’a orang-orang ikhlaslah yang akan dipenuhi oleh Allah.

Tanamkanlah keikhlasan dalam hati, seperti yang dicontohkan Rosullullah SAW, para sahabatnya, para ulama, hingga para mukhlisin sampai akhir kiamat nanti. Mereka adalah orang-orang yang telah mengenyahkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong kerakusan terhadap Dunia, dan memurnikan tujuan akhirat.

Ikhlas perlu ditanamkan di hati setiap manusia, agar segala urusan dunia ini dapat berjalan dengan lancar. Karena ikhlas selalu di tuntut membenarkan perintah Allah, meluruskan yang lurus, mebatilkan yang batil, memasyarakatkan kebaikan, menegakkan keadilan, mengenyahkan kedzalimannya, dan membebaskan manusia dari kerusakan-kerusakan yang terjadi di dunia.

Jika tidak ada orang ikhlas di bumi ini, maka kehidupan akan menjadi kacau balau dan lepas kendali. Kemunafikan dimana-mana, manusia akan dikendalikan hawa nafsu, untuk sekedar mengejar kerakusannya pada keduniaannya dan materi, cinta dunia, gila harta, kedudukan, dan kekuasaan akan semakin merajalela, dan firaun-firaun baru akan bermunculan. Dan tak ada yang bisa melepaskan kesia-siaan, kerusakan, dan kerugian tersebut, kecuali orang-orang yang ikhlas. Orang-orang yang bertaat hanya untuk mencari keridhoan Allah, bukan keridhoan Arogansi dan kerakusan manusia, bukan keridhoan hawa nafsu yang merusak. Sungguh, kesempatan manusia hanya akan terwujud dengan ikhlas.

0 komentar:

Poskan Komentar