KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
Selamat Datang dan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Al Mu'izz (Maha Memuliakan)


"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah..." [Q.S. Fathir: 10]

Al Mu'izz secara bahasa berarti memberikan kemuliaan. Allah Al Mu'izz, artinya Allah memberikan kemuliaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki menurut hikmah kebijaksanaan-Nya. Allah Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan akan memuliakan dan mengangkat derajat orang-orang yang baik akhlaknya dan menghinakan derajat orang-orang yang buruk akhlaknya. Allah berfirman,

"Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." [Q.S. Ali 'Imran: 26]

Allah adalah pemilik segala kemuliaan. Karenanya, Allah pulalah yang menganugerahkan kemuliaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Diantaranya, Allah menganugerahkan kemuliaan kepada para rasul dan orang-orang mukmin.

"...Padahal 'izzah (kemuliaan) itu hanya bagi Allah, rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui." [Q.S. Al Munafiqun: 8]

Seharusnya kita menyadari bahwa kemuliaan itu milik Allah. Karenanya, jika kita menginginkan kemuliaan maka taatlah kepada-Nya. Niscaya, Allah akan menganugerahkan kemuliaan kepada kita.

Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya Tuhan kalian berfirman setiap hari, 'Akulah Al Aziz (Yang Maha Mulia) siapa yang menghendaki kemuliaan dunia dan akhirat, hendaklah dia taat kepada Al Aziz."

Jadi siapapun yang ingin mulia dengan sesungguhnya harus dengan rumus tidak boleh bergantung kepada sebab, tetapi bergantung kepada yang memberikan penyebab. Siapapun yang ingin mulia oleh sesuatu yang pasti akan berakhir, maka dia tidak akan mulia. Kemuliaan hakiki adalah kalau kita bergantung kepada yang tidak akan pernah berakhir. Ada orang yang akan merasa mulia apabila mempunyai harta, maka dia akan mengumpulkan harta sebanyak mungkin, dia akan merasa bangga dengan banyak tabungannya, memakai mobil mewah, mempunyai rumah megah dan semua itu akan berakhir. Boleh jadi dia yang meninggalkan hartanya atau hartanya yang meninggalkan dia. Seperti itu semua tidak salah, asalkan semua yang ada pada diri kita menjadi jalan untuk kemuliaan yang hakiki menurut pandangan Allah SWT.

Kalau orang sudah menyukai dengan sesuatu yang kekal, maka mencari harta penuh dengan kejujuran. Karena kejujuran itu kekal nilainya. Kalau sudah dapat harta maka distribusikan dengan zakat, shodaqoh, maka akan kekal. Kalau saudara ingin mulia dengan harta, maka selalu shodaqoh. Semakin banyak orang yang lapar, tidak berpakaian menjadi bisa makan dan berpakaian melalui perantara tetesan keringat yang dapat kita berikan kepada mereka. Ada dua kunci pokok yang perlu kita lakukan:

1. Perbaiki diri terus menerus, karena kita jatuh bukan dari orang lain, tetapi kita jatuh oleh perbuatan diri kita sendiri.

2. Tingkatkan kemampuan supaya kita bisa berbuat lebih baik.

Orang yang bermanfaat itu adalah orang yang bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang lain, selebihnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Jabatan tidak identik dengan kemuliaan, karena tidak sedikit orang yang diberikan jabatan oleh Allah tetapi untuk memperlihatkan kehinaannya, sehingga kuncinya sabar. Sabar ketika diuji dengan kesusahan lebih banyak yang sukses dibanding sabar jika diuji oleh kelapangan. Kalau saudara ingin punya kemuliaan dan saudara mempunyai kedudukan, jangan saudara bersandar dengan kedudukan tersebut. Jadi kedudukan itu untuk mengajak orang banyak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Bukan jabatan yang penting, tetapi nilai manfaat dari jabatan tersebut yang penting.

Jadi kita jangan merasa mulia dengan sesuatu yang tidak kekal, Menurut Imam Ibnu Atthaillah justru kemuliaan itu letaknya kalau kita menyukai sesuatu yang kekal. Itulah yang membuat kita mulia hakiki. Kalau wanita hanya mengandalkan penampilan maka akan berakhir, makin bertambah umur makin turun penampilan fisiknya. Tetapi kalau wanita mengandalkan kemuliaan yang kekal, iman, akhlaq pribadi yang mulia seperti Siti Khotidjah, maka semakin tua semakin menawan dihadapan Rasullullah.

“Inna akraa makum ‘in dallahi atqokum“ – Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Jangan sampai kita bersikap yang berlebihan terhadap orang yang mempunyai pangkat, jabatan dan harta kekayaan. Kita harus bersikap yang proporsional, biasa-biasa saja. Karena boleh jadi orang yang kelihatannya hina menurut pandangan manusia tetapi mulia di sisi Allah SWT.

Kita juga harus memuliakan orangtua kita. Merekalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Memuliakan orangtua dibuktikan dengan berbakti kepada keduanya, tidak menyakiti perasaannya, apalagi durhaka kepadanya.

Akhirnya marilah kita berdoa, "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya hanya milik-Mu pujian, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, Yang Maha Pemberi Anugerah, Sang Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Maha Agung dan Mulia, wahai Dzat Yang Maha Hidup abadi dan senantiasa mengurus makhluk-Nya, sungguh aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka." [H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa'i, dan Tirmidzi]

Sumber:

Rahasia Keajaiban Asmaul Husna oleh Syafi'ie El Bantanie
Asmaul Husna dan 20 Sifat Allah oleh H.F. Rahadian
http://id.wikipedia.org/wiki/Asma%27ul_husna
http://amnah.webnode.com/photogallery/asmaul-husna/al-muizz/
http://10108602.blog.unikom.ac.id/al-mu-izz-al.y6

0 komentar:

Poskan Komentar